
WANITAINDONESIA.CO – Di dalam ajang Indonesia Humanitarian Summit -Public Expose 2025, Dompet Dhuafa akan mengubah penyaluran zakat, infak, sedekah, wakaf (ZISWAF) bukan sekedar hadiah (charity) tetapi lebih ditekankan kepada upaya mewujudkan kemandirian.
Rahmad Riyadi Dewan Pembina Dompet Dhuafa di dalam ajang yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis bekerja sama dengan Nusantara TV menyebutkan laporan bertajuk “Empowerment to The Next Level” dapat diartikan ZISWAF yang disalurkan harus bisa menciptakan kemandirian bagi penerimanya.
“Hal ini sebagai wujud pertanggungjawaban kepada publik serta untuk memastikan amanah yang diberikan donatur disalurkan secara transparan,” ucap Rahmad.
Dia memberikan contoh keberhasilan dalam merealisasikan dana ZISWAF dengan menyalurkan dai ke daerah-daerah 3T. Tak hanya itu Dompet Dhuafa juga berhasil memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan industri seperti diperkebunan nanas di Subang, Jawa Barat.
Kemudian dia juga menyampaikan keberhasilan membangun pelayanan kesehatan secara cuma-cuma melalui rumah sakit terpadu berbasis wakaf, kemudian pendirian sekolah gratis.
“Kami ingin menjadi penyalur ZISWAF yang modern berbasis inovasi dan digital serta memberikan hasil yang berdampak,” ujar Rahmad.
Sedangkan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia Waryono Abdul Ghofur berpesan agar Dompet Dhuafa menjadi pionir sekaligus teladan bagi filantropi Islam yang ada di Indonesia.

Menurut dia banyak dari Lembaga Amil Zakat di Indonesia yang dalam perjalanannya menghadapi dinamika internal sehingga menimbulkan ketidakpercayaan publik.
Abdul Gofur menyebut keberadaan Lembaga Amil Zakat sangat penting karena masih banyak masyarakat miskin yang membutuhkan serta belum semuanya ditangani Negara.
Sebagai contoh program beasiswa bagi fakir miskin yang disiapkan seribu tetapi yang mendaftar jumlahnya puluhan ribu lebih.
Staf Ahli Menteri bidang Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Mariman Darto juga menilai kehadiran filantropi Islam ini sangat penting terutama dalam penanganan bencana. Seperti penanganan banjir bandang di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara sekolah yang berhasil dipulihkan (recovery) 80 persen, sedangkan sisanya masih berlangsung mengingat kondisinya yang parah.
Sedangkan Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta berharap Dompet Dhuafa bisa menjadi lembaga konversi yang mampu mengubah pendapatan menjadi rizki.
“Pendapatan itu tidak bisa dihabiskan semua, sebagian itu merupakan rizki yang bisa disalurkan Dompet Dhuafa,” ucap dia.
Hal ini karena di dalam negara ada hal-hal yang hanya bisa ditangani lembaga filantropi Islam. Negara memiliki keterbatasan karena berbasis anggaran (budget) sedangkan swasta juga serupa berbasis kepada pasar, maka diantara kedua itu ada filantropi yang tidak terikat kepada anggaran mapun komersial. (Gdi)




