WANITAINDONESIA.CO – Momen Hari Raya Iduladha tidak hanya menjadi ajang berbagi, tetapi juga menuntut kepedulian kita terhadap aspek kehalalan dan kesehatan daging yang akan dikonsumsi keluarga maupun masyarakat. Memastikan hewan kurban disembelih sesuai dengan aturan agama sekaligus memenuhi standar kesehatan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah kunci utama agar ibadah kita membawa berkah dan manfaat yang optimal. Dengan memahami prosedur yang benar, kita turut menjaga kualitas gizi serta keamanan pangan dari risiko penyakit yang mungkin terbawa oleh ternak.
Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah memastikan kesejahteraan hewan sebelum prosesi dimulai.
“Penyembelihan yang ihsan (baik) dimulai dari memperlakukan hewan dengan lembut, menggunakan pisau yang sangat tajam untuk meminimalkan rasa sakit, serta memastikan hewan dalam kondisi sehat secara fisik agar daging yang dihasilkan berkualitas baik,” ungkap ahli syariat dan kesehatan hewan dari berbagai sumber.
Berdasarkan kaidah syariat Islam, penyembelih haruslah seorang Muslim yang dewasa (balig) dan berakal sehat. Proses penyembelihan wajib diawali dengan menyebut nama Allah (Basmalah) dan menghadap ke arah kiblat. Secara teknis, penyembelihan harus memutus tiga saluran utama pada leher hewan sekaligus, yakni saluran pernapasan (trakhea), saluran makanan (esofagus), serta dua pembuluh darah besar (vena jugularis dan arteri karotis). Hal ini bertujuan agar hewan mati dengan cepat dan darah dapat keluar secara maksimal (sempurna), sehingga daging lebih higienis dan tidak cepat busuk.
Dari sisi kesehatan publik, Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya penerapan prinsip kebersihan (higiene) dan sanitasi di lokasi penyembelihan. Petugas diharapkan menggunakan alat pelindung diri sederhana seperti apron (celemek), masker, dan sarung tangan. Area penyembelihan harus dipisahkan secara tegas antara area kotor (tempat penyembelihan) dan area bersih (tempat pengulitan dan pemotongan daging). Hal ini sangat krusial untuk mencegah kontaminasi silang antara kotoran hewan dengan daging yang sudah bersih.
Kemenkes juga mengimbau agar daging tidak diletakkan langsung di atas tanah atau lantai tanpa alas yang bersih. Penggunaan kantong plastik bening (transparan) atau wadah ramah lingkungan sangat disarankan, sementara penggunaan kantong plastik hitam hasil daur ulang sangat dilarang karena mengandung zat kimia berbahaya yang bisa berpindah ke daging. Selain itu, jeroan harus dicuci di wadah terpisah dan tidak dicampur dengan daging utama untuk menjaga tingkat keasaman (pH) daging tetap stabil dan terhindar dari kuman.
Melaksanakan kurban dengan tata cara yang benar adalah bentuk penghormatan kita terhadap makna pengorbanan itu sendiri. Saat kita memastikan setiap tetes darah yang mengalir sesuai syariat dan setiap potong daging yang dibagikan terjamin kesehatannya, kita sedang menyalurkan cinta yang murni bagi sesama. Mari jadikan Iduladha tahun ini sebagai momentum untuk lebih teliti dan peduli, karena di balik daging kurban yang bersih dan halal, terdapat doa-doa tulus dan harapan akan keberkahan bagi keluarga Indonesia yang kita cintai. (gdi)





