
WANITAINDONESIA.CO – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan pentingnya peningkatan literasi digital bagi perempuan sebagai langkah strategis dalam membangun ketahanan keluarga di era transformasi digital, (11/05/2026).
Hal tersebut disampaikan Arifah Fauzi saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind) bertema “Penguatan Peran Perempuan dalam Membangun Ketahanan Keluarga dan Bangsa di Era Digital” di Jakarta, Senin.
“Perempuan perlu meningkatkan kapasitas diri agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat. Peran perempuan sangat penting karena mereka merupakan pendidik pertama bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa,” ujar Arifah Fauzi.
Menurutnya, literasi digital yang baik akan membantu para ibu membimbing anak dalam memilah informasi yang benar, sekaligus menanamkan nilai-nilai positif di tengah derasnya arus informasi digital.
“Dengan literasi digital yang kuat, perempuan tidak hanya mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga menjaga keluarga dari berbagai ancaman di ruang siber,” katanya.
Arifah menekankan bahwa perempuan memiliki posisi strategis sebagai pilar keluarga, penggerak pembangunan masyarakat, dan agen perubahan sosial. Karena itu, peningkatan kapasitas dan resiliensi digital perempuan dinilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Ia menjelaskan, Kementerian PPPA terus melakukan berbagai langkah konkret, di antaranya melalui program peningkatan literasi digital bagi perempuan dan ibu rumah tangga, serta mendorong partisipasi perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Selain itu, Kementerian PPPA juga aktif melakukan advokasi kebijakan digital yang berperspektif gender dan menjalankan kampanye pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).
“Ketahanan keluarga juga diperkuat melalui edukasi pengasuhan berbasis hak anak, pemantauan Indeks Kualitas Keluarga, serta penciptaan ruang aman yang bebas dari segala bentuk kekerasan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind) Atifah Hasan mengatakan Rakernas tersebut bertujuan mencari solusi dalam membangun tata kelola ekosistem digital yang lebih aman dan sehat bagi perempuan.
“Era digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan besar, terutama bagi keluarga sebagai unit terkecil masyarakat.Perempuan berada di garis terdepan perubahan, baik sebagai penjaga nilai dalam keluarga maupun sebagai agen perubahan di masyarakat,” ujar Atifah Hasan.
Ia menilai penguatan kapasitas perempuan menjadi langkah penting agar ketahanan keluarga tetap kokoh di tengah derasnya perkembangan teknologi dan informasi digital.
“Jika perempuan tidak diperkuat kapasitas dan posisinya, maka ketahanan keluarga akan melemah,” katanya. (erl)




