
WANITAINDONESIA.CO – Pergolakan kualitas akademik global kini menuntut Indonesia untuk berbenah lebih cepat. Langkah strategis tidak lagi sekadar mengirimkan putra-putri terbaik bangsa ke luar negeri, melainkan menarik kembali potensi besar tersebut agar dapat berakar kuat di tanah air. Strategi jemput bola ini tecermin dalam upaya penguatan program gelar bersama (Joint Degree) dan penelitian bersama (Joint Research) yang diusung sebagai instrumen vital dalam membentuk ekosistem talenta, riset, serta inovasi nasional yang tangguh.
Pengembangan kapasitas sumber daya manusia tidak boleh terhenti pada tahap pencapaian gelar formal semata, melainkan wajib diimbangi dengan wadah yang mampu menampung serta mengoptimalkan kontribusi mereka. Dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Menghubungkan Talenta Global dan Riset Berdampak Berbasis Kolaborasi Kemitraan Pentahelix: Penguatan Joint Degree dan Joint Research untuk Brain Gain Indonesia” di Jakarta, Kamis (27/8/2026), keterhubungan ini menjadi sorotan utama. Agenda ini terselenggara atas kerja sama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, dan Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI).
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, menekankan bahwa ekosistem pendidikan nasional harus mampu mengarahkan potensi yang ada agar berdampak langsung pada pembangunan.
“Pengembangan talenta tidak hanya berkaitan dengan penataan talenta (talent development), tetapi juga bagaimana talenta yang telah dikembangkan dapat berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Karena itu, ekosistem pendidikan tinggi dan riset perlu mampu mendukung pertahanan talenta (talent retention) dan akuisisi talenta (talent acquisition),” tutur Ojat Darojat.
Pandangan senada disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno. Beliau menegaskan bahwa program akademis berstandar dunia memegang peranan krusial dalam memperkuat pengakuan publik global terhadap institusi dalam negeri.
“Gelar bersama (Joint Degree) dapat memperkuat pengalaman akademik internasional sekaligus membantu meningkatkan reputasi perguruan tinggi. Sementara penelitian bersama (Joint Research) dapat memperkuat produksi pengetahuan dan kolaborasi riset yang lebih relevan dengan kebutuhan pembangunan,” ungkap Pratikno.
Meski demikian, data hasil survei Katadata Insight Center (KIC) mengungkapkan adanya celah antara kesiapan infrastruktur dan realisasi di lapangan. Walaupun 89,7 persen institusi yang menjadi responden telah memiliki unit khusus penanganan kerja sama internasional, baru 21,1 persen yang berhasil menjalankan program tersebut secara penuh. Sebagian besar lembaga pendidikan masih berada pada taraf perencanaan awal atau implementasi terbatas.
Tantangan lintas negara seperti penyesuaian kurikulum juga menjadi perintang utama. Sebanyak 68,4 persen responden menyebutkan perbedaan standar akademis antarnegara sebagai hambatan utama, sementara 53,2 persen lainnya terkendala oleh keterbatasan kapasitas sumber daya manusia.
Selain itu, masalah finansial masih membayangi mobilitas akademis, dengan 69 persen responden mengeluhkan persoalan biaya sebagai tantangan terbesar. Padahal, minat perguruan tinggi sangat tinggi, di mana 94,5 persen institusi memiliki program mobilitas internasional dan 96,4 persen meyakini bahwa gelar bersama (Joint Degree) dapat melejitkan daya saing kampus di kancah internasional.
Merespons kendala tersebut, perwakilan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fajar Priyautama, menyatakan bahwa pembenahan aturan terus dilakukan. “Dalam aspek kurikulum, Kemdiktisaintek juga telah memfasilitasi rekognisi kredit bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah di perguruan tinggi mitra di luar negeri,” terang Fajar Priyautama. Kendati demikian, Fajar Priyautama mengakui bahwa pendanaan khusus untuk program ini belum mengalir dari skema pemerintah secara mandiri sehingga kerja sama pembiayaan masih perlu dipacu.
Sisi penguatan riset turut mendapatkan perhatian dari lembaga penelitian nasional. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Edy Giri Rachman Putra, menyampaikan langkah konkret yang tengah disiapkan. “BRIN juga tengah mendorong pengembangan platform kolaborasi riset atau konsorsium riset untuk memperkuat talenta riset dan inovasi nasional. Sejumlah skema kerja sama pendanaan, termasuk dengan LPDP, turut dikembangkan untuk mendukung agenda tersebut,” papar Prof. Edy Giri Rachman Putra. Langkah ini diperkuat oleh penjelasan Direktur Fasilitasi Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Ayom Widipaminto, yang menyoroti pentingnya efektivitas akses anggaran penelitian kolaboratif agar manfaatnya dapat menyasar langsung kebutuhan riil bangsa.
Upaya mempertautkan jejaring ilmuwan, akademisi, dan diaspora ini pada akhirnya menjadi taruhan besar bagi kemajuan peradaban bangsa. Tanpa komitmen bersama dalam memperkuat pendanaan, menyelaraskan aturan, serta merawat iklim riset yang kondusif, potensi emas para talenta terbaik hanya akan menjadi penonton di tengah cepatnya arus modernisasi. Sudah saatnya seluruh elemen bergerak serentak untuk memastikan bahwa setiap pijakan karya ilmuwan Indonesia mampu mengangkasa dan memberikan dampak nyata bagi bumi pertiwi. (Gdi)




