Menjaga Gambut Tetap Basah, Inovasi Deteksi Dini Karhutla BRIN Mampu Cegah Bencana Ekologis

Penanganan kebakaran hutan akibat kemarau berkepanjangan . Kementerian Kehutanan

WANITAINDONESIA.CO – Pengeringan lahan gambut yang kian mengkhawatirkan kini menjadi perhatian serius para peneliti. Untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan yang sering melanda ekosistem vital ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan sebuah teknologi pemantau tinggi muka air tanah atau Ground Water Level. Sistem canggih ini dirancang khusus untuk memantau kondisi hidrologi di kawasan gambut sekaligus memprediksi munculnya titik api sebelum bencana asap meluas.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional, Albertus Sulaiman, menjelaskan bahwa pemantauan ketinggian air tanah memiliki peran kunci sebagai benteng pertahanan utama dari ancaman kebakaran. Lewat pemantauan berkala, potensi bahaya dapat terdeteksi jauh sebelum kepulan asap pertama muncul di permukaan.

Baca Juga :  Inovasi Terbaik Perhelatan BeautyFest 2025, Dari Skin Barrier Turun Ke Microbiome

“Ground Water Level dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini (early warning system) untuk mengetahui kapan lahan mulai berpotensi terbakar,” kata Albertus Sulaiman.

Perubahan muka air tanah menjadi indikator paling krusial dalam memahami karakter alam gambut. Secara alami, lahan gambut memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap dan menyimpan cadangan air dalam jumlah sangat besar. Bencana mulai mengintai saat pembukaan lahan atau pembangunan saluran air (kanal) untuk kebutuhan budidaya dilakukan tanpa perhitungan matang. Ketika saluran tersebut membuat tinggi muka air tanah turun melewati batas kritis, lapisan gambut akan mengering secara masif dan berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut.

Baca Juga :  Inovasi Lilin Sawit buatan BRIN Selamatkan Batik Dari Bahan Baku Impor

“Mengapa lahan gambut bisa terbakar? Karena lahan gambut sangat kering. Ketika kondisi gambut kering, air tidak lagi cukup untuk menjaga kelembapannya,” ucap Albertus Sulaiman.

Dampak dari pengeringan ini tidak hanya terbatas pada bahaya kebakaran semata. Temuan terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkapkan bahwa hutan rawa gambut memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih besar, yaitu memengaruhi pembentukan curah hujan lokal (modulasi hujan lokal) dan menjaga ketahanan iklim global. Ekosistem ini menyimpan cadangan karbon raksasa yang apabila terbakar justru akan terlepas ke udara sebagai emisi karbon berbahaya.

Baca Juga :  Ssst! Berikut Inovasi BRIN Yang Berdampak Langsung ke Masyarakat

“Karena itu, menjaga gambut tetap basah dan sehat tidak hanya penting untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi ekologisnya. Pengkajian hutan rawa gambut adalah pendekatan multi disiplin dan harus menjadi kerjasama berbagai pusat riset di BRIN,” ujar Albertus Sulaiman.

Inovasi penjejak air tanah ini menegaskan bahwa keberlanjutan bumi sangat bergantung pada seberapa sigap manusia menjaga keseimbangan alam. Dengan memanfaatkan data saintifik terkini, upaya penyelamatan paru-paru hijau Indonesia bukan lagi sekadar impian, melainkan langkah nyata untuk memastikan udara bersih dan lingkungan yang aman bagi generasi masa depan. (Gdi)