WANITAINDONESIA.CO – Aroma khas malam yang meleleh di atas wajan kecil selalu menjadi penanda dimulainya proses panjang selembar kain batik. Selama puluhan tahun, para perajin bergantung pada parafin berbasis minyak bumi untuk menggoreskan motif keindahan. Namun, sebuah terobosan baru lahir dari tangan dingin seorang peneliti yang berhasil mengawinkan komoditas unggulan Nusantara dengan warisan budaya dunia melalui formula lilin hayati (biowax) berbahan dasar minyak sawit.
Langkah inovatif ini digagas oleh Agus Triputranto, yang merupakan Peneliti Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Melalui modifikasi struktur trigliserida minyak sawit domestik, ia berhasil melahirkan Bio Paraffin Substitute (BioPAS). Kehadiran inovasi yang telah mengantongi paten resmi sejak dua tahun lalu ini tidak sekadar menjadi bahan alternatif, melainkan sebuah solusi mandiri demi melepaskan ketergantungan industri kreatif dari bahan bakar fosil.
Sinergi antara pohon kelapa sawit dan canting batik ini membawa angin segar bagi ketahanan industri kreatif di tanah air. Dengan kebutuhan lilin batik nasional yang menembus angka sedikitnya 84 ribu ton setiap tahun, ketergantungan pada bahan baku impor menjadi tantangan tersendiri. Sebagai gambaran nyata, produksi batik tulis memerlukan sekitar 165.476 kilogram lilin per bulan, sementara batik cap membutuhkan pasokan masif hingga lebih dari 13,6 juta kilogram dalam periode yang sama.
“BioPAS dikembangkan sebagai substitusi parafin berbasis minyak bumi sehingga industri batik memiliki alternatif bahan baku yang berasal dari sumber daya nasional yang terbarukan,” ujar Agus Triputranto saat memaparkan arti strategis inovasi tersebut.
Formula ini dirancang secara fleksibel agar ramah terhadap berbagai teknik pembuatan batik yang berkembang di masyarakat. Melalui satu formula tunggal, para perajin dapat menggunakannya untuk batik tulis, batik cap, hingga teknik batik lilin dingin yang lebih modern. Karakteristik yang dihasilkan pun menjawab kebutuhan teknis di lapangan, mulai dari daya tembus yang optimal pada pori-pori kain, kemudahan saat menggoreskan motif, hingga kemampuan membentuk garis motif yang tajam atau dikenal dengan istilah ngawat. Lebih dari itu, lilin sawit ini memiliki kelenturan tinggi sehingga tidak mudah retak saat kain dilipat, serta sangat mudah luruh ketika memasuki tahap perebusan atau pelorotan (lorod).
Perjalanan melahirkan BioPAS bukanlah sebuah proses instan yang terjadi dalam semalam. Agus Triputranto merintis riset awal ini sejak periode 2015 hingga 2016, yang kemudian disusul oleh rangkaian pengujian standar pada tahun berikutnya. Setelah melalui uji aplikasi langsung pada kain di tahun 2017, hilirisasi riset berlanjut melalui berbagai kegiatan sosialisasi serta lokakarya (workshop) sepanjang tahun 2019 dan 2021 demi memastikan formula ini benar-benar siap diadopsi oleh ekosistem perajin.
Selain unggul dari sisi performa di atas kain, aspek kelestarian lingkungan menjadi nilai tambah yang tidak boleh diabaikan. Limbah produksi yang dihasilkan oleh lilin hayati ini terbukti jauh lebih rendah karbon dan aman bagi ekosistem air di sekitar rumah produksi, sebuah lompatan besar jika dibandingkan dengan limbah parafin fosil konvensional yang sulit terurai.
“Dengan kebutuhan malam batik nasional yang sangat besar, penggunaan BioPAS berpotensi memberikan penghematan devisa sekaligus meningkatkan serapan produk turunan sawit dalam negeri. Keunggulan utamanya adalah kemampuan diaplikasikan pada berbagai metode pembatikan dengan harga yang lebih kompetitif, sekaligus menawarkan karakteristik teknis yang dibutuhkan para perajin,” pungkas Agus Triputranto penuh optimistis.
Melalui lembaran kain yang kini diwarnai dengan semangat ramah lingkungan, industri batik nasional tidak hanya sekadar melestarikan goresan leluhur. Inovasi ini membuktikan bahwa masa depan tradisi Indonesia justru tersimpan di dalam kebun-kebun sawit kita sendiri, siap untuk digoreskan dari ujung canting menuju pasar dunia. (Gdi)





