
WANITAINDONESIA.CO — Istilah quickie belakangan semakin sering muncul dalam percakapan populer, film, hingga media sosial. Kata ini biasanya merujuk pada hubungan intim yang berlangsung cepat dan spontan, sering kali terjadi di tengah kesibukan sehari-hari pasangan.
Meski terdengar seperti istilah modern, kata quickie sebenarnya sudah lama dikenal dalam bahasa Inggris. Secara harfiah, quickie berarti sesuatu yang dilakukan dengan cepat atau singkat.
Dalam konteks hubungan pasangan, istilah ini mulai populer dalam budaya populer Barat pada pertengahan abad ke-20. Media dan film kemudian ikut memperluas penggunaan kata tersebut hingga akhirnya dikenal secara global.
Fenomena quickie sering diasosiasikan dengan spontanitas. Bagi sebagian pasangan, momen yang tidak direncanakan justru bisa menghadirkan rasa kedekatan yang berbeda dibanding hubungan yang direncanakan dengan panjang.
Namun di sisi lain, quickie juga sering disalahpahami sebagai hubungan yang terburu-buru atau kurang bermakna. Padahal banyak ahli hubungan mengatakan bahwa durasi bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kualitas keintiman.
Psikoterapis hubungan terkenal Esther Perel, yang banyak meneliti dinamika gairah dalam hubungan jangka panjang, menjelaskan bahwa spontanitas dapat menjadi elemen penting dalam menjaga kehidupan romantis pasangan.
“Gairah dalam hubungan sering muncul dari unsur kejutan dan spontanitas.” Ujar Esther Perel, dalam buku _Mating in Captivity: Unlocking Erotic Intelligence._
Menurut Perel, hubungan jangka panjang sering menghadapi tantangan berupa rutinitas yang terlalu stabil. Ketika pasangan terlalu terjebak dalam pola yang sama setiap hari, rasa gairah bisa perlahan berkurang.
Dalam konteks tersebut, momen spontan seperti quickie kadang justru membantu pasangan merasakan kembali kedekatan yang segar dan berbeda dari rutinitas biasa.
Penelitian tentang hubungan pasangan juga menunjukkan bahwa keintiman tidak selalu bergantung pada lamanya waktu yang dihabiskan, tetapi pada kualitas komunikasi dan koneksi emosional antara kedua pihak.
Seksolog dan peneliti hubungan Ian Kerner, penulis buku She Comes First, juga pernah menekankan bahwa hubungan yang memuaskan sering kali lebih berkaitan dengan perhatian terhadap pasangan dibanding sekadar durasi.
“Kualitas pengalaman jauh lebih penting daripada lamanya waktu yang dihabiskan.”
— ucap Ian Kerner dalam sebuah awancara tentang hubungan dan kepuasan pasangan.
Hal ini menunjukkan bahwa quickie tidak selalu berarti hubungan yang kurang bermakna. Bagi sebagian pasangan, momen singkat justru dapat menjadi cara untuk menjaga kehangatan hubungan di tengah kesibukan hidup modern.
Tentu saja, para ahli tetap menekankan pentingnya komunikasi dan persetujuan kedua pihak dalam setiap bentuk hubungan intim.
Tanpa komunikasi yang sehat, spontanitas bisa berubah menjadi ketidaknyamanan bagi salah satu pasangan.
Pada akhirnya, fenomena quickie memperlihatkan bahwa kehidupan intim manusia sangat dipengaruhi oleh dinamika hubungan, waktu, dan konteks kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar hubungan singkat, quickie mencerminkan bagaimana pasangan modern mencari cara untuk tetap menjaga keintiman dan gairah di tengah ritme hidup yang semakin cepat. (GIE)




