WANITAINDONESIA.CO – Langkah kaki di atas lantai batu Kawasan Kota Tua Jakarta kelak tidak hanya akan membawa wisatawan melintasi lorong waktu ke masa lalu, tetapi juga menyongsong masa depan transportasi yang ramah lingkungan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama pengelola kawasan bersejarah ini tengah meramu konsep pembenahan besar-besaran untuk menghadirkan wajah baru yang lebih hijau dan tertata.
Melalui program revitalisasi yang ambisius, kawasan ikonik ini bersiap menerapkan kebijakan kawasan rendah emisi atau Low Emission Zone (LEZ) guna menekan polusi udara secara signifikan. Langkah taktis ini diambil demi menciptakan ruang publik yang nyaman dan memanjakan para pelancong yang ingin menikmati keindahan arsitektur kolonial tanpa gangguan asap kendaraan bermotor.
Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta, Denny Aputra, menjelaskan bahwa pembatasan kendaraan bermotor akan diberlakukan secara menyeluruh begitu seluruh infrastruktur penunjang rampung dibangun. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar untuk mentransformasi Kota Tua menjadi destinasi wisata berkelas global (mendunia) sekaligus memperkokoh identitas sejarah yang melekat kuat di sana.
“Salah satunya kita akan membangun juga LEZ atau Low Emission Zone (Kawasan Rendah Emisi). Jadi kita akan membatasi kendaraan nanti ketika sudah jadi semuanya,” tutur Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta, Denny Aputra, saat memberikan keterangan di tengah riuhnya suasana Kota Tua.
Daya tarik utama dari proyek penataan ulang ini adalah rencana Pemprov DKI Jakarta untuk membangkitkan kembali moda transportasi trem yang legendaris. Jika pada masa lampau kendaraan rel tersebut ditarik oleh kuda atau bertenaga uap, maka ke depan roda-roda besi ini akan bergerak menggunakan tenaga listrik yang bersih dan bebas polusi.
Menurut penjelasan Denny Aputra, jalur trem masa depan tersebut akan memanfaatkan jalur lama yang sudah ada. Lintasan ini diproyeksikan membelah kawasan wisata Kota Tua dan terhubung secara terintegrasi (saling menyatu) dengan sejumlah titik strategis, termasuk area penting di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa. Kendati demikian, ketetapan detail mengenai peta rute yang akan dilewati masih harus menunggu keputusan final dari pihak pemerintah.
Pengembangan moda transportasi berbasis rel ini sengaja diarahkan untuk menggabungkan tiga pilar utama, yakni nilai sejarah, potensi pariwisata, dan pemanfaatan transportasi ramah lingkungan. Guna mempermudah aksesibilitas pengunjung, Kota Tua juga akan ditopang oleh sistem integrasi transportasi massal modern yang menghubungkan jaringan Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT), layanan bus Transjakarta, serta Stasiun Jakarta Kota.
Revitalisasi menyeluruh ini dinilai sangat krusial bukan sekadar untuk mempercantik fisik kawasan, melainkan untuk menghidupkan kembali denyut sejarah awal mula transportasi Jakarta serta menjamin kenyamanan maksimal bagi para pelancong domestik maupun mancanegara.
“Pak Gubernur melihat bahwa itu menjadi moda transportasi awal, membangun sejarahnya kembali, dan memastikan revitalisasi Kota Tua di 2029 ini menjadi destinasi Jakarta, kota global,” ucap Denny Aputra dengan nada optimis mengenai visi masa depan Jakarta.
Hingga saat ini, prioritas utama Pemprov DKI Jakarta masih tertuju pada penyelesaian mega proyek MRT jalur Lebak Bulus menuju Kota. Pengerjaan transportasi bawah tanah tersebut ditargetkan dapat rampung sepenuhnya dan mulai beroperasi pada awal tahun 2029 mendatang.
Menatap tahun 2029, Kota Tua Jakarta tidak lama lagi akan menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang inklusif. Di mana modernitas transportasi masa depan dan kelestarian warisan sejarah berpadu selaras, mengajak siapa saja untuk kembali datang dan merajut kisah baru di sudut kota yang tak pernah kehilangan pesonanya ini. (Gdi)





