
WANITAINDONESIA.CO – Bicara soal profesi dokter spesialis, yang terlintas di benak kita mungkin adalah ruang praktik ber-AC yang nyaman atau rumah sakit yang steril. Namun, jalan sunyi dan ekstrem justru dipilih oleh seorang perempuan hebat bernama Dr. dr. Tri Maharani, M.Si, Sp.EM, Subsp.Toxink.
Ketika tak banyak orang berani melirik bidang penuh risiko ini, ia justru mendedikasikan hidupnya berada di garda terdepan penanganan gigitan ular berbisa di Indonesia. Atas dedikasi luar biasa yang menembus batas rasa takut ini, dr. Tri baru saja dianugerahi penghargaan bergengsi Liputan 6 Awards, sebuah apresiasi nyata yang juga digaungkan oleh Kementerian Kesehatan RI Dilansir dari unggahan video di akun Instagram resmi Kemenkes RI (@kemenkes_ri).
Di tengah sunyinya malam, dering telepon sering kali menjadi penentu seutas nyawa di pelosok Nusantara. Bagi dr. Tri, panggilan darurat mengenai korban kritis akibat gigitan ular berbisa sudah menjadi detak nadinya sehari-hari.
Indonesia adalah rumah bagi sekitar 360 jenis ular, di mana 77 di antaranya membawa bisa yang mematikan. Ironisnya, di tengah kepungan bahaya laten ini, negeri kita hanya memiliki satu-satunya dokter subspesialis toksinologi ular berbisa yang diakui dunia. Di seluruh dunia pun, hanya ada 53 dokter dengan keahlian langka ini, dan dr. Tri adalah satu-satunya benteng pertahanan yang dimiliki Indonesia.
Perjalanan perempuan tangguh kelahiran Kediri ini menjadi seorang toksinolog kawakan tidak terjadi begitu saja. Jauh sebelum dirinya dikenal sebagai penasihat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ia adalah seorang dokter umum biasa. Namun, sebuah tragedi kelam di tahun 2010 mengubah hidupnya selamanya.
Kala itu, dr. Tri kedatangan seorang pasien yang sekarat akibat gigitan ular berbisa. Di hadapan tubuh yang perlahan membiru dan melemah, ia terhenyak dalam ketidakberdayaan. Ilmu kedokteran umum yang dikuasainya saat itu tak mampu menahan laju racun yang menjalar cepat merusak organ vital pasien. Nyawa sang pasien melayang tepat di depan matanya.
Peristiwa tragis itu meninggalkan luka mendalam sekaligus cambuk bagi jiwanya. Ia tersadar bahwa pemahaman medis di Indonesia mengenai tata laksana keracunan bisa ular masih sangat minim.

“Saya tidak mau lagi ada nyawa yang hilang hanya karena kita tidak tahu caranya menolong,” bisik nuraninya kala itu.
Terpanggil oleh rasa kemanusiaan yang menggebu, ia membulatkan tekad: ia harus menguasai ilmu racun. Menggunakan biaya pribadinya yang tak sedikit, ia mulai melanglang buana ke berbagai belahan dunia, mengambil kursus, dan menempuh pendidikan lanjutan demi menjinakkan misteri di balik toksin hewan berbahaya.
Jika merunut ke belakang, takdir dr. Tri memang seakan dibentuk untuk berpetualang di garda terdepan kegawatdaruratan. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, ia sempat menempuh S2 Imunologi di Universitas Airlangga (UNAIR) dengan penelitian brilian mengenai virus borna pada penderita gangguan jiwa.
Jalan karirnya hampir saja berlabuh di laboratorium yang tenang dan mapan ketika ia mendaftar S3 Patologi Klinik di UNAIR. Namun, sebuah tes psikologi mengubah segalanya. Sang psikolog yang mengujinya melihat percikan kepribadian dr. Tri yang dinamis dan berjiwa petualang.
“Yakin mau di sini? Dokter Tri ini suka berpetualang, tidak cocok kalau cuma mengurusi sampel darah dan urin di lab. Anda harus bertemu langsung dengan manusia,” ujar psikolog tersebut memberi nasihat.
Nasihat itu bak ramalan yang menjadi kenyataan. Pada tahun 2007, ia memutuskan banting setir mengambil program spesialis Emergency Medicine (kedokteran gawat darurat). Kombinasi langka antara ilmu imunologi, kedokteran gawat darurat, serta biomedik yang ia pelajari hingga ke Belgia, akhirnya membentuk fondasi kokoh yang menjadikannya pakar toksinologi papan atas.
Bagi dr. Tri, musuh terbesar di lapangan bukan hanya keterbatasan obat, melainkan mitos keliru yang telanjur mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Ketika seseorang tergigit ular, mayoritas warga masih lebih mempercayai dukun, menyemburnya dengan jampi-jampi, atau melakukan tindakan pertolongan pertama yang justru berakibat fatal.

Tindakan klasik seperti mengikat luka gigitan terlalu kencang (tourniquet), menyayat kulit, hingga menyedot racun dengan mulut adalah kesalahan besar. Dokter Tri dengan tegas meluruskan bahwa bisa ular tidak menyebar melalui pembuluh darah, melainkan melalui kelenjar getah bening.
Mengikat atau menyayat luka justru memicu kerusakan jaringan lokal yang parah, pembusukan, bahkan berujung pada amputasi hingga kematian. Metode benar yang selalu ia kampanyekan adalah imobilisasi: membuat bagian tubuh yang tergigit benar-benar tidak bergerak (seperti penanganan patah tulang) menggunakan bidai atau kayu, agar racun tidak menjalar, sembari segera membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan Serum Anti Bisa Ular (SABU).
Kini, sebagai bagian dari Kementerian Kesehatan RI, dr. Tri mengalirkan seluruh dedikasinya ke dalam sistem ketahanan kesehatan nasional. Beliau adalah otak di balik penyusunan buku pedoman penanganan kasus gigitan ular dan keracunan alami nasional.
Menyadari luasnya wilayah kepulauan Indonesia, dr. Tri juga menginisiasi berdirinya Remote Envenomation Consultancy Services (RECS) Indonesia dan mengembangkan aplikasi Virtual Poison Center. Lewat platform digital ini, dokter dan tenaga medis di daerah terpencil bisa berkonsultasi virtual secara real-time dengannya demi mendapatkan panduan terapi darurat yang akurat. Tak jarang, dr. Tri menyisihkan gaji pribadinya untuk mendatangkan pasokan anti-bisa ular dari luar negeri demi menolong pasien kurang mampu.
Meski telah menerima berbagai penghargaan prestisius dan berkontribusi langsung bagi panduan WHO, dr. Tri tidak lekas berpuas diri. Ibu dari ilmu toksinologi Indonesia ini masih menyimpan satu mimpi besar: berdirinya Pusat Racun Nasional (National Poison Center) yang mumpuni di Indonesia.
Kisah dr. Tri Maharani adalah bukti nyata dari kekuatan tekad seorang perempuan. Dari sebuah rasa tidak berdaya di masa lalu, ia bangkit menjadi mercusuar harapan bagi ratusan ribu korban gigitan ular di Indonesia. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa empati yang mendalam, jika dipadukan dengan ilmu pengetahuan yang kokoh, mampu menaklukkan ketakutan terbesar dan menyelamatkan kehidupan.
Artikel ini disarikan dari laporan BBC Indonesia, dokumen resmi Kementerian Kesehatan RI, serta arsip wawancara UNAIR News. (Des)




