Membangun Ekonomi Hijau Lewat Pengelolaan Hutan Berbasis Pangan

Alam yang lestari erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Mengubah wajah kawasan hutan menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan kini bukan lagi sebatas konsep di atas kertas, melainkan sebuah gerakan nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Melalui pendekatan ekonomi hijau, kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan warga kini dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan. Pola kolaborasi baru ini membuka kesempatan besar bagi optimalisasi lahan hutan agar menjadi lebih produktif sekaligus ramah lingkungan.

Langkah strategis ini dipertegas oleh pemerintah melalui penguatan program Serapan Bersih Sektor Kehutanan dan Penggunaan Lahan 2030 (Forestry and Other Land Uses Net Sink 2030 atau disingkat FOLU Net Sink 2030).

Baca Juga :  BSI Maslahat Respon Cepat Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera

Hanif Faisol Nurofiq selaku Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, menjelaskan bahwa program berskala nasional ini tidak hanya dirancang sebagai agenda pengendalian emisi karbon dunia, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi rakyat melalui skema perhutanan sosial dan usaha kehutanan berbasis pangan yang melibatkan masyarakat lokal secara aktif.

Implementasi nyata dari konsep besar ini telah berjalan di tingkat daerah, salah satunya di Provinsi Kalimantan Selatan. Fathimatuzzahra selaku Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan, mengungkapkan bahwa program tersebut telah diselaraskan ke dalam berbagai kegiatan di sejumlah wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan. Penyelarasan ini menyentuh langsung kelompok masyarakat bawah yang mengandalkan hutan sebagai sumber kehidupan utama mereka.

Baca Juga :  Generasi Muda Energi Perubahan dalam Selesaikan Tantangan Pangan dan Gizi

“Program tersebut meliputi rehabilitasi hutan dan lahan, penanaman dan pemeliharaan tanaman, fasilitasi Kelompok Tani Hutan, hingga meninjau dan evaluasi kegiatan serapan bersih (FOLU) untuk menjaga fungsi ekologis kawasan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan secara berkelanjutan,” papar Fathimatuzzahra secara runtut.

Keberhasilan gerakan ekonomi hijau ini tentu tidak dapat dicapai jika pemerintah berjalan sendirian. Dibutuhkan sumbangsih pemikiran, inovasi, serta riset mendalam dari dunia akademik untuk melahirkan metode-metode pengelolaan hutan yang lebih adaptif.

Prof Ahmad Alim Bachri selaku Rektor Universitas Lambung Mangkurat, menegaskan bahwa tantangan strategis ini menuntut kolaborasi yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat melalui penguatan pendidikan serta pengembangan sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan zaman.

Baca Juga :  Dukungan Moril dan Pangan Sehat Disalurkan, Lurah Setia Budi Bantu Warga Penderita Lambung

Pada akhirnya, sebuah program lingkungan akan terasa hambar jika tidak membawa perubahan positif bagi kehidupan manusia di dalamnya. Melalui sinergi ekonomi hijau ini, masyarakat sekitar hutan tidak lagi sekadar menjadi penonton di pinggir kawasan, melainkan menjelma menjadi aktor utama yang merawat tanah kelahiran mereka.

Dari tangan-tangan para petani hutan inilah, kelestarian alam dijaga dan dari keringat mereka pula, kesejahteraan keluarga dapat diwujudkan dengan cara yang terhormat dan selaras dengan alam. (Gdi)