Lima Dekade Atonik Menjadi Sahabat Setia Petani Meraih Sukses

Langkah kaki para petani di pematang sawah Karawang hingga dataran tinggi di Timur Indonesia menyimpan sebuah cerita tentang kesetiaan. Di balik rimbunnya bulir padi yang menguning dan ranumnya buah-buahan, terselip kisah tentang cairan nutrisi asal Jepang yang telah menjadi saksi perjalanan pangan nusantara.

WANITAINDONESIA.CO – Langkah kaki para petani di pematang sawah Karawang hingga dataran tinggi di Timur Indonesia menyimpan sebuah cerita tentang kesetiaan. Di balik rimbunnya bulir padi yang menguning dan ranumnya buah-buahan, terselip kisah tentang cairan nutrisi asal Jepang yang telah menjadi saksi perjalanan pangan nusantara.

Senin, 25 Mei 2026, di Four Seasons Hotel Jakarta, PT OAT Mitoku Agrio bakal menggelar perayaan bertajuk “Perayaan Emas” (Golden Anniversary) untuk mensyukuri perjalanan panjang Atonik yang kini genap berusia setengah abad di bumi pertiwi.

Lebih dari sekadar produk zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT), Atonik telah menjelma menjadi detak jantung harapan bagi para pahlawan pangan Indonesia sejak tahun 1976. Hubungan yang terbangun bukan lagi sebatas produsen dan konsumen, melainkan persahabatan lintas generasi yang dimulai dari kerja sama apik antara OAT Agrio Co., Ltd. asal Jepang dengan PT Mitoku Sukses Makmur.

Direktur PT OAT Mitoku Agrio, Suryadi Jaya kepada media, Jumat, memberikan sebuah perumpamaan yang begitu akrab di telinga kita saat ditemui di kantor pusat Jakarta.

Baca Juga :  Aktor Marthino Lio Bintangi Film Seribu Bayang Purnama, Singgung Problematika Petani Lokal

Ia menggambarkan pentingnya nutrisi ini dalam ekosistem tanaman dengan cara yang sangat manusiawi.

“Ibarat manusia yang butuh makanan pokok, kalau nasi adalah pupuknya, maka produk kami ini adalah lauknya yang berfungsi sebagai penambah nafsu makan bagi tanaman,” jelas Suryadi.

Filosofi ini terbukti nyata saat Indonesia mencatatkan sejarah manis meraih swasembada pangan pada tahun 1984. Saat itu, Karawang dan Bekasi yang menjadi gudang padi nasional merasakan langsung sentuhan inovasi ini.

Bahkan, Suryadi mengenang bagaimana keberhasilan budidaya padi kala itu membuat Bupati Karawang pada masanya terkejut melihat peningkatan hasil panen yang luar biasa setelah melalui berbagai percobaan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB).

Seiring berjalannya waktu, tantangan pertanian semakin dinamis. Di Pulau Jawa, lahan pertanian kian menyempit dan generasi muda di daerah penyangga seperti Karawang kini lebih memilih bekerja di sektor industri dengan upah tetap bulanan.

Menanggapi pergeseran ini, Atonik mulai melebarkan sayap pemasarannya ke wilayah Timur Indonesia sejak masa pandemi tahun 2020 silam. Di sana, mereka fokus mengedukasi petani agar tidak boros dalam penggunaan nutrisi, karena penggunaan yang tepat guna justru mampu menghasilkan kualitas panen kelas wahid.

Baca Juga :  Petani Milenial Dorong Trasformasi Pertanian

Kualitas memang menjadi kunci utama yang dijaga oleh Alexander H. Effendie selaku Direktur PT OAT Mitoku Agrio. Baginya, kepercayaan petani adalah aset yang tak ternilai harganya. Ia menegaskan bahwa konsistensi yang dirasakan petani dari musim ke musim adalah fondasi yang membuat mereka bertahan hingga dua generasi distributor saat ini.

Hal senada diungkapkan oleh Kazuya Kamba yang menekankan bahwa kolaborasi teknologi antara Jepang dan Indonesia haruslah memberikan manfaat berkelanjutan bagi kesejahteraan petani di lapangan.

Sayangnya, jalan mulus ini sering kali diganggu oleh keberadaan produk tiruan atau palsu yang sangat merugikan. Untuk melindungi para petani, perusahaan secara aktif menggandeng pihak berwajib dan akademisi dari IPB untuk membuat lahan percontohan (demplot) sebagai sarana edukasi.

Suryadi Jaya menambahkan bahwa nutrisi ini bekerja layaknya imunisasi yang diberikan sejak awal pembenihan. “Tanaman menjadi lebih sehat dan kuat. Seperti kasus di Kediri, saat virus menyerang, tanaman yang diberikan nutrisi sejak dini terbukti lebih tahan terhadap penyakit,” ungkapnya meyakinkan.

Baca Juga :  Mengulang Sukses, Petualangan Sherina 2 Menangkan Hati Masyarakat

Seiring tren pertanian perkotaan (urban farming) yang marak di kota besar seperti Jakarta dan Bandung, produk ini juga mulai merambah ke lahan-lahan sempit berukuran satu kali satu meter. Meski banyak yang menjadikannya sebagai hobi atau kegiatan sampingan saat pandemi, potensi produktivitas di lahan terbatas tetap memberikan harapan baru bagi ketahanan pangan keluarga.

Menutup perbincangan, Suryadi Jaya menekankan bahwa esensi dari perayaan 50 tahun ini adalah tentang rasa syukur dan semangat untuk terus mendampingi. “Inovasi pertanian harus selalu hadir dekat dengan tantangan yang dihadapi petani agar mampu memberikan manfaat nyata bagi produktivitas mereka,” tutupnya.

Di balik setiap suapan nasi yang kita nikmati hari ini, ada peluh petani dan dukungan nutrisi yang telah bertahan selama lima dekade. Sebuah pengingat bagi kita semua, bahwa mencintai pertanian berarti juga menjaga harapan dan memuliakan mereka yang setia merawat tanah air dengan sepenuh hati. (wib)