
WANITAINDONESIA.CO — Menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga lintas generasi kerap menjadi tantangan besar. Banyak orang tua bekerja keras mengumpulkan aset, namun sering kali melupakan satu hal penting, yaitu mempersiapkan mental dan kemampuan finansial ahli warisnya.
Laporan riset terbaru dari Sun Life Asia bertajuk “Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money” merilis fakta mengejutkan. Riset yang diluncurkan pada 28 September 2026 ini mengungkapkan bahwa ancaman terbesar dalam menjaga kekayaan keluarga bukanlah krisis pasar atau konflik internal semata, melainkan ketidaksiapan generasi penerus dalam mengelola aset. Dalam studi tersebut, sebanyak 52 persen responden mengaku sangat mengkhawatirkan kesiapan anak-anak mereka dalam mengelola warisan. Angka ini mengalahkan kekhawatiran terhadap perubahan kondisi pasar yang berada di angka 49 persen maupun potensi perselisihan keluarga sebesar 44 persen. Meskipun perencanaan warisan tertulis meningkat dua kali lipat sejak 2025 dari 10 persen menjadi 22 persen, hanya 20 persen responden yang merasa benar-benar siap untuk menyerahkan estafet kekayaan mereka saat ini.
Menariknya, masyarakat Indonesia memiliki sudut pandang yang sangat erat dengan penguatan kualitas sumber daya manusia. Sebanyak 74 persen keluarga yang merencanakan warisan ingin menyertakan nilai-nilai moral, pengetahuan, dan pelajaran hidup. Khusus di Indonesia, pendidikan menempati posisi paling istimewa. Hal ini terbukti dari 65 persen responden Indonesia yang menempatkan kesempatan pendidikan sebagai salah satu dari tiga prioritas utama yang wajib diwariskan. Selain itu, sebanyak 61 persen responden yang memiliki aset finansial berencana mengalokasikannya secara khusus untuk membiayai pendidikan anak dan cucu. Bagi keluarga Indonesia, uang dan properti tetap penting, tetapi sarana pendidikan dan pembentukan karakter dipandang sebagai benteng utama agar generasi penerus dapat mandiri serta membuka peluang jangka panjang.
”Perencanaan warisan tidak cukup hanya dengan dituangkan secara tertulis. Keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dari kekayaan yang diwariskan, prinsip yang menjadi panduan dalam mengelolanya, serta bagaimana generasi berikutnya dapat meneruskan tanggung jawab tersebut,” ujar Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia.
Riset ini juga menyoroti adanya kecemasan yang cukup tinggi pada kelompok usia muda. Sebanyak 76 persen Gen Z dan Milenial khawatir kekayaan keluarga tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan kekhawatiran Gen X sebesar 66 persen dan Baby Boomers sebesar 59 persen. Kecemasan ini dipicu oleh dua faktor utama, yaitu kurangnya pemahaman finansial sebesar 27 persen serta timbulnya krisis kepercayaan diri sebesar 25 persen akibat kekhawatiran generasi muda merasa terbebani saat mengelola aset yang terlampau besar. Namun di sisi lain, generasi muda justru paling optimistis. Sebanyak 65 persen Gen Z dan 67 persen Milenial percaya bahwa jika dikelola dengan bijak, kekayaan keluarga mampu memberikan dampak positif hingga beberapa generasi.
Studi Sun Life Asia turut membedakan prioritas antara masyarakat umum dengan kelompok masyarakat berpenghasilan atau kekayaan sangat tinggi (High-Net-Worth Individuals). Bagi masyarakat umum dan Indonesia pada khususnya, konflik internal keluarga sebesar 58 persen di Indonesia serta kesiapan anak sebesar 53 persen menjadi ketakutan nomor satu. Sebaliknya, pada kelompok High-Net-Worth Individuals, hanya 20 persen yang mencemaskan konflik keluarga. Perhatian utama mereka justru lebih berfokus pada risiko kesalahan keputusan investasi sebesar 37 persen, kompleksitas hukum dan perpajakan sebesar 29 persen, serta kepercayaan terhadap lembaga penasihat keuangan yang mencapai 40 persen.
Untuk menghindari fenomena harta habis di tangan generasi kedua atau ketiga, Sun Life Indonesia membagikan kiat bagi para orang tua. Langkah pertama adalah membuka komunikasi sejak dini dengan melibatkan anak dalam diskusi keuangan keluarga secara bertahap guna membangun pemahaman serta empati finansial. Selanjutnya, orang tua disarankan untuk mewariskan keterampilan dan bukan hanya aset semata, yaitu dengan memberikan akses pendidikan finansial terbaik dan menanamkan nilai kerja keras agar mereka paham cara memutar uang. Terakhir, penggunaan bantuan profesional seperti penasihat keuangan tepercaya (financial planner) dapat membantu merancang legalitas warisan sekaligus menjadi mediator yang netral antargenerasi.
”Mewariskan kekayaan mungkin merupakan keputusan yang relatif mudah, tetapi mempersiapkan seseorang untuk mengelolanya membutuhkan proses yang jauh lebih panjang,” tutup Albertus Wiroyo. (Des)




