Studi Terbaru HCC Menemukan, 60 Persen Anak Muda Melakukan Swadiagnosis Saat Alami Keluhan Kesehatan

Fenomena swadiagnostik atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kini menjadi perhatian serius.

WANITAINDONESIA.CO – Fenomena swadiagnostik atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kini menjadi perhatian serius. Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menemukan bahwa hampir 60% anak muda usia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan, dan tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.

Penelitian ini dilakukan pada Maret–Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang
melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Menurut Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, fenomena
ini tidak bisa dipandang sekadar perubahan perilaku digital biasa. “Swadiagnostik saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Dr. Ray.

Studi HCC dengan research associate Yoli Farradika ini menemukan bahwa Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti website kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.

Fenomena ini sejalan dengan istilah global cyberchondria, yaitu kondisi meningkatnya
kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet.
Yang menjadi perhatian, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36% responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter, serta 27% mengabaikan  resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet.

Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa 57% hasil swadiagnostik ternyata dikonfirmasi  benar oleh dokter. Menurut Dr Ray, temuan ini menjelaskan mengapa perilaku swadiagnostik  semakin menguat. “Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti  benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk  ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenarnya yang dinaggap cocok dengan  dokter itu bsia jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis” terang Dr. Ray yang sering memberi edukasi lewat akun instagram @ray.w.basrowi ini.

Penelitian juga menunjukkan bahwa responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnostik dibanding kelompok lainnya.

Menurut HCC, hal ini menggambarkan adanya kelelahan sistemik (system fatigue) di masyarakat  urban modern. “Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre,  biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat,  lebih murah, dan terasa lebih personal,” ujar Dr. Ray yang merupakan pengajar kedokteran komunitas ini.

Penelitian juga menemukan bahwa lebih dari separuh responden merasa swadiagnosis lebih
nyaman dibanding datang langsung ke fasilitas kesehatan karena dianggap lebih praktis, lebih  hemat biaya, dan tidak perlu antre. Menurut HCC, fenomena ini menjadi sinyal penting bahwa  sistem kesehatan modern tidak lagi hanya bersaing dengan penyakit, tetapi juga dengan banjir  informasi digital.

“Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet.  Itu hampir mustahil. Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital,  dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung  jawab,” tambah Dr. Ray.

HCC menilai bahwa peningkatan literasi kesehatan digital perlu menjadi agenda nasional baru,  terutama di era AI dan algoritma media sosial yang semakin memengaruhi keputusan kesehatan  masyarakat sehari-hari.

Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa meskipun kepercayaan terhadap dokter masih relatif  tinggi, masyarakat kini semakin menjadikan internet sebagai alat rekonfirmasi terhadap  diagnosis dan terapi medis. (wib)