
WANITAINDONESIA.CO – Menjaga berat badan ideal sering kali menjadi tantangan emosional sekaligus fisik yang berat bagi kaum perempuan, terutama pada fase pascamelahirkan. Perubahan hormon, melambatnya metabolisme, hingga tuntutan mengurus keluarga sering kali diperparah oleh stigma sosial di media sosial.
Tekanan inilah yang sempat dirasakan oleh penyanyi Vicky Shu setelah melahirkan anak keduanya, di mana ia harus berhadapan dengan tindakan body shaming dan mom shaming dari warganet.
Di tengah situasi tersebut, figur publik ini memilih untuk tetap mengutamakan kesehatan jangka panjangnya dengan cara yang aman dan terukur. Ketika publik sempat berspekulasi bahwa transformasi fisik cepatnya terjadi akibat operasi potong lambung, Vicky meluruskan bahwa keberhasilannya merupakan hasil dari konsistensi menjalani program manajemen berat badan berbasis medis bersama Halofit by Halodoc selama delapan minggu.
Langkah tersebut ia padukan secara disiplin dengan kebiasaan aktif berjalan kaki setiap hari serta menata ulang pola konsumsinya.
Vicky mengungkapkan bahwa keputusannya memilih program ini didasari oleh keinginan untuk berinvestasi pada kesehatan fisik serta mental, bukan sekadar mengejar angka penurunan berat badan demi memenuhi standar kecantikan orang lain. Pendekatan klinis yang dapat diakses secara daring sangat membantu dirinya yang memiliki mobilitas tinggi sebagai seorang ibu sekaligus wanita karier.
Selama program, ia mendapatkan pengawasan intensif dari tim dokter, rencana menu makan personal yang dirancang oleh ahli gizi, serta terapi medis berupa glucagon-like peptide-1 (GLP-1) sesuai indikasi klinis untuk membantu mengontrol nafsu makan secara aman.
Realitas yang dihadapi Vicky mencerminkan urgensi penanganan obesitas di Indonesia yang membutuhkan pendekatan personal, bukan metode instan atau generik.
Data Cek Kesehatan Gratis dari Kementerian Kesehatan hingga akhir tahun 2025 menunjukkan sebuah fakta mengkhawatirkan, yaitu satu dari tiga orang Indonesia mengalami obesitas sentral atau penumpukan lemak perut yang berisiko memicu penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. Di sisi lain, studi dari Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) APAC tahun 2022 menemukan kesenjangan besar, di mana hanya 43 persen individu dengan obesitas yang pernah mengonsultasikan kondisinya kepada tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir.
Kesenjangan penanganan medis inilah yang berusaha dijembatani melalui kehadiran layanan klinik digital. Vice President Consultation and Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim, menegaskan bahwa penanganan obesitas seharusmya berfokus pada pembangunan kesadaran dan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan.
Berdasarkan data internal mereka, mayoritas masyarakat awalnya hanya berfokus pada pengaturan pola makan secara mandiri. Oleh karena itu, pendekatan komprehensif yang menggabungkan edukasi, pendampingan penuh dokter spesialis serta ahli gizi, teknologi, hingga terapi medis berbasis bukti ilmiah menjadi esensial untuk membimbing masyarakat melakukan diet yang aman.
Melalui perjalanan transformasi ini, para perempuan diharapkan dapat lebih berdaya dalam mengambil keputusan terbaik bagi tubuh mereka sendiri tanpa harus terikat oleh tekanan sosial.
Menghargai proses penurunan berat badan yang sehat dan didampingi oleh ahlinya merupakan bentuk apresiasi tertinggi terhadap diri sendiri, demi mewujudkan kualitas hidup yang seimbang antara raga yang bugar dan jiwa yang bahagia. (Gdi)




