WANITAINDONESIA.CO – Hamparan selendang biru yang mengepung ribuan pulau di Indonesia kini sedang memanggil kepedulian bersama. Laut bukan sekadar bentangan air asin yang luas, melainkan urat nadi kehidupan yang menyimpan kekayaan sekaligus kerentanan. Menyadari beban berat yang dipikul oleh laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memanfaatkan momentum peringatan Hari Laut Sedunia untuk mengetuk hati seluruh elemen masyarakat agar tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan penggerak aktif dalam memulihkan kesehatan ekosistem laut.
Di bawah langit Peninsula Island, Badung, Bali, pada hari Minggu, sebuah komitmen besar kembali digaungkan. Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, A. Koswara, mengajak asosiasi, dunia usaha, hingga masyarakat umum untuk memperkuat komitmen menjaga laut melalui implementasi kebijakan ekonomi biru. Langkah ini dirasa krusial karena wilayah perairan yang sedemikian luas mustahil bisa dirawat oleh satu pihak saja.
“Ini gambaran dari wujud kolaborasi terhadap tanggung jawab mengelola laut secara baik karena pemerintah tidak bisa sendiri mengelola laut yang begitu luas, perlu keterlibatan semua pihak dan hari ini semua mitra terwujud momentum dalam rangka peringatan Hari Laut Sedunia,” ujar A. Koswara.
Pemerintah sendiri telah merumuskan lima pilar kebijakan ekonomi biru. Dua di antaranya berfokus pada pengembangan ekonomi langsung, yakni pemanfaatan perikanan tangkap yang terukur serta penguatan perikanan budidaya berkelanjutan. Sementara itu, tiga pilar lainnya berorientasi penuh pada perlindungan lingkungan, mulai dari perluasan kawasan konservasi (pelestarian), perlindungan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, hingga pengelolaan persampahan.
Lebih lanjut, A. Koswara menegaskan bahwa agenda mendesak yang menjadi prioritas utama saat ini meliputi pengurangan dan penanganan sampah yang telah mencemari perairan, program proteksi (perlindungan), serta pengawasan intensif terhadap pulau-pulau kecil. Pekerjaan rumah ini merupakan kerja kolaboratif yang melibatkan sinergi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan lembaga swadaya masyarakat.
Wujud nyata dari sinergi tersebut teperikan dalam rangkaian peringatan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day (WOD) dan Hari Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle Day (CT Day) 2026 di Bali. Acara ini menjadi panggung kolaborasi yang mempertemukan KKP, Pemerintah Provinsi Bali, WWF Indonesia, GIZ, Coral Triangle Center, Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security, serta STC. Mereka menghadirkan beragam produk inovasi kelautan dan pameran edukasi.
Suasana peringatan menjadi semakin hidup dengan adanya ruang diskusi ilmiah yang membedah upaya konservasi biodiversitas (keanekaragaman hayati) laut Indonesia, dampak perubahan iklim, hingga pencegahan perdagangan ilegal satwa laut. Tak kalah menarik, dipaparkan pula teknologi mitigasi bycatch (tangkapan sampingan) serta praktik perikanan berkelanjutan. Edukasi pun dikemas ramah keluarga lewat lokakarya (bengkel kerja) kreatif, seperti pembuatan layang-layang, seni daur ulang, pembuatan kerajinan dari tanah liat terumbu karang (coral clay), hingga lomba menggambar untuk anak-anak.
Melalui perhelatan ini, KKP berharap adanya penguatan tindakan bersama, terutama dalam menyukseskan program Laut Sehat Bebas Sampah (Laut Sebasah). Tantangan terbesar saat ini memang berakar dari aktivitas manusia di daratan yang dampaknya dirasakan langsung oleh biota samudera.
Fakta mengejutkan diungkapkan oleh Direktur Konservasi WWF Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki. Ia memaparkan data bahwa sebesar 90 persen sampah plastik yang mencemari laut sebenarnya berasal dari aktivitas di daratan. Oleh karena itu, WWF Indonesia terus berkomitmen membantu pemerintah daerah dalam memangkas kebocoran sampah dari darat agar tidak sampai merusak ekosistem perairan. Pada akhir penjelasannya, Dewi memberikan sebuah pesan mendalam yang patut menjadi perenungan kita bersama demi masa depan bumi.
“Marilah kita jaga perairan dari hulu ke hilir, bebaskan dari sampah plastik, pulihkan ekosistemnya, dan jadikan laut yang sehat sebagai fondasi bagi ekonomi Indonesia yang kuat,” pungkas Dewi Lestari Yani Rizki.
Menjaga laut bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban mutlak demi kelangsungan generasi mendatang. Setiap langkah kecil kita di darat, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai hingga mengelola sampah rumah tangga dengan bijak, akan menjadi riak perubahan yang mengembalikan kejayaan dan kesucian laut Indonesia. (Gdi)





