Keluar dari Pernikahan Toksik dan Menjadi Sugar Baby - Wanita Indonesia
GAYA HIDUP

Keluar dari Pernikahan Toksik dan Menjadi Sugar Baby

wanitaindonesia.coMelakukan nikah siri atas dasar cinta, Abiya masuk ke dalam pernikahan toksik selama tujuh tahun hingga akhirnya ia kabur dan menjadi sugar baby untuk bertahan hidup.

Layaknya seseorang yang dimabuk asmara dan dibutakan cinta, “Abiya” memutuskan menikah siri dengan “Roby”, laki-laki yang ia kenal dari acara musik di kantor Roby dulu. Abiya mantap menikah muda di usia 18 setelah genap pacaran dua tahun.

Pernikahan Abiya ini sejak semula tidak direstui orang tua. Pasalnya, perbedaan usia pasangan itu terpaut 15 tahun, ditambah lagi status Roby masih menjadi suami perempuan lain. Namun, Abiya tidak mempedulikan perkataan orang tuanya. Ia tetap lanjut menikah siri dengan harapan kehidupannya jadi lebih baik dan bahagia setelah itu.

Harapan tinggal harapan. Dalam perjalanan pernikahannya selama kurang lebih tujuh tahun, Abiya mencicipi kepahitan dalam membangun rumah tangga dengan Roby. Mantan suami Abiya adalah seorang yang temperamental. Selama menikah, ia kerap mendapatkan kekerasan, emosional maupun fisik.

“Main tangan dan main kaki, apa aja dipegang,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Roby kerap kali berselingkuh sampai pada titik Abiya muak dengan perilaku laki-laki ini. Penyesalan pun datang dalam diri Abiya karena telah menempatkan cinta di atas segalanya. Ia terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak sehat dan sulit sekali untuk bisa keluar darinya.

Setelah lelah menjalani sebuah pernikahan yang penuh kekerasan, Abiya nekat kabur dari rumah orang tuanya yang ia tinggali bersama Roby dan anak mereka. Ia pergi mengadu nasib ke ibu kota dan menjalani beratnya kehidupan di sana.

Terjebak dalam Ikatan Bersama Laki-Laki yang Tidak Setia

Abiya menyadari, dulu ia bodoh dan naif. Berkali-kali Abiya melihat mantan suaminya berselingkuh, namun ia tetap bertahan dalam pernikahannya tersebut. Kala itu, ia sangat percaya rasa cinta begitu besar yang ia miliki untuk Roby dapat membuat laki-laki itu sadar dan berubah. Namun lama kelamaan, ia muak.

Ketika Abiya ingin bekerja membantu usaha Roby yang sedang jatuh, Roby malah membatasi ruang geraknya. Abiya bahkan tidak boleh bertemu teman-temannya sendiri. Hal ini dilakukan Roby semata-mata karena laki-laki itu takut Abiya akan berselingkuh dan meninggalkan dirinya. Sebuah pemikiran yang luar biasa aneh dari seseorang yang justru tanpa tahu malu berselingkuh berkali-kali di depan istrinya sendiri.

“Intinya dia curigaan mulu. Makanya, aku ngomong, di mana-mana maling paling takut kalo barangnya diambil maling, koruptor paling takut dikorupsi. Pasti dia berpikir gitu terus ya karena Roby ngeliat dirinya sendiri: Dia selingkuh tapi paling takut diselingkuhi,” tutur Abiya.

Awalnya dia menuruti apa mau suaminya untuk tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga purna waktu. Namun, lama-kelamaan ia menyadari, jika ia terus berdiam diri di rumah, kebutuhan pokok keluarga kecilnya tidak dapat tercukupi.

Dengan segala konsekuensinya, Abiya pun mulai berjualan apa saja kepada orang-orang di sekitar rumah orang tuanya. Karena dahulu belum ada aplikasi belanja daring, Abiya pun berdagang dengan cara mendatangi rumah-rumah orang dan menawarkan dagangannya tersebut. Dalam keadaan hamil, Abiya tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mencukupi kebutuhan pokok rumah tangganya, tetapi ia justru hanya hadiahi sebuah pengkhianatan besar yang tidak pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Ketika Abiya sedang keluar bekerja mencari nafkah, Roby datang membawa teman laki-laki dan kekasih dari temannya ini ke rumah orang tuanya. Kala itu Roby berdalih bahwa teman laki-lakinya ini belum punya pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal, dan kekasihnya ini ingin menumpang beristirahat sebentar di rumah orang tua Abiya. Namun, siapa sangka Roby berbohong dan kebohongan ini terungkap oleh ibu Abiya sendiri yang kebetulan ada di rumah saat itu. Perempuan yang Roby katakan sebagai kekasih temannya itu sebenarnya adalah kekasih Roby yang sengaja laki-laki itu “selundupkan” di rumah orang tuanya.

“Bawa cewek ke rumah Mama ketika aku posisinya lagi kerja, bantuin dia ketika kondisinya waktu itu lagi collapse, lagi jatuh. Itu kan namanya udah enggak tau diri banget,” Abiya masih tampak kesal saat bercerita.

Dari kejadian ini, Abiya mulai mempertanyakan keputusannya untuk bertahan dalam pernikahan dengan laki-laki yang tidak pernah setia padanya. Orang tua Abiya juga semakin lelah melihat keadaan pernikahan anaknya ini. Namun, setiap kali orang tua Abiya ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya itu, Abiya selalu saja membela Roby dan menutup rapat apa yang dilakukan laki-laki itu. Ia bahkan menjadi pihak yang akan selalu meminta maaf atas segala kesalahan yang Roby lakukan.

Namun, kesabaran ada batasnya juga. Setelah berulang kali mendapati perilaku buruk Roby, apalagi melihat dengan mata kepala sendiri Roby membawa kekasih gelap ke rumahnya, ibu Abiya pun akhirnya berkata, “Udahlah, Mama capek. Kamu mau sampe kapan baru bisa bahagiain Mama?”

Perkataan dari ibunya ini membuat Abiya tersadar dan membulatkan tekadnya untuk keluar dari pernikahan tidak sehat ini, bagaimanapun caranya.

Baca juga:  Saat Keluarga Tak Beri Restu, Pilih Kawin Lari Atau Nikah Siri?

Kabur ke Jakarta dan Menjadi Sugar Baby

Dengan modal nekat karena sudah begitu muak dengan kelakuan suaminya, Abiya pun kabur ke Jakarta seorang diri. Ia meninggalkan anak-anaknya yang ketika itu masih berumur 2 dan 4 tahun dalam asuhan ibunya demi mencari penghidupan baru, serta lepas dari jeratan suaminya.

Dengan mengontrak di rumah satu kamar di daerah Buncit, Jakarta Selatan, Abiya dengan uang seadanya berusaha menyambung nasib di ibu kota. Ia kembali berjualan apa pun, mulai dari parfum hingga make up.

Tidak hanya berjualan, terkadang Abiya juga diajak temannya untuk lomba karaoke. Dari sinilah kemudian Abiya ditawari oleh temannya untuk menemani laki-laki hidung belang di tempat karaoke sebagai seorang ladies companion (LC) yang kemudian ia terima.

Dari pertemuannya dengan para laki-laki hidung belang ini, Abiya kemudian menjadi sugar baby atau simpanan mereka. Abiya bisa diajak berkencan, menemani laki-laki ini kerja di luar kota atau meeting bersama klien, dan lain-lain. Laki-laki yang ia jadikan sugar daddies-nya adalah para laki-laki yang memiliki uang dan kuasa. Mereka adalah pengusaha kaya dan pejabat.

Abiya berkata, ia hanya ingin menjalin hubungan dengan sugar daddy-nya jika ia merasa sudah cocok dengan mereka dan tahu jelas latar belakangnya. Oleh karena itu, ia tidak pernah sembarang menjalin hubungannya dengan sugar daddy, apalagi mencari sugar daddy melalui media sosial.

“Aku enggak suka kenalan lewat medsos, enggak jelas soalnya. Jadi enggak tahu siapa dia, dia gimana. bahaya juga kan kalau kenalan di medsos. Kalau referensi kan ketemu langsung, beda. Ketemunya pas ada acara, gala dinner, atau apa, yang diajakin sama temen,” ucapnya.

Selain itu, menurut Abiya, para laki-laki yang punya kuasa atau uang tentunya juga akan berhati-hati memilih perempuan. Laki-laki ini paham betul dengan risiko tinggi yang dimiliki jika berhubungan dengan perempuan yang mereka baru temui di media sosial.

“Kalau dia emang pengusaha, jabatannya lumayan, atau pejabat yang posisinya tinggi, otomatis kan dia mau macem-macem juga mikir, dan enggak sembarang perempuan yang bisa deket sama dia,” ungkapnya.

Dari kesempatannya menjadi sugar baby ini, Abiya pun sebisa mungkin mengelola keuangannya dengan baik. Dengan menjalani gaya hidup yang sederhana, Abiya dapat mengumpulkan uang-uang dari sugar daddies-nya untuk mengembangkan usaha.

Usaha yang Abiya geluti ini adalah dengan ikut bergabung dalam proyek teman-temannya sebagai penanam saham atau berinvestasi pada perusahaan yang didirikan oleh teman-temannya. Dari pengamat jelinya dalam melihat latar belakang perusahaan, SPK atau Sistem Pendukung Keputusan (program terkomputerisasi untuk mendukung penentuan, penilaian, dan tindakan dalam suatu organisasi atau bisnis), hingga cashflow yang ada, ia dapat menentukan apakah ia akan menanamkan saham dan bergabung dalam proyek bersama teman-temannya.

Baca juga: Tak Hanya Fisik: Kenali Bentuk-bentuk Kekerasan Berbasis Gender di Ranah Privat

Ia juga sebisa mungkin memperluas jaringannya dan membuka peluang sebesar-besarnya untuk berkenalan dengan orang lain. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari Abiya bagi sugar daddies-nya sendiri, yaitu bagaimana ia berusaha keras untuk bisa mandiri dan belajar hal baru.

Lepas dari pernikahan tidak sehat dan kabur ke Jakarta untuk menafkahi buah hatinya, Abiya pun belajar tentang apa arti cinta dan pernikahan. Ia tidak lagi hidup dalam bayangan indah mengenai cinta. Ia belajar untuk menjadi kuat dan tidak bergantung pada seorang laki-laki dengan rayuan manisnya.

Kini, ia melihat cinta sebagai sesuatu hal yang bisa memudar, karena mau bagaimanapun manusia tidak pernah ada dalam sebuah keadaan atau rasa yang sama. Hanya ada satu cinta baginya yang tidak berubah, yaitu cinta Tuhan yang tidak pernah menyakiti dan mengkhianati.

Selain itu, Abiya juga melihat bagaimana pernikahan bukan lagi tentang rasa, namun tentang sebuah komitmen antar dua manusia. Rasa bosan akan selalu datang dalam pernikahan, namun jika pernikahan itu telah dibangun dengan pondasi komitmen, ia percaya perempuan akan dapat membangun sebuah pernikahan dan keluarga atas nilai kesetaraan dan keadilan.

Menampilkan lebih banyak

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button