Kartika Kembaren Tak Lara Sendiri Bersama YKPI

Kartika Kembaren asa bagi penderita kanker payudara.(Foto : Istimewa.)

WanitaIndonesia.co, Jakarta – Upaya memberikan dukungan kepada penderita, serta penyintas kanker payudara dilakukan secara komprehensif oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) agar asa senantiasa ada dan menjadi spirit bagi mereka dalam menjalankan hidup.

Salah satu penderita kanker payudara Kartika Kembaren hadir pada acara ‘Ayo SADARI Setelah Menstruasi’ dalam rangka Menuju 0 Penemuan Kanker Payudara Stadium Lanjut yang diselenggarakan oleh brand pembalut Charm, YKPI dan Kementerian Kesehatan.

Kartika menjadi sosok inspiratif bagi para penderita kanker untuk berani dan berjuang menyembuhkan penyakitnya.
Dia memberikan semangat bagi sesama penderita, dan juga mengingatkan Wanita Indonesia di luar sana mengenai perkembangan penyakit kanker payudara, yang terbilang sangat mengkhawatirkan.

Hadir menjadi pembicara bersama Ahli Onkologi dan Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) dr. Walta Gautama,
Kartika Kembaren terlihat sangat bersemangat, serta antusias tak terlihat ia merupakan penyintas.

Kartika menceritakan, “Saya didiagnosa menderita kanker payudara Agustus tahun 2021 lalu.
Awalnya saya menemukan benjolan kecil, kenyal di ketiak sebelah kanan. Ia pun berinisiatif untuk mencari tahu melalui google dan mendapat informasi bahwa benjolan di bawah ketiak tersebut dinyatakan bukan kanker. Perasaan saya agak tenang, namun saya terus memantau perkembangan benjolan tersebut, yang beberapa bulan kemudian telah berubah padat dan mengeras. Ada rasa sakit bila diraba. Suaminya kemudian mengajak untuk memeriksakan ke dr Onkologi, tapi ia bergeming, “kata Kartika.

“Saat itu kondisi saya sedang tidak baik-baik saja. Saya mengalami keguguran dan larut dalam kesedihan. Berkat kegigihan suaminya, Kartika akhirnya memiliki keberanian untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Hasil USG, benjolan tersebut merupakan kanker. Takut, sedih, cemas, hingga stress menjadi bagian awal, kala ia didiagnosa mengindap penyakit kanker payudara, “ujar Kartika.

“Namun berkat dukungan sepenuh hati suami dan keluarga besarnya, Kartika mulai berani untuk mengikuti opsi dokter melakukan mastektomi (mengangkat payudara yang terpapar sel kanker). Saat berbaring di meja, siap untuk operasi, tiba-tiba saya merasa gelisah dan stress sendiri. Jujur, saya belum siap. Ada perasaan tak berharga bila harus kehilangan payudara, “kata Kartika.

Dokter yang menanganinya kemudian mengambil langkah bijak dan memberikan alternatif untuk melakukan pengobatan melalui kemoterapi.
Kemoterapi harus dilakukan berturut-turut dan tidak boleh terputus sebanyak 6 kali. Namun setiap mengalami kemoterapi, ia merasakan dampak sakit yang berkepanjangan efek dari kemo. Kartika kemudian memilih opsi untuk kembali melakukan mastektomi mengingat stadium kanker yang termasuk dini, serta usianya yang sudah tak muda. Mastektomi berhasil dilakukan.

Beruntung dia memiliki inner circle, pemimpin di tempatnya bekerja merupakan survival.
“Dari beliaulah saya banyak belajar, memahami, kemudian melakukan tindakan yang terukur dan tepat untuk mengobati kanker payudara,” ujar Kartika.

Kartika merasa bersyukur memiliki pimpinan yang peduli dan melindungi. Dia kemudian diajak bergabung dalam komunitas Pita Pink yang dinaungi oleh YKPI.
“Ada banyak manfaat yang ia dapat utamanya kualitas hidup menjadi lebih stabil, saya bisa tetap eksis berkegiatan. Senantiasa memiliki semangat dan lebih menghargai waktu, mendapat beragam informasi yang benar seputar kanker dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Termasuk informasi pembiayaan dengan menggunakan BPJS.
Bersyukur ketika saya melakukan kontrol setiap 6 bulan sekali. Terakhir kontrol Desember tahun lalu hasilnya tidak ditemukan sel-sel kanker lagi, “ujarnya senang.

Buku Baru Kanker Payudara Agar Wanita Indonesia Waspada

“Melihat upaya Kartika saat mencari informasi seputar benjolan yang di ketiaknya, dr. Walta melihat masih ada informasi yang harus dibenahi seputar kanker payudara. Utamanya penjelasan ciri-ciri dari gejala awal atau stadium 1 penyakit kanker payudara yang harus diperjelas.
Gambar-gambar penyakit kanker payudara yang banyak dipublikasikan tersebut tidak rekecab buat penderita penyakit kanker payudara stadium awal, “tegasnya.

“Kebanyakan merupakan gambar dari penyakit kanker payudara stadium 3-4. Karenanya saya bersama sejawat dokter sedang membuat pedoman baru, buku kanker payudara diantaranya berisi penjelasan rinci dan lengkap kanker payudara dari gejala awal, hingga stadium lanjut didukung dengan gambar-gambar yang informatif, “jelasnya.

dr. Walta Gautama Ahli Onkologi dan Ketua PERABOI

dr. Walta mengatakan, “Ikhwal ketakutan pada sebagian besar penderita untuk melakukan mastektomi, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hal tersebut dapat diatasi dengan membiarkan bagian puting dan kulit payudara tanpa harus diangkat, hanya bagian isi yang mengandung sel kanker yang dikeluarkan, lalu digantikan dengan implan. Efek menghitam pada bagian kulit yang di radiasi dapat diminimalisir, serta dampak lainnya yang sudah bisa dikurangi paparannya dengan kemajuan teknologi, “jelasnya. dr. Walta menjelaskan, “Wanita Indonesia harus waspada jika saat melakukan SADARI menemukan benjolan kecil di bagian belakang puting payudara.
Benjolan yang awalnya lunak, kemudian berubah padat mengeras, lalu keluar cairan tak biasa dari puting, serta rasa sakit pada payudara, segera SADANIS (Periksa Payudara Klinis) untuk memastikan kondisi kesehatan Anda. Memang benar sebanyak 90% gejala awal kanker payudara berupa benjolan. Namun, tidak selalu benjolan tersebut mengarah ke kanker lo ya. Jadi butuh pemeriksaan lebih lanjut, “sarannya.

“Upaya edukasi yang dilakukan oleh Charm menurut saya wajib diapreasi. Efektif, karena menyasar ke konsumen dengan jangkauan yang sangat luas untuk menyadarkan Wanita Indonesia akan bahaya kanker payudara, serta tindakan preventif yang harus dilakukan sebelum dan pada saat awal didiagnosa terkena kanker payudara, “kata dr. Walta.

Lebih lanjut dr. Walta menyampaikan, “Memang terjadi tren usia pengindap penyakit Kanker Payudara di Eropa dan Asia yang berbeda. Wanita Eropa berusia di atas 50 tahun ke atas berisiko lebih tinggi terkena penyakit kanker payudara. Sedangkan Asia kecenderungannya menyasar ke wanita yang berusia lebih muda, “katanya.

dr.Walta mengingatkan, “Penemuan kanker payudara stadium lanjut 3 – 4 cukup tinggi, berkisar 70%. Indonesia menjadi negara tertinggal di Asia Tenggara karena hal tersebut.
Beragam upaya dapat dilakukan untuk menghindari risiko terkena penyakit kanker payudara diantaranya mengonsumsi pola makan sehat sesuai dengan pola makan gizi seimbang. Hilangkan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan kurang serat. Hindari makanan fast food, tinggi gula, majanan kaleng dan olahan, makanan zat pengawet dan pewarna. Hindari rokok, terpapar asap rokok, alkohol.
Lakukan olahraga secara rutin dan SADARI, “pungkasnya. (RP)