WANITAINDONESIA.CO — Di balik riuhnya arena latihan dan dentuman ritmis pukulan karateka, tersimpan kisah perjuangan yang penuh dengan tantangan. Bagi atlet karate putri Indonesia, Leica Al Humaira Lubis, perjalanan menuju Pesta Olahraga Asia (Asian Games) Aichi-Nagoya 2026 di Jepang bukan sekadar menajamkan jurus atau memperkuat serangan. Lebih dari itu, ini adalah pertarungan menjaga api semangat di tengah keterbatasan uji coba internasional yang terpaksa batal akibat kebijakan efisiensi.
Langkah Leica dan rekan-rekannya di pemusatan latihan nasional yang dimulai sejak Januari 2026 sempat diuji. Rangkaian uji coba yang telah dijadwalkan, seperti kejuaraan Seri A (Series A) di A Coruna, Spanyol, serta pemusatan latihan (training camp) di Mesir yang semula dirancang pada Agustus, terpaksa dibatalkan. Padahal, ajang internasional bentukan Federasi Karate Dunia (World Karate Federation/WKF) seperti Seri A pada 24-26 April 2026 tersebut menjadi wadah krusial untuk mengumpulkan poin peringkat dunia sekaligus membedah peta kekuatan lawan.
Perasaan berkecil hati sempat menghinggapi benak Leica ketika agenda penting tersebut urung terlaksana. Berkurangnya jam terbang di level global berdampak langsung pada posisi peringkat para atlet di tingkat internasional. Lebih dari sekadar urusan poin, absennya keikutsertaan dalam turnamen uji coba membuat kesempatan mempelajari gaya bertanding serta karakter calon lawan yang bakal dihadapi di Pesta Olahraga Asia menjadi kian terbatas.
“Sempat, karena di karate ada Series A sama Premier League. Di Series A sama Premier League itu kami mengumpulkan poin untuk mencari peringkat,” ujar Leica di Jakarta, Rabu. Karateka berusia 21 tahun tersebut menambahkan bahwa pertemuan awal dengan para pesaing sangat penting agar tidak canggung di gelanggang utama. “Kalau kita sudah ketemu sama lawan kita di Asian Games nanti di tryout-tryout sebelumnya, jadi sudah lebih hafal gaya permainannya,” katanya lagi.
Meski diterpa keterbatasan uji coba di luar negeri, Leica enggan menyerah pada keadaan. Ia membuktikan kelasnya melalui deretan prestasi gemilang sepanjang rentang persiapan. Pada April, ia tampil di Liga Utama (Premier League) Leshan di China pada nomor perkelahian (kumite) -68kg putri. Sebulan kemudian, Leica menyabet medali emas nomor perkelahian (kumite) +68kg putri dalam Kejuaraan Nasional Karate Piala Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB FORKI) di Bandung pada Mei.

Puncak pencapaiannya terukir indah saat ia menaiki podium tertinggi sebagai juara Asia pada Kejuaraan Karate Asia Senior di Bali pada Juni untuk kelas yang sama. Leica tampil dominan dengan mengalahkan Yara Naser dari Yordania yang berhak atas medali perak, sementara Arika Gurung dari Nepal dan Yuzuki Kataoka dari Jepang harus puas membawa pulang medali perunggu.
Kendati sukses menguasai Asia di rumah sendiri, Leica tetap berpijak di bumi dan bersikap realistis. Mengingat ajang di Bali menempatkan Indonesia sebagai tuan rumah, ia menyadari tekanan serta suasana pertandingan saat berlaga di negeri orang tentu menyajikan tantangan yang jauh berbeda.
“Untuk tryout besar level Asia cuma ada di AKF Bali kemarin yang kebetulan kita tuan rumah. Jadi sebenarnya atmosfernya menurut saya berbeda kalau kita jadi tuan rumah sama kita main di luar,” ungkap Leica menegaskan.
Kini, Leica tidak berjuang sendirian. Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB FORKI) terus menempa lima atlet andalan lainnya dalam pemusatan latihan nasional, yaitu Christopher Edbert Setiabudi pada nomor peragaan jurus (kata) putra, Marzella Sekar Damayanti pada peragaan jurus (kata) putri, Daniel Hutapea pada perkelahian (kumite) +84kg putra, M. Tegar Januar pada perkelahian (kumite) -55kg putra, serta Cok Istri Sanistya Rani pada perkelahian (kumite) -55kg putri.
Kisah perjuangan Leica Al Humaira Lubis dan tim karate Indonesia mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti mengukir prestasi. Lewat peluh yang menetes dan tekad yang tak tergoyahkan, mereka terus mengasah diri demi mengumandangkan lagu Indonesia Raya di panggung olahraga tertinggi Asia. Mari kita berikan dukungan serta doa terbaik bagi para ksatria karate Indonesia yang tengah bertarung melampaui batas kemampuan mereka demi mengharumkan nama bangsa di Jepang nanti! (Gdi)





