WANITAINDONESIA.CO — Lonjakan suhu udara di daerah tropis sering kali memaksa masyarakat bergantung penuh pada pendingin udara konvensional yang menyedot daya listrik sangat besar. Menjawab tantangan efisiensi energi tersebut, lima mahasiswa Program Studi S1 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia berhasil merancang sebuah terobosan berupa prototipe sistem pendingin ruangan hemat energi yang dinamai ADEM, singkatan dari Adaptive Energy-efficient Microclimate System.
Inovasi cerdas ini mengombinasikan kestabilan suhu tanah serta pemanfaatan tenaga surya untuk mendinginkan suhu ruangan secara optimal. Ketua Tim Universitas Indonesia Abdurrasyid Dzaki Amir mengungkapkan bahwa prinsip kerja sistem ini bertumpu pada pemanfaatan perbedaan suhu antara udara permukaan bumi dan suhu di dalam tanah. Dengan mendinginkan udara terlebih dahulu sebelum dialirkan masuk ke interior ruangan, beban kerja dari sistem pendingin aktif dapat dipangkas secara signifikan.
Mekanisme penyerapan dingin tersebut bekerja secara sistematis dengan memanfaatkan suhu tanah pada kedalaman tertentu yang relatif konstan. Udara segar dari luar ditarik dan disalurkan melewati jaringan pipa bahan polivinil klorida (PVC) yang ditanam berkelok-kelok di bawah permukaan tanah. Lintasan pipa yang dibuat memanjang dan berliku ini memaksimalkan proses pertukaran panas antara udara luar dan tanah, sehingga udara yang keluar ke dalam ruangan sudah berada dalam kondisi jauh lebih sejuk.
Untuk menjamin sirkulasi udara tetap mengalir lancar meskipun tiupan angin sedang lemah, perangkat ini dibekali turbin ventilator yang digerakkan oleh motor arus searah. Sumber daya listrik penunjang ventilator tersebut sepenuhnya disuplai oleh panel surya terpasang. Tidak hanya itu, kecerdasan sistem juga ditopang oleh pemantau suhu pada bagian saluran masuk dan saluran keluar yang mengukur pergeseran temperatur secara riil (real-time). Data hasil pengukuran tersebut langsung dikirimkan ke mikrokontroler ESP32 guna memandu daya kerja ventilator sesuai situasi iklim sekitar.
Keunggulan utama dari perancangan inovatif ini terletak pada fleksibilitas kinerjanya yang sangat responsif terhadap iklim luar. Abdurrasyid Dzaki Amir menjelaskan bahwa sistem dirancang agar adaptif, di mana kebutuhan sirkulasi akan otomatis meningkat saat temperatur udara luar melonjak tinggi. Pada saat paparan sinar matahari memuncak, panel surya justru mampu memproduksi daya yang jauh lebih melimpah untuk mendukung kinerja ventilator secara efektif.
Berbeda dari mesin pendingin udara pada umumnya yang sangat bergantung pada kompresi bahan pendingin zat pendingin (refrigeran) serta konsumsi listrik membengkak, prototipe karya anak bangsa ini memprioritaskan pendinginan pasif alami. Inovasi mutakhir yang dikembangkan oleh Abdurrasyid Dzaki Amir bersama Satria Erlangga Munggaran, Michael Gianvittorio Siringoringo, Steven Anthony Suhartoyo, dan Muhammad Rayhan Pasha Nuruddin di bawah bimbingan Dosen Departemen Fisika FMIPA UI Syahril Siregar S.Si, M.Sc, Ph.D ini menjadi bukti nyata bahwa solusi ramah lingkungan mampu lahir dari kejelian mengolah potensi alam di sekitar kita.
Kehadiran teknologi seperti ini memberi harapan baru bagi terciptanya hunian yang tetap sejuk, selaras dengan alam, dan tentunya jauh lebih hemat biaya energi di masa depan. Akankah teknologi pendingin alami berbasis bumi dan matahari ini segera menjadi standar baru dalam gaya hidup hemat energi di rumah Anda? (Gdi)





