
WANITAINDONESIA.CO – Ironi akses air bersih dan penyehatan lingkungan (sanitasi) yang layak masih menjadi bayang-bayang kelam di sebagian wilayah Indonesia timur. Di saat sebagian besar kawasan perkotaan dengan mudah menikmati air dari keran rumah, warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, harus bergelut dengan kondisi alam yang ekstrem. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), baru sekitar 75,48 persen rumah tangga di wilayah tersebut yang memiliki akses air minum layak, tertinggal jauh dari rata-rata nasional yang telah menyentuh 93,22 persen. Kondisi ini diperparah oleh topografi tanah berbatu kapur (karst) yang sulit menyimpan cadangan air, serta musim kemarau panjang yang bisa berlangsung hingga delapan bulan dalam setahun.
Keterbatasan geografis ini memaksa warga, terutama anak-anak, mengorbankan waktu produktif mereka hanya untuk mendapatkan beberapa liter air. Mereka harus berjalan kaki hingga dua jam menembus jalanan terjal menuju mata air terdekat. Menjawab krisis kemanusiaan yang berulang setiap tahun ini, lembaga kemanusiaan Wahana Visi Indonesia (WVI) menginisiasi gerakan sosial bertajuk Water for Timor (WFT). Program ini dirancang sebagai langkah nyata untuk mendekatkan fasilitas air bersih dan sanitasi bagi lebih dari 2.000 penerima manfaat yang tersebar di lima desa dan tiga sekolah sasaran.
“Akses air bersih adalah hak setiap anak untuk hidup sehat dan layak, termasuk di Timor Tengah Selatan. Melalui kampanye Water for Timor yang dimulai sejak Maret 2026, WVI berkomitmen mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals / SDG) nomor enam di Indonesia pada 2030,” ujar Angelina Theodora, National Director (Direktur Nasional) Wahana Visi Indonesia.
Angelina Theodora menjelaskan bahwa proyek ini dikerjakan secara komprehensif dan bertahap. Prosesnya dimulai dari penaksiran (asesmen) pasokan sumber air, pembangunan infrastruktur fisik, hingga penguatan kapasitas kelompok masyarakat setempat agar mampu mengelola jaringan pipa air secara mandiri. Langkah strategis ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh pencarian air, sehingga warga memiliki ruang lebih luas untuk mengoptimalkan potensi diri, beristirahat, dan menjalankan aktivitas ekonomi lainnya.
Dampak dari krisis air ini nyatanya berkelindan erat dengan masalah sosial-ekonomi yang kompleks. Tingkat kemiskinan di Timor Tengah Selatan yang masih berada di angka 24,5 persen membuat masyarakat kesulitan membangun infrastruktur sanitasi secara swadaya. Akibatnya, angka kasus gangguan pertumbuhan kronis pada anak akibat kurang gizi (stunting / tengkes) di wilayah ini melonjak hingga 56,8 persen, jauh melampaui ambang batas toleransi nasional. Ketiadaan air bersih memicu tingginya frekuensi penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare, yang secara langsung menghentikan penyerapan nutrisi pada tubuh anak-anak.
Rantai persoalan inilah yang kerap kali merenggut hak-hak dasar anak di dunia pendidikan. Rasa lelah dan keterlambatan menjadi makanan sehari-hari bagi generasi muda di sana sebelum mereka sempat duduk di bangku kelas.
“Saya biasa pagi-pagi ambil air untuk keluarga, jadi telat ke sekolah sehingga sering kena tegur ibu guru. Sore-sore pun harus ambil air lagi dengan kakak. Saya ingin punya keran di rumah supaya kalau perlu ambil air, cukup ambil di rumah saja,” tutur Distin, salah satu anak penyintas krisis air di Timor Tengah Selatan.
Suara jernih seperti Distin menjadi pemantik bagi WVI untuk terus menggalang kepedulian publik global dan domestik. Dukungan yang mengalir dari para donatur kini diwujudkan dalam bentuk instalasi pipa air bersih langsung ke pemukiman dan sekolah, yang dibarengi dengan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Menghadirkan air bersih di tanah berbatu Timor adalah tentang membangun kembali harapan dan masa depan sebuah generasi. Ketika air mengalir lebih dekat, anak-anak tidak perlu lagi terlambat sekolah, dan risiko penyakit penyerang gizi dapat ditekan sekecil mungkin. Kepedulian yang kita bagikan hari ini adalah kunci utama untuk memutus mata rantai kemiskinan terstruktur di pelosok negeri. Mari bersama-sama menjadi bagian dari perubahan nyata ini, karena setiap tetes air yang kita dekatkan adalah aliran kehidupan dan energi baru bagi masa depan Indonesia. (Gdi)




