Jejak Gus Kikin Dari Cicit Pendiri NU Hingga Harapan Kemandirian Ekonomi Warga Nahdliyin

KH Abdul Hakim Mahfudz atau akrab disapa Gus Kikin, resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026-2031. (PC NU Malang)

WANITAINDONESIA.CO – Panggung Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mencapai puncaknya pada hari Senin. Suasana haru dan khidmat menyelimuti arena ketika sembilan kiai Ahlul Halli Wal Aqdi (lembaga khusus pemilih kepemimpinan) mengetukkan palu keputusan. Nama KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026 hingga 2031. Keputusan tersebut menandai awal babak baru kepemimpinan organisasi Islam terbesar ini, menggeser komando yang sebelumnya dipegang oleh KH Yahya Cholil Staquf.

Terpilihnya Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Di balik garis tangannya, mengalir darah jalinan sejarah mulia sebagai cicit dari sang pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari. Ayahnya merupakan ulama pakar fikih (hukum Islam) dan falak (astronomi Islam) KH Mahfudz Anwar, sementara ibunya adalah Nyai Hj Abidah Ma’shum. Lahir di Jombang pada 17 Agustus 1959, Gus Kikin tumbuh dalam buaian tradisi pesantren Sunan Ampel dan Seblak Jombang, sebelum akhirnya menempa diri di jenjang pendidikan formal hingga Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta dan menyelesaikan sarjana komunikasi di Universitas Terbuka pada 2013.

Baca Juga :  Fatayat NU DKI Gelar Diklat Terpadu Dasar Garda Fatayat 2025: Cetak Kader Perempuan Tangguh dan Berkarakter

Namun, daya tarik utama sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini terletak pada kombinasi unik antara religiusitas kultural dan rekam jejak manajerial yang jempolan. Sebelum kembali mengabdi penuh di pesantren, Gus Kikin adalah seorang pebisnis ulung yang melanglang buana mendirikan berbagai perusahaan di Surabaya hingga Jakarta. Portofolio bisnisnya membentang luas, mulai dari sektor transportasi, kontraktor, teknologi informasi, hingga komoditas minyak atsiri dan media penyiaran melalui BBS Group. Bahkan di sektor energi, ia memimpin PT Energi Mineral Langgeng dalam eksplorasi minyak dan gas bumi, serta aktif dalam kepengurusan Kamar Dagang dan Industri.

Baca Juga :  Arti Musyawarah Kubro dan Peran Mustasyar NU

Pengalaman berharga di dunia usaha tersebut menjadi modal strategis bagi Gus Kikin yang sebelumnya dipercaya menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bidang ekonomi. Bersama Rais Aam KH Miftachul Akhyar, nakhoda baru ini diharapkan mampu membawa angin segar dan wajah baru yang menitikberatkan pada penguatan serta kemandirian ekonomi bagi seluruh warga Nahdliyin di belahan Nusantara.

Pasca penetapan dirinya, sosok berkharisma ini segera memancarkan pesan ketenangan untuk menyatukan kembali barisan umat setelah dinamika muktamar yang hangat. Dengan nada tegas namun menyejukkan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Abdul Hakim Mahfudz menekankan kembali hakikat dan arah kompas perjuangan organisasi.

“Nahdlatul Ulama itu bukan untuk berpolitik. Nahdlatul Ulama itu adalah organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Abdul Hakim Mahfudz menegaskan garis batas yang jelas antara pergerakan dakwah sosial dan arena politik praktis.

Baca Juga :  Arti Musyawarah Kubro dan Peran Mustasyar NU

Ia menambahkan bahwa hubungan organisasi keagamaan dengan politik adalah dua hal yang berbeda. Sementara dalam hubungannya dengan pemerintah, Nahdlatul Ulama akan senantiasa konsisten memberikan dukungan penuh sesuai dengan kewajiban dan syariat umat Islam.

Kini, layar perahu besar Nahdlatul Ulama telah dikembangkan di bawah kendali seorang pemimpin yang memadukan kedalaman ilmu spiritual para pendahulu dengan ketajaman visi ekonomi modern. Perjalanan lima tahun ke depan tentu akan menjadi saksi, bagaimana sentuhan tangan dingin sang cicit pendiri mampu membawa kemandirian nyata yang dirasakan hingga ke akar rumput. Mari kita cermati bersama, akankah terobosan dan kepemimpinan baru ini berhasil mengantar umat menuju era keemasan yang lebih sejahtera? (Gdi)