
WANITAINDONESIA.CO — Menyeruput cangkir berisi cairan hangat di pagi hari atau saat cuaca dingin memang menjadi ritual yang sangat menenangkan. Sensasi hangat yang mengalir di tenggorokan sering kali dianggap sebagai cara paling ampuh untuk merilekskan tubuh sekaligus menyehatkan pencernaan. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada fakta medis mengejutkan yang patut diwaspadai dari kebiasaan mengonsumsi minuman dalam kondisi yang terlalu panas.
Sebuah ulasan terbaru yang dirilis oleh media kesehatan EatingWell mengupas hasil penelitian berskala besar terkait kebiasaan minum minuman bersuhu tinggi. Studi dari Oxford Population Health yang melibatkan hampir 980.000 orang dewasa di Inggris selama lebih dari 10 tahun mengungkapkan bahwa suhu minuman—bukan jenis minumannya—dapat memberikan dampak serius bagi saluran pencernaan.
Narasumber utama penelitian tersebut, Dr. Keren Papier yang menjabat sebagai Senior Nutritional Epidemiologist di Oxford Population Health, menjelaskan bahwa preferensi suhu memainkan peran kunci dalam kesehatan esofagus (kerongkongan). Dalam keterangannya, beliau menyampaikan sebuah temuan yang perlu disimak dengan saksama:
“Temuan kami menambah bukti yang sudah ada bahwa mengonsumsi minuman yang sangat panas dapat meningkatkan risiko karsinoma sel skuamosa esofagus (kanker sel skuamosa pada kerongkongan).”
Berdasarkan hasil analisis data tersebut, seseorang yang terbiasa memilih minuman dalam kondisi “panas” memiliki risiko 2 kali lebih tinggi terkena karsinoma sel skuamosa esofagus (kanker pada lapisan mukosa kerongkongan) dibandingkan mereka yang menikmati minuman dalam kondisi sekadar “hangat”. Risiko ini bahkan melonjak hingga 3 kali lebih tinggi pada kelompok yang gemar mengonsumsi minuman dalam kondisi “sangat panas”.
Penjelasan biologis di balik fenomena ini terletak pada cedera termal (kerusakan jaringan akibat suhu tinggi) yang terjadi secara berulang. Ketika cairan bersuhu di atas 65 derajat Celsius mengenai dinding kerongkongan, panas tersebut dapat merusak sel-sel pelindung di sepanjang saluran penyalur makanan dari mulut ke lambung. Jika kerusakan fisik ini terjadi terus-menerus dalam jangka panjang, proses regenerasi sel dapat mengalami gangguan yang berpotensi memicu timbulnya sel kanker. International Agency for Research on Cancer (Badan Internasional untuk Penelitian Kanker) sendiri telah mengategorikan minuman yang sangat panas di atas suhu tersebut sebagai bahan yang kemungkinan besar dapat menyebabkan kanker pada manusia.
Kabar baiknya, risiko kesehatan ini sama sekali bukan berasal dari kandungan kopi, teh, maupun air putih itu sendiri, melainkan murni akibat faktor suhunya. Fiona Osgun yang menjabat sebagai Head of Health Information di Cancer Research UK menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menghentikan kebiasaan minum teh atau kopi. Beliau menyarankan langkah pencegahan yang sangat sederhana namun efektif, yaitu memberikan jeda waktu sebentar agar uap panas berkurang dan suhu minuman menurun sebelum diminum.
Menikmati momen bersantai dengan segelas minuman favorit tentu tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan. Cukup luangkan waktu 3 hingga 5 menit agar racikan hangat Anda mencapai suhu aman yang ramah bagi kerongkongan, sehingga kesegaran dan kesehatannya dapat dinikmati secara optimal tanpa rasa cemas. (Gdi)




