
WANITAINDONESIA.CO — Kelvin Lim, Advisor TITAN Indonesia dari PT DS Solutions International, melontarkan klaim tajam dari panggung seminar RHVAC Expo 2026: reefer container, yang selama ini banyak pelaku usaha anggap sebagai solusi cold storage, sejatinya bukan cold storage. Ia menyampaikan pernyataan itu dalam sesi bertajuk “Optimalisasi Biaya Operasional melalui Teknologi Cold Storage Portable” di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Kamis (10/9/2026).
ASHRAE Indonesia Chapter bersama TITAN Containers dan PT DS Solutions International menggelar seminar ini dengan tema “Penguatan Rantai Dingin untuk Mendukung Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Kesejahteraan Nelayan, dan Ketahanan Pangan Indonesia”. Sekitar 100 peserta lintas sektor menghadiri acara tersebut — mulai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), akademisi, asosiasi rantai dingin, hingga pelaku industri refrigerasi nasional dan internasional.
“Banyak pelaku usaha yang berkembang, ketika butuh solusi penyimpanan dingin, refleksnya langsung membeli reefer container karena paling mudah ditemukan di pasaran. Tapi ini keliru sejak awal. Reefer container didesain untuk mengangkut muatan dalam perjalanan, bukan untuk menyimpan dan menjaga efisiensi energi dalam jangka panjang. Kesalahan menyamakan keduanya inilah yang diam-diam menggerus margin operasional mereka setiap bulan,” tegas Kelvin dalam paparannya.
Angka yang Bicara: Rp5,2 Juta per Bulan Hanya untuk Listrik
Untuk membuktikan argumennya, Kelvin memaparkan simulasi hitungan yang jarang muncul secara terbuka di hadapan pelaku usaha. Sebuah unit dengan konsumsi listrik rata-rata 5 kW yang beroperasi 24 jam selama 30 hari menghabiskan total 3.600 kWh energi per bulan. Dengan tarif Rp1.444 per kWh, pelaku usaha harus menanggung biaya listrik hingga tembus Rp5.198.400 setiap bulan — angka yang menurutnya kerap luput dari kalkulasi awal saat perusahaan memutuskan membeli reefer container sebagai jalan pintas.
“Angka Rp5,2 juta itu bukan biaya sekali bayar, itu biaya yang terus berjalan setiap bulan, setiap tahun, selama unit itu beroperasi. Kalau perhitungan di depan saja sudah salah, jangan heran kalau bisnisnya sulit efisien di belakang,” lanjutnya.
Sebagai solusi, Kelvin memperkenalkan ArcticStore Horizon — teknologi cold storage portabel berbasis panel surya besutan TITAN Containers yang, menurut klaim perusahaan, mampu memangkas biaya listrik hingga 55%. Bila mengacu pada baseline Rp5.198.400 per bulan, potensi penghematan itu setara hingga Rp2.339.280 setiap bulannya.
“Kami tidak sedang menjual kontainer pendingin. Kami menjual efisiensi biaya operasional yang terukur, bukan janji. Penghematan hingga 55 persen ini kami sampaikan sebagai potensi realistis berdasarkan perhitungan riil, bukan sekadar klaim pemasaran tanpa dasar,” ujar Kelvin.
Ia menambahkan, empat keunggulan ArcticStore Horizon — portabilitas, kecepatan instalasi, skalabilitas, dan efisiensi energi — memungkinkan pelaku usaha menempatkan teknologi ini di titik-titik krusial rantai pasok, seperti pelabuhan perikanan, pusat distribusi, daerah berkembang, hingga saat puncak musim panen ketika kapasitas produksi melonjak melebihi daya tampung fasilitas yang ada.
“Persoalannya bukan lagi apakah kita butuh cold storage. Semua orang sudah tahu butuh. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: cold storage seperti apa yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan, bukan yang paling gampang mereka beli,” tandasnya.
Menjawab Kebutuhan Rantai Dingin KNMP
Presentasi Kelvin menjadi bagian dari rangkaian seminar yang juga menghadirkan Barbora Vorage, Director of Business and Partnerships TITAN Containers, yang membahas teknologi refrigerasi berkelanjutan untuk mendukung ekosistem rantai dingin KNMP, serta Dr. Ir. Ridwan Mulyana, M.T., Ketua Satgas Pembangunan KNMP Tahun 2026, yang menyampaikan pidato utama mengenai transformasi ekonomi nelayan melalui penguatan infrastruktur pascapanen dan rantai dingin.
Kementerian Kelautan dan Perikanan memaparkan data dalam seminar yang menunjukkan total produksi perikanan nasional pada 2025 mencapai 14,6 juta ton dengan estimasi nilai sekitar Rp443 triliun — setara sekitar 1,73% dari proyeksi PDB nominal Indonesia 2026.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik memperlihatkan ekosistem pengguna cold chain memiliki economic footprint hingga Rp10.160 triliun atau sekitar 42,65% dari PDB nasional 2025, mencakup sektor pertanian dan perikanan, perdagangan, industri makanan-minuman, hingga kesehatan.
Herlin Herlianika, Presidential Member ASHRAE Indonesia Chapter, memoderatori sesi diskusi panel bertajuk “Dari Laut ke Pasar: Membangun Ekosistem Rantai Dingin KNMP untuk Meningkatkan Nilai Hasil Tangkapan dan Kesejahteraan Nelayan.” Dalam sesi itu, sejumlah pembicara — termasuk Prof. Rokhmin Dahuri dari Komisi IV DPR RI Bidang Pangan — turut menegaskan bahwa tanpa sistem rantai dingin yang memadai, peningkatan hasil tangkapan nelayan belum tentu berbanding lurus dengan kenaikan pendapatan mereka. (*)




