Indonesia Sukses Bebas Buta Aksara, Tapi Mengapa Skor PISA Pelajar Masih Anjlok?

Perlu peningkatan minat baca anak-anak dengan memanfaatkan perpustakaan yang ada di kota/kabupaten. Gdi

WANITAINDONESIA.CO — Angka statistik literasi di tanah air sekilas menunjukkan pencapaian yang membanggakan. Hampir seluruh masyarakat Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas kini telah terbebas dari buta aksara. Kendati demikian, tingginya kemampuan membaca dasar ini ternyata belum sejalan dengan mutu pemahaman literasi para pelajar di tingkat internasional.

Chief of Education UNESCO Regional Office for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, the Philippines and Timor-Leste, and Liaison to ASEAN, Santosh Khatri, menyampaikan bahwa tingkat melek huruf di Indonesia sudah mencatatkan kemajuan yang amat signifikan. Data statistik menunjukkan sebanyak 97 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas telah mampu membaca pada tahun 2024.

Baca Juga :  Aku Pintar Bantu Wujudkan Masa Depan Pelajar Indonesia

Santosh Khatri menegaskan hal tersebut saat berbicara dalam Peringatan Hari Aksara Internasional yang disiarkan secara dalam jaringan melalui saluran Youtube Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta Pusat pada Selasa.

Akan tetapi, indikator melek huruf dasar dianggap belum cukup untuk mencerminkan tingkat literasi bangsa secara menyeluruh. Kemampuan sekadar mengenalkan huruf dan merangkai kata perlu ditunjang oleh kecakapan bernalar yang lebih kompleks dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita juga harus mempertimbangkan apakah seseorang memiliki keterampilan untuk memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berpartisipasi dalam masyarakat, dan terus belajar sepanjang hidup mereka,” ujar Santosh Khatri.

Baca Juga :  Aku Pintar Bantu Wujudkan Masa Depan Pelajar Indonesia

Ketimpangan antara kemampuan membaca dasar dan kedalaman pemahaman ini terlihat jelas pada capaian Program Penilaian Pelajar Internasional (Programme for International Student Assessment). Pada studi evaluasi mutu pendidikan global yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development) tersebut, rata-rata skor kategori membaca untuk murid di Indonesia hanya berada pada angka 359 poin. Nilai tersebut terhitung jauh di bawah rata-rata standar internasional yang berada pada angka 476 poin.

Kondisi ini menjadi peringatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk tidak berpuas diri dengan status bebas buta aksara semata. Peningkatan kualitas pendidikan mendesak untuk dimulai sejak tingkatan kelas paling awal guna mengasah daya kritis generasi penerus.

Baca Juga :  Aku Pintar Bantu Wujudkan Masa Depan Pelajar Indonesia

“Ini mengingatkan kita terkait kebutuhan mendesak untuk upaya meningkatkan pemahaman dan pengertian mendalam di kalangan pelajar, dimulai dari kelas-kelas awal,” tegas Santosh Khatri.

Kemampuan membaca hanyalah gerbang awal menuju dunia pengetahuan yang luas. Tanpa adanya dorongan untuk memahami makna, mengolah daya kritis, serta memecahkan tantangan zaman, deretan angka statistik melek huruf akan kehilangan tujuannya. Saatnya bersama-sama mengawal pendidikan Indonesia agar tidak sekadar mahir mengeja, tetapi juga cerdas menalar masa depan. (Gdi)