WANITAINDONESIA.CO – Suasana Jalan Pemuda di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, mendadak berubah menjadi mesin waktu yang membawa setiap pelancong kembali ke masa lalu. Nuansa arsitektur era kolonial yang berpadu apik dengan ingatan kolektif masa Belanda-Depok tempo dulu kini resmi menjelma menjadi destinasi wisata baru yang memikat. Langkah nyata ini diawali dengan kemeriahan sebuah perhelatan budaya yang dirancang untuk menghidupkan kembali denyut sejarah kota.
Pemerintah Kota Depok secara resmi membuka Festival Heritage (warisan budaya) Depok Lama 2026 yang berlangsung sepanjang akhir pekan ini. Gelaran perdana ini merupakan buah kerja sama strategis dengan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) untuk merawat memori kolektif warga sekaligus menggerakkan sektor pariwisata daerah. Ke depan, kawasan bersejarah ini tidak sekadar menjadi saksi bisu masa lalu, melainkan akan dikembangkan secara serius agar terus membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat luas.
Wali Kota Depok, Supian Suri, menegaskan bahwa perhelatan ini bukan sekadar pesta budaya musiman, melainkan sebuah tonggak sejarah baru bagi penataan kota. Hadirnya Festival Heritage Depok Lama ini menjadi langkah awal penetapan Jalan Pemuda dan sekitarnya sebagai Kawasan Heritage di Kota Depok. Supian Suri juga menyampaikan harapan besarnya agar kegiatan ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya dengan lebih baik dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Selama dua hari penyelenggaraan, kawasan Jalan Pemuda dipenuhi oleh ragam atraksi yang kental dengan perpaduan budaya lokal dan Eropa. Kemeriahan acara diisi dengan parade khidmat dua belas marga Kaoem Depok (masyarakat keturunan budak yang dibebaskan oleh Cornelis Chastelein), peragaan busana, pembuatan mural, hingga lomba mewarnai. Kehadiran enam puluh stan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menyajikan kudapan kuliner, fesyen (gaya busana), dan kerajinan tangan turut menggerakkan roda ekonomi, bahkan beberapa produk tas dan permen khas didatangkan langsung dari Negara Kincir Angin Belanda.
Ketua Panitia Festival Heritage Depok Lama 2026, Ratu Ratna Damayanti, mengungkapkan rasa syukurnya atas kepedulian jajaran pemerintah terhadap aset sejarah yang sempat terabaikan. Festival ini menjadi momentum sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya digelar kembali setelah tiga abad lamanya terlewat. Menurut Ratu Ratna Damayanti, festival ini lahir dari sebuah gagasan kepala daerah yang memiliki kepekaan, kepedulian, dan pemikiran strategis untuk mengajak semua elemen masyarakat berkolaborasi memajukan Depok dengan potensi saat ini.
Melalui festival ini, jejak panjang peradaban masa lalu tidak sekadar menjadi cerita pengantar tidur, melainkan dirawat sebagai identitas kota yang inklusif. Di tengah laju modernisasi dan perubahan zaman yang begitu cepat, sejarah dan keberagaman tetap menjadi fondasi utama yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Mengenal masa lalu bukan berarti berjalan mundur, melainkan cara terbaik untuk melangkah maju dengan pijakan jati diri yang kokoh. (Gdi)





