
WANITAINDONESIA.CO – Suka atau tidak, istilah doggy style sering muncul dalam pembahasan gaya hubungan intim modern. Posisi ini memang dikenal luas dan kerap dianggap sebagai salah satu variasi yang umum dilakukan pasangan.
Hebatnya, meski terdengar seperti istilah modern, praktik ini sebenarnya sudah ada sejak zaman kuno.
Berbagai artefak dan teks klasik bahkan menunjukkan bahwa variasi posisi dalam hubungan sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu.
Dalam teks kuno seperti Kama Sutra contohnya, ada berbagai posisi hubungan digambarkan sebagai bagian dari eksplorasi keintiman antara pasangan.
Dan posisi serupa telah dikenal sejak lama, meski belum disebut dengan istilah modern.”
Hal ini menunjukkan bahwa manusia sejak dahulu telah memahami bahwa variasi dapat menjadi bagian dari dinamika hubungan.
Istilah “doggy style” sendiri mulai populer dalam budaya Barat pada abad ke-20. Media dan budaya pop kemudian memperluas penggunaannya hingga dikenal secara global.
Dalam perspektif psikologi, variasi dalam hubungan sering dikaitkan dengan kebutuhan akan kebaruan dan eksplorasi.
Psikolog hubungan terkenal Esther Perel menjelaskan pentingnya variasi dalam menjaga gairah.
“Keinginan sering tumbuh dari ruang, misteri, dan kebaruan dalam hubungan,” ujar Esther Perel, dalam jurnalnya, _Mating in Captivity._
Artinya, perubahan atau variasi dalam hubungan dapat membantu menjaga dinamika agar tidak monoton.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa gaya hubungan bukan sekadar teknik, tetapi juga bagian dari komunikasi dan ekspresi pasangan. (GIE)




