Menembus Pasar Chile Lewat Jalur Hijau Perdagangan Dunia

Ilustrasi aktivitas pemuatan produk ekspor ke dalam kontainer. gdi/AI

WANITAINDONESIA.CO – Kesadaran global terhadap kelestarian alam kini bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan telah bertransformasi menjadi motor penggerak baru dalam roda perekonomian internasional. Pergeseran paradigma pasar dunia yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan (sustainability) ini ditangkap sebagai sebuah peluang emas bagi Indonesia untuk menancapkan taringnya lebih dalam di panggung ekspor. Salah satu lompatan strategis yang tengah dibidik dengan sangat serius adalah memperkuat penetrasi produk-produk unggulan Nusantara menuju pasar Amerika Latin, khususnya Chile.

Langkah diplomasi dagang yang agresif ini dinilai sangat tepat momentumnya. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menjelaskan bahwa Indonesia secara konsisten terus mempromosikan berbagai lini produk potensial yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan pasar di Chile. Berbagai produk yang dipamerkan meliputi furnitur dan dekorasi rumah berbahan alami, kopi dengan kekhasan khusus (specialty coffee), komoditas berbasis kelapa, produk perikanan olahan, hingga inovasi kemasan ramah lingkungan (eco-friendly packaging).

Baca Juga :  Dirjen PEN: Ekspor Jadi Kunci Kemandirian Ekonomi Nasional

Akselerasi perdagangan ini semakin mulus berkat adanya payung hukum kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Chile (Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IC-CEPA). Melalui implementasi perjanjian yang terus diperluas hingga mencakup sektor jasa dan investasi tersebut, produk-produk bernilai tambah dari tanah air kini memiliki posisi tawar yang jauh lebih kompetitif. Data menunjukkan grafik yang sangat menggembirakan pascaimplementasi perjanjian dagang tersebut pada akhir tahun lalu, di mana total nilai perdagangan dua arah (bilateral) melonjak hingga 12,40 persen mencapai angka 535,51 juta dolar Amerika Serikat, dengan produk otomotif, pupuk, dan alas kaki sebagai primadona utamanya.

Sebagai langkah nyata untuk merajut kedekatan emosional dan bisnis dengan para pemangku kepentingan di sana, pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia Santiago bekerja sama dengan Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (Indonesian Trade Promotion Center) Santiago menggelar pertemuan pagi (breakfast meeting) bertajuk Encuentro con el Mundo di Santiago, Chile, pada Mei 2026. Forum eksklusif yang dihadiri oleh puluhan profesional dari sektor telekomunikasi, pertambangan, ritel, hingga teknologi ini menjadi jembatan strategis untuk mengajak para pelaku usaha setempat hadir dalam pameran dagang terbesar, Trade Expo Indonesia 2026, pada Oktober mendatang demi membangun kemitraan jangka panjang.

Baca Juga :  Fajarini Puntodewi Sosok Dibalik Diplomasi Pasar Global Hingga Eksportir Perempuan

Di sisi lain, dinamika perdagangan internasional saat ini tidak dapat dilepaskan dari tantangan global yang kian kompleks. Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Chile, Vedi Kurnia Buana, mengingatkan bahwa ancaman perubahan iklim, ketegangan politik antarwilayah (geopolitik), serta gangguan rantai pasok (supply chain) telah memberikan tekanan berat pada sistem pemenuhan kebutuhan mendasar dunia. Oleh karena itu, kolaborasi lintas negara menjadi instrumen yang tidak dapat ditawar lagi.

Baca Juga :  Fajarini Puntodewi Sosok Dibalik Diplomasi Pasar Global Hingga Eksportir Perempuan

Fajarini Puntodewi menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam memanfaatkan momentum emas ini untuk jangka panjang.

“Melalui implementasi Indonesia-Chile CEPA dan penguatan promosi perdagangan, Indonesia terus mendorong perluasan akses pasar bagi produk-produk bernilai tambah dan berkelanjutan di pasar Chile,” ujar Fajarini Puntodewi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan.

Ketika pintu perdagangan menuju Amerika Latin telah terbuka lebar dan produk hijau Nusantara kian diakui dunia, masa depan ekspor Indonesia kini tidak lagi hanya bergantung pada kuantitas komoditas mentah. Keberhasilan ini menjadi pembuktian nyata bahwa kreativitas lokal yang dipadukan dengan kepedulian terhadap bumi mampu melahirkan daya saing global yang tinggi, membawa kehangatan produk Nusantara untuk mendekap erat pasar internasional dari hulu hingga ke hilir. (Gdi)