Bukan Beban, Menpora Sebut Olahraga Pendongkrak Ekonomi

Masyarakat tengah berolahraga di fasilitas yang disediakan pemerintah. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Bagi sebagian besar orang, olahraga mungkin hanya dipandang sebagai aktivitas membakar kalori demi menjaga kebugaran tubuh. Namun, di bawah nakhoda baru Kementerian Pemuda dan Olahraga, sektor ini tengah bersiap melakukan lompatan besar. Olahraga tidak lagi ditempatkan sebagai pos pengeluaran atau beban anggaran, melainkan sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang sangat menjanjikan.

“Kita punya sumber daya alam, industrialisasi, tetapi banyak yang terlupakan dengan wisata olahraga (sport tourism) sebagai potensi pendapatan,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Erick Thohir menegaskan pentingnya mengubah cara pandang seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dalam melihat industri ini. Menurutnya, citra nasional dan keuntungan finansial berjalan beriringan saat sebuah negara mampu mengelola potensi olahraganya dengan matang. Secara global, industri wisata olahraga bahkan telah membuktikan tajinya dengan menyumbang pendapatan hingga mencapai Rp9.800 triliun, disertai tren pertumbuhan sekitar delapan persen setiap tahunnya.

Baca Juga :  Aktif Berdayakan UMKM, BRI Kembali Selenggarakan Program Inovatif ‘Pengusaha Muda BRILiaN 2023’

Angka pertumbuhan global tersebut dinilai sejalan dengan target Indonesia yang sedang berupaya memacu perekonomian nasional ke angka delapan persen. Demi mengejar target besar itu, pemerintah berkomitmen penuh untuk terus mendorong penyelenggaraan berbagai ajang olahraga, baik dalam skala nasional maupun dunia. Langkah ini diyakini mampu memicu efek domino yang positif bagi pertumbuhan sektor-sektor penunjang lainnya.

Salah satu bukti nyata yang paling dekat dengan keseharian masyarakat adalah maraknya fenomena lomba lari maraton (marathon). Saat ini, Indonesia mencatatkan sedikitnya 104 perhelatan ajang lari dengan total peserta mencapai 10,4 juta pelari. Ledakan jumlah peminat ini tentu melahirkan ekosistem ekonomi baru yang sangat masif.

Baca Juga :  Kinerja KAI Group Tumbuh 8,15 Persen: Penggerak Mobilitas, Ekonomi, dan Konektivitas Nasional

“Dari angka itu saja bisa dibayangkan berapa transaksi yang tercipta dari pembelian sepatu lari,” tambah Erick Thohir menekankan betapa besarnya perputaran uang di sektor hilir.

Dampak nyata dari wisata olahraga ini paling sering terasa saat akhir pekan. Kota-kota yang awalnya bukan menjadi tujuan utama wisata, mendadak ramai dikunjungi orang dan mencatatkan lonjakan keterisian kamar hotel hingga penuh total. Erick Thohir mencontohkan kesuksesan ajang lari di Bandung yang berhasil menjaring hingga 20 ribu pelari, serta di Mandalika, Nusa Tenggara Barat, yang sukses memikat 10 ribu peserta.

“Para pelari tentu harus mencari tempat untuk menginap, memenuhi kebutuhan makan minum sehingga akan berdampak pada perputaran ekonomi di lokasi kegiatan,” jelas Menpora.

Baca Juga :  Tertarik Jadi Investor pada Peer to Peer Lending? Pahami Dulu 5 Risikonya

Selain olahraga lari, potensi serupa juga tersimpan besar pada cabang olahraga selancar air (surfing). Karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ombak-ombak terbaik dunia menjadikannya modal kuat untuk menarik para peselancar internasional. Kini, lewat kesamaan pola pikir yang terus dibangun pemerintah, olahraga siap bertransformasi menjadi salah satu pilar utama yang menghidupkan pelaku usaha lokal, menggeliatkan pariwisata daerah, sekaligus menyumbang pendapatan besar bagi kas negara.

Melihat antusiasme yang begitu besar, olahraga kini bukan lagi sekadar hobi di waktu luang, melainkan sebuah industri masa depan yang menguntungkan. Sudah saatnya kita semua menyambut era baru ini dengan ikut berpartisipasi aktif, baik sebagai penikmat gaya hidup sehat maupun penggerak ekonomi kreatif di setiap gelaran olahraga tanah air. (Gdi)