Kementerian Kebudayaan Siap Dorong Sastra Nusantara Mendunia Lewat MTN

Menteri Kebudayaan Fadli Zon. HO-Kemenbud

WANITAINDONESIA.CO – Karya sastra sejati tidak pernah lahir di ruang hampa. Di balik lembar halaman yang menyentuh kalbu, ada rantai panjang yang bergerak dari hulu ke hilir demi menghidupkan sebuah cerita. Menyadari hal tersebut, Pemerintah Indonesia berkomitmen penuh untuk memperkuat ekosistem sastra tanah air, salah satunya melalui program strategis Manajemen Talenta Nasional (MTN). Langkah nyata ini menjadi angin segar bagi masa depan industri kreatif dan literasi di Indonesia.

“Kita menjadikan sastra ini salah satu bagian dari pengembangan ekosistem bersama dengan Manajemen Talenta Nasional. Sastra tentu tidak akan tumbuh hanya dengan kehadiran para penulis berbakat. Kehidupan sastra akan berkembang ketika seluruh ekosistemnya dapat berjalan dengan baik dari hulu ke hilir,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka pagelaran Sasana Sastra di Jakarta pada hari Kamis.

Fadli Zon menguraikan bahwa mata rantai ekosistem ini sangat kompleks. Prosesnya dimulai dari penciptaan karya atau produksi, berlanjut ke penerbitan, distribusi, penerjemahan, promosi, hingga penyediaan ruang apresiasi berupa festival dan pembentukan komunitas-komunitas yang aktif menghidupkan karya sastra tersebut. Sebagai institusi yang baru lahir dua tahun lalu, Kementerian Kebudayaan mengambil peran sentral untuk memperkuat, menghubungkan, dan memperluas dampak dari berbagai inisiatif yang sudah berjalan melalui kebijakan yang tepat sasaran.

Baca Juga :  Inovasi Daur Ulang Sampah Plastik BRI Dapat Dukungan Menteri UMKM dan Raffi Ahmad

Komitmen tersebut dibuktikan dengan merangkul sedikitnya 18 festival sastra di Indonesia melalui sebuah konsorsium festival nasional, yang bertujuan meningkatkan apresiasi sastra hingga ke pelosok daerah. Upaya perluasan akses ini juga diwujudkan lewat pembagian karya-karya terbaik langsung kepada masyarakat jelata.

“Kurang lebih ada 3.225 karya sastra terpilih didistribusikan ke masyarakat melalui 35 kantong komunitas sastra yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun 2025 lalu kita juga sudah mendorong regenerasi 7.500 talenta sastra melalui mekanisme manajemen talenta nasional di bidang sastra,” tambah Fadli Zon.

Baca Juga :  Kementerian UMKM Dukung Pengembangan Usaha Tempe

Geliat ini membuahkan hasil nyata pada tahun 2025 lalu. Melalui fasilitasi kementerian dalam program MTN, enam karya sastra klasik Indonesia telah berhasil dialihbahasakan demi menjangkau pembaca global (go international). Karya-karya monumental tersebut antara lain Azab dan Sengsara (Of Pain and Sorrow) buah pena Merari Siregar, Dua Dunia/Keajaiban di Pasar Senen (Two Worlds) karya NH Dini, dan Kehilangan Mestika (To Lose a Treasure) karya Hamidah. Tidak ketinggalan, novel Tanah Gersang (Barren Land) karya Mochtar Lubis, Surat Kertas Hijau (A Green Paper Letter) karya Sitor Situmorang, serta kumpulan puisi Balada Orang-Orang Tercinta (Ballad of The Beloved People) karya W.S. Rendra, bersama 15 karya kontemporer lainnya turut diterjemahkan.

Pemerintah juga membuka karpet merah bagi para penerjemah dan promotor muda untuk menjadi jembatan penting dalam mengenalkan keindahan bahasa Indonesia ke kancah global (kancah internasional). Dukungan finansial bahkan diberikan kepada penerjemah warga negara asing yang bersedia membeli hak cipta karya sastra nasional.

Baca Juga :  Haji 2026, Kemenhaj Rampungkan Struktur Kelembagaan Kanwil dan Kantor Kemenhaj

Sastra kini bukan lagi sekadar pelipur lara, melainkan satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang diharapkan dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Di tengah kekayaan Indonesia sebagai negara megadiversitas (keanekaragaman hayati dan budaya yang tinggi) yang merentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, sastra adalah cermin identitas bangsa. Dengan 1.340 etnis suku bangsa dan 718 bahasa yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, kekayaan sastra ini diharapkan akan terus bertumbuh, menginspirasi, dan berkelanjutan melintasi zaman.

Membaca karya sastra bukan hanya tentang menikmati untaian kata, melainkan merayakan kekayaan jiwa sebuah bangsa. Mari bersama-sama mengapresiasi dan menjadi bagian dari ekosistem sastra ini, agar cerita-cerita hebat dari tanah nusantara tetap abadi dan terus bergema di panggung dunia. (Gdi)