Bayu Krisnamurthi: Program MBG Ubah Paradigma Pangan Menjadi Gizi

Pakar Pertanian Bayu Krisnamurthi. (Gdi)

WANITAINDONESIA.CO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar inisiatif pemenuhan pangan biasa, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Pakar Pertanian, Prof. Bayu Krisnamurthi, menekankan bahwa program ini membawa misi mulia yang didukung oleh bukti saintifik mengenai pentingnya asupan nutrisi sejak dini bagi produktivitas di masa depan.

“MBG ini adalah sebuah program yang dilihat dari tujuan sangat mulia dan sangat baik. Secara saintifik sebenarnya terbukti bahwa program School Meal itu adalah salah satu investasi SDM paling produktif yang pernah ada dalam sejarah PBB. Ada riset yang membuktikan satu dolar yang dialokasikan untuk makan siang sekolah, hasil imbal baliknya termasuk yang paling besar,” ujar Prof. Bayu Krisnamurthi dalam paparannya.

Namun, ia memberikan catatan penting bahwa dampak dari investasi gizi ini tidak terjadi secara instan, melainkan dalam hitungan dekade.

Baca Juga :  Kementerian UMKM Dorong Pengusaha Madu Lokal Masuk Rantai Pasok Program MBG

Menurutnya, jika seorang anak mendapatkan gizi cukup saat ini, kapasitas belajarnya akan meningkat, dan saat dewasa nanti ia akan menjadi tenaga kerja yang jauh lebih produktif. Logikanya, jika program dimulai saat anak berusia 10 tahun, maka dampak signifikannya baru akan terlihat saat ia menginjak usia 25 tahun.

Selain soal investasi SDM, Prof. Bayu menyoroti pergeseran besar dalam cara pandang masyarakat terhadap makanan yang dipicu oleh kehadiran program MBG ini. Ia menilai sudah saatnya Indonesia meninggalkan pola pikir lama yang menganggap pangan hanya sekadar komoditi pokok.

“Satu pelajaran yang sangat penting dari MBG adalah bahwa food is nutrition, pangan adalah gizi. Kita sekian lama, sejak tahun 70-an misalnya, menganggap pangan adalah beras atau sekadar komoditi. MBG memberikan pelajaran bahwa pangan adalah gizi, dan ini sebuah perubahan mindset yang sangat penting,” tegasnya.

Baca Juga :  Kelompok Wanita Tani Kagungan Ratu Sulap Kebun Jadi Sumber Gizi dan Cuan

Perubahan paradigma ini menuntut pemenuhan isi piring yang beragam dan berimbang. Prof. Bayu mengibaratkan pangan ideal seperti nasi rames yang lengkap; harus ada karbohidrat, protein, serta yang paling esensial namun sering terabaikan, yaitu serat dan vitamin dari sayur-sayuran.

Sayur kini tidak boleh lagi dianggap hanya sebagai bahan pelengkap, melainkan komponen strategis dalam kesehatan masyarakat.

Ironisnya, data menunjukkan bahwa tingkat konsumsi sayur di Indonesia masih jauh di bawah standar kesehatan global.

Berdasarkan riset WHO, konsumsi sayur masyarakat kita hanya berkisar 38,5 kilokalori per hari, sementara rekomendasi minimalnya adalah 62,5 kilokalori. Hal ini berarti konsumsi sayur di Indonesia harus ditingkatkan setidaknya dua kali lipat, bahkan bagi ibu hamil peningkatannya harus mencapai tiga kali lipat.

Kabar baiknya, kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Berdasarkan survei terbaru, sekitar 57 persen responden menyatakan ingin meningkatkan pola makan sehat dengan menambah porsi sayur-mayur. Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi permintaan atau demand, masyarakat sudah memiliki kemauan untuk hidup lebih sehat.

Baca Juga :  Menteri Wihaji tinjau pemberian MBG bagi Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita Non PAUD melalui Program DASHAT

Meski demikian, Prof. Bayu mengingatkan bahwa tantangan besar menanti di sisi penyediaan. Karakteristik sayur yang berbeda dengan beras atau daging menuntut penanganan khusus agar manfaat gizinya tetap terjaga sampai ke meja makan.

“Untuk bisa terjadi peningkatan permintaan ini, kita butuh sistem pangan sayuran yang khas. Kenapa? Karena yang kita bicarakan utamanya adalah sayuran segar. Berbeda dengan beras atau jagung yang bisa disimpan lama, atau buah yang bisa diolah jadi jus, sayur dibutuhkan dalam kondisi segar dan harus tersedia setiap hari. Ini membutuhkan satu sistem pangan sayuran yang benar-benar berbeda,” pungkasnya. (Gdi)