
WANITAINDONESIA.CO – Diabetes sering kali dijuluki sebagai pembunuh senyap karena kemampuannya merusak organ tubuh secara perlahan tanpa disadari oleh penderitanya. Anggapan bahwa penyakit ini hanya berkaitan dengan kadar gula darah tinggi kini harus digeser. Fakta medis terbaru menunjukkan bahwa diabetes merupakan kondisi serius yang menjadi pemicu utama komplikasi fatal pada organ-organ vital, seperti jantung, pembuluh darah, dan ginjal. Menyadari urgensi tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong) berkolaborasi dengan Siloam Hospitals Surabaya menggelar bincang kesehatan (health talk) untuk mengedukasi pasien mengenai pentingnya deteksi dini.
Tantangan kesehatan ini menjadi perhatian khusus di wilayah Jawa Timur. Berdasarkan data infografis resmi, jumlah estimasi penderita diabetes usia 15 tahun ke atas di provinsi tersebut menembus angka 854.454 jiwa, dengan kontribusi Kota Surabaya mencapai 104.363 pasien. Angka yang masif ini menegaskan bahwa langkah preventif dan pemahaman komprehensif mengenai bahaya sekunder diabetes sudah berada pada tahap mendesak.
Salah satu ancaman paling berbahaya dari penyakit ini adalah hilangnya alarm alami tubuh saat terjadi serangan jantung. Kadar gula darah yang melonjak dalam jangka panjang dapat merusak sistem saraf, termasuk saraf yang bertugas mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak.
“Pasien diabetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata,” ujar Prof. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.
Prof. Yudi Her Oktaviono menjelaskan bahwa ketika pembuluh darah koroner mengalami penyumbatan akibat penumpukan kolesterol jahat (LDL-C) atau pengerasan dinding pembuluh darah (aterosklerosis), pasien kerap tidak merasakan nyeri dada yang khas. Oleh karena itu, ia mengampanyekan prinsip penanganan “Semakin Cepat, Semakin Rendah, Semakin Baik” (The Sooner, The Lower, The Better). Pengobatan untuk mengontrol kolesterol harus dimulai sedini mungkin demi mencegah penyempitan pembuluh darah yang memicu stroke dan serangan jantung koroner.
Kerusakan akibat diabetes ternyata tidak berhenti pada sistem peredaran darah saja, melainkan menjalar hingga ke organ penyaring darah. Gangguan pada ginjal akibat kadar gula tinggi juga sering kali baru terdeteksi saat kondisinya sudah memasuki stadium lanjut.
“Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak jaringan ginjal secara bertahap, seperti filter yang aus seiring waktu,” kata Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, Subsp. EMD(K), FINASIM, FACP, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi.
Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo mengingatkan para pasien untuk bersikap proaktif melakukan tiga tes laboratorium berkala. Pemeriksaan tersebut meliputi uji rata-rata kendali gula darah (HbA1c), deteksi kebocoran protein dalam urine (UACR), serta penilaian kemampuan laju penyaringan ginjal (eGFR). Langkah ini krusial agar penurunan fungsi organ dapat diantisipasi sebelum terlambat.
Melalui integrasi tim dokter multidisiplin, pemantauan kesehatan pasien diabetes kini diarahkan pada perawatan menyeluruh yang protektif terhadap organ dalam.
“Edukasi diabetes tidak boleh berhenti pada penurunan kadar gula darah saja. Pasien dan keluarga perlu memahami bahwa diabetes dapat secara diam-diam memengaruhi jantung, ginjal, pembuluh darah, dan kualitas hidup secara keseluruhan,” tutur dr. Maria Magdalena Padmidewi, Sp.PK, Direktur Siloam Hospitals Surabaya.
Langkah preventif ini turut didukung oleh inovasi dunia farmasi yang terus meluncurkan ragam terapi lanjutan untuk mengendalikan kolesterol dan diabetes tipe dua secara lebih efektif. Kombinasi obat pengendali lemak darah (dislipidemia) dan varian terapi baru diharapkan mampu menjadi bantalan pelindung bagi organ tubuh pasien.
“Ketika pasien memahami sejak dini hubungan antara diabetes dan komplikasi yang berkembang secara diam-diam, mereka dapat memulai langkah pencegahan sebelum terjadi kerusakan organ yang tidak dapat dipulihkan,” pungkas Baik In-hyun, Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division (Kepala Divisi Bisnis Daewoong Pharmaceutical Indonesia).
Kesehatan adalah aset paling berharga yang membutuhkan perlindungan aktif, bukan sekadar penanganan saat gejala klinis sudah terasa. Mengetahui bahwa komplikasi diabetes dapat menyerang tanpa peringatan, pemeriksaan medis berkala secara rutin merupakan investasi terbaik untuk masa depan yang produktif. Jangan tunggu hingga tubuh mengirimkan sinyal darurat; mulailah langkah deteksi dini Anda bersama keluarga tercinta sekarang juga. (Gdi)




