
WANITAINDONESIA.CO – Ramadan senantiasa meninggalkan banyak kenangan berkesan.
Salah satunya acara buka puasa bersama (bukber) yang paling banyak diselenggarakan oleh komunitas muslim seperti keluarga, pertemanan, kantor, organisasi, dlsbnya.
Dipastikan hampir semua pusat kuliner dari resto, cafe, rumah makan hingga warung yang menjual kuliner favorit dipenuhi oleh mereka yang hendak melewatkan waktu berbuka. Harus reservasi, bila tidak dipastikan Anda tak kebagian tempat. Ini menjadi hal lumrah sepanjang Ramadan.
Bukber menjadi magnet, tak hanya bagi umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa, mereka yang sengaja meninggalkan puasa tak mau kalah, tanpa malu ataupun merasa berdosa, ikut menyemarakkan suasana berbuka.
Bagi non muslim, bukber memiliki dimensi lain. Menjadi pemikat pandang lewat kemeriahan yang tercipta dari suasana syahdu Ramadan. Lekat dengan keakraban satu dengan lainnya. Hadirkan pengalaman berharga dari godaan keberagaman kuliner tradisional yang disajikan. Lezat, khas, serta hanya bisa dijumpai di momen Ramadan.
Sebutlah Mi Glosor Bogor, Bubur Samin Banjarmasin, Ketan Bintul Banten, Sotong Pangkong Pontianak, Kicak Yogya, serta varian menu lainnya nan khas Ramadan.
Juga didukung dengan ambience islami, hiburan pengiring ketika berbuka, serta elemen lainnya yang membuat suasananya semakin meriah. Kesemua menjadi pemikat bagi umat non muslim.
Intinya vibes Ramadan, lekat dengan ambience syahdu, semarak, dan juga guyub.
Untuk komunitas seperti pertemanan, bukber menjadi momentum istimewa khususnya bagi mereka yang memiliki bakat menjadi event organizer. “Jangan kaleng-kaleng, harus berbeda dari tahun sebelumnya.
Pikirkan seputar tema acara, pilihan resto, menu masakan, dress code, surprised gift, hingga materi kultum (kuliah tujuh menit). Ini yang kerap diingatkan oleh circle Katyusha, Food Enthusiast.
Circle pertemanan yang berjumlah 10 orang tersebut mewajibkan masing-masing anggotanya berperan sebagai EO, secara bergantian setiap Ramadan. Dikarenakan bukbernya hanya sekali selama Ramadan, penanggung jawab harus menghadirkan acara yang dinilai sukses, meriah, dan berkesan untuk seluruh anggota.

Pahami Kata Cukup
Salah satu gong acara adalah kultum. Masing-masing anggota harus memberikan materi yang menyesuaikan dengan kejadian atau hal-hal yang relevan dengan ibadah puasa.
Katyusha membahas ihwal makanan berbuka menyelaraskan sunah Rasulullah SAW. Tak mau ribet, dan takut salah, Katyusha mengajak karibnya yang merupakan pendakwah muda terkenal untuk memberikan kultum. Yang bersangkutan enggan ditulis namanya.
Suasana jelang berbuka di sebuah restoran favorit menjadi berbeda, penuh dengan antusiasme peserta yang merasa tertarik dengan paparan materi ceramah. Diantaranya mencontoh sunah Rasul saat berbuka yang faktanya Yang Mulia hanya berbuka dengan mengonsumsi kurma basah maupun kering.
“Rasul tak pernah memilih bahkan meminta makanan khusus ketika berbuka. Seadanya, utamanya halal, dan tayib. Bila hanya ada air putih, cukuplah air tersebut sebagai sarana Baginda berbuka.
Tak ada menu lain selayaknya bukber umat terkasih beliau di akhir zaman. Cukup kurma, atau air putih saja, “terang dai kondang tersebut.
Ustaz yang mengenakan busana bergaya kurta putih menjelaskan, “Ramadan sesungguhnya mengajarkan kita untuk memahami, dan mempraktikkan kata Cukup, karena hakikatnya berpuasa adalah menahan diri dari dari berbagai hal yang berlebihan.”
“Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf Ayat 31: “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap memasuki rumahKu (masjid). Makan, minumlah , tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan, “ujarnya.
“Karenanya, Islam mengajarkan keseimbangan dalam makan, dan minum. Allah berfirman, “Makan, dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS.Al-A’raf Ayat: 31), “imbuh Ustaz.
Rasullullah SAW telah mengajarkan pola makan umat Islam yakni makan dengan seimbang berupa 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air, dan 1/3 untuk udara/napas. (HR.Tirmidzi).
Hikmah berbuka puasa sesuai ajaran Rasulullah SAW dengan menyantap kurma, dan air dikarenakan kurma mengandung gula alami yang sangat cepat mengembalikan energi, setelah sehari penuh berpuasa. Tanpa membebani sistem pencernaan.
Air berfungsi untuk menghidrasi tubuh. Karenanya berpuasa bermanfaat untuk kesehatan diantaranya meningkatkan metabolisme, dan mengurangi risiko penyakit kronis. Kurma menjadi superfood Ramadan, dan dalam keseharian umat Islam.
Agar momen Ramadan tak lagi identik dengan food waste, umat Islam dituntut untuk kembali ke Sunnah agar tidak berbelanja, membeli bahan pangan secara berlebihan. Karenanya penting untuk membuat perencanaan menu Ramadan dari mulai sahur hingga berbuka secukupnya.
Namun pengecualian ketika muncul niat untuk memberikan makanan ke tetangga, musafir maupun ke masjid untuk berbuka, dikarenakan orang yang memberikan makanan kepada orang yang sedang berbuka, akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka.
Seandainya masih tersisa makanan berbuka sebaiknya panaskan, simpan, dan dimakan kembali saat sahur.

Segelas Es Kuwut & Oliebollen
Sesaat sebelum berbuka pihak resto telah menghantarkan rangkaian menu berbuka seperti Es Kuwut Bali, Olibollen (roti goreng Belanda), Klaufuti kurma, dan aneka umbi yang di steam.
“Dug…dug…dug…salah seorang pramusaji memukul bedug mini yang diletakkan di sudut resto, tanda waktu berbuka tiba.
Wajah-wajah yang semula pias (pucat, bhs Sunda) merona bahagia.
Dan apa yang terjadi? segelas es menjadi pelepas dahaga menu pertama berbuka. Dilanjutkan dengan Olibollen, roti goreng Belanda. Seorang tak cukup hanya menyantap sepotong roti goreng kismis yang dilumar gula tepung, dan kayu manis bubuk. Namun habis beberapa potong!. “Hmmm, yum!.
Spontan Katyusha protes sembari melihat ke ustaz, dan teman-temannya. “Lho kok gak selaras ya dengan materi ceramah barusan. Sunnah Rasul kan berbuka harus diawali dengan yang manis-manis, salah satunya kurma, superfood Ramadan. Kok malah tidak ada satupun yang mengonsumsinya, “prosesnya.
Suasana seketika menjadi riuh. Salah satu anggota circle menampik, dan berkata, “Awalnya ya harus mengutamakan selera Indonesia dahulu dong yakni gorengan, kemudian baru selaras Sunnah Rasul menyantap ajwa, cetusnya.
Agar tak terjebak dalam debat kusir yang dapat mengurangi amalan Ramadan, Dai muda yang familiar di sejumlah acara islami tersebut lalu menengahi dengan bijak. “Tak masalah, yang penting di meja telah disediakan makanan favoritnya Baginda Nabi. Inshaa Allah nanti akan dikonsumsi teman-teman. Dikarenakan untuk merubah kebiasaan yang telah dilakukan sejak kecil, harus dilakukan secara bertahap, butuh waktu, dan senantiasa berproses, “terangnya.
“Terpenting saya telah menyampaikan nasihat, ajaran Rasul. Inshaa Allah nanti bisa dilaksanakan. Ketika besok kembali berpuasa, dan berbuka, teman-teman sudah memiliki mindset yang baik, ihwal keutamaan hidup dengan menjalankan sunnah, yang selaras ajaran Baginda Rasulullah SAW.
Diantaranya dengan menyantap kurma, dan air putih terlebih dahulu, dan manfaatnya bagi kesehatan tubuh kita, “pungkasnya. (*)




