Alas Roban: Ketika Cinta Seorang Ibu Berhadapan dengan Teror Paling Kelam

Alas Roban adalah ruang sunyi yang menyimpan trauma kolektif, mitos kelam, dan cerita-cerita yang diwariskan lewat bisik-bisik malam. (Foto : Instagram)

WANITAINDONESIA.CO – Bagi masyarakat Jawa, Alas Roban bukan hanya nama sebuah hutan yang membelah jalur Pantura di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ia adalah ruang sunyi yang menyimpan trauma kolektif, mitos kelam, dan cerita-cerita yang diwariskan lewat bisik-bisik malam. Tentang kecelakaan tragis, jasad tanpa nama, hingga kerajaan gaib yang konon bersemayam di balik pepohonan jati yang menjulang rapat.

Kini, legenda urban yang selama ini hidup di warung kopi pinggir jalan dan cerita sopir bus malam itu menemukan wujudnya di layar lebar lewat film Alas Roban, yang tayang mulai 15 Januari 2026. Diproduksi MD Pictures dan disutradarai Hadrah Daeng Ratu, film ini menawarkan lebih dari sekadar teror visual. Ia menyajikan horor yang menyelinap perlahan, berpadu dengan drama keluarga yang terasa dekat dengan keseharian banyak perempuan.

Cerita berpusat pada Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal yang tampak kuat di luar, namun rapuh oleh tekanan hidup. Tinggal di Pekalongan dengan kondisi ekonomi pas-pasan, Sita menggantungkan harapan besar pada tawaran pekerjaan di sebuah rumah sakit di Semarang. Pekerjaan itu bukan sekadar soal karier, melainkan peluang untuk memberi masa depan yang lebih baik bagi putri semata wayangnya, Gendis (Fara Shakila).

Baca Juga :  Michelle Ziudith Bakal Perankan Karakter Amira di Film Assalamu’alaikum Baitullah

Gendis bukan anak biasa. Ia memiliki keterbatasan penglihatan yang membuatnya sangat bergantung pada sang ibu. Maka ketika Sita memutuskan membawa Gendis pindah malam itu juga menggunakan bus malam, keputusan tersebut terasa begitu emosional. Ia adalah pilihan seorang ibu yang nekat, penuh cinta, dan tak sepenuhnya menyadari risiko yang menanti.

Perjalanan mereka berubah menjadi mimpi buruk ketika bus mogok tepat di tengah hutan Alas Roban yang gelap dan sunyi. Di sanalah ketegangan perlahan dibangun. Udara terasa berat, malam terasa dingin, dan sejak saat itu, Gendis mulai menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan. Ia sulit tidur, berteriak histeris, dan menggambar simbol-simbol aneh yang tak dipahami siapa pun.

Gangguan itu ternyata bukan kebetulan. Gendis menjadi incaran Dewi Rara (Imelda Therinne), penguasa gaib hutan Alas Roban yang murka akibat pelanggaran janji ritual di masa lampau. Sita, yang awalnya berpijak pada logika, dipaksa membuka diri pada dunia yang tak kasatmata. Bersama sepupunya, Tika (Taskya Namya), sopir ambulans misterius bernama Anto (Rio Dewanto), dan Bu Emah (Ruth Marini), seorang penjaga spiritual, Sita harus berpacu dengan waktu demi menyelamatkan anaknya dari kegelapan yang mengintai.

Baca Juga :  Film Pabrik Gula Tayang di IMAX dan Bioskop Seluruh Indonesia Lebaran 2025
Foto : Instagram

Hadrah Daeng Ratu dengan cermat membangun atmosfer sejak menit pertama. Kamera yang mengambil sudut pandang dari dalam kendaraan, cahaya lampu yang membelah gelap, serta penampakan samar di tepi jalan berhasil menciptakan rasa tak nyaman yang perlahan menggerogoti penonton. Pencahayaan minim dan kabut hutan yang tebal membuat Alas Roban terasa hidup, seolah mengamati setiap manusia yang melintas.

Menariknya, film ini tidak bergantung pada musik horor konvensional. Alunan gamelan lirih, desau angin, dan bisikan samar menciptakan teror yang lebih intim dan membumi. Horor terasa dekat, bukan sekadar kejutan sesaat.

Keputusan menempatkan Gendis sebagai anak dengan keterbatasan penglihatan menjadi elemen visual yang kuat. Penonton diajak melihat dunia dari sudut pandangnya yang buram, membuat sosok gaib justru terasa lebih menakutkan karena tak sepenuhnya terlihat. Fara Shakila tampil mengesankan, menghadirkan ketakutan dan kepolosan tanpa berlebihan.

Michelle Ziudith menjadi jangkar emosional film ini. Ia menghadirkan sosok ibu yang manusiawi, penuh rasa bersalah, ketakutan, sekaligus keberanian yang lahir dari cinta. Hubungannya dengan Gendis menjadi jantung cerita, membuat Alas Roban terasa personal dan menyentuh, bahkan di tengah teror supranatural.

Baca Juga :  Michelle Ziudith Ungkap Pengalaman Emosional di Sinetron Jejak Duka Diandra

Lebih dari kisah hantu, Alas Roban menyimpan kritik sosial yang halus. Hutan digambarkan sebagai entitas yang memiliki ingatan. Ia adalah simbol alam yang terpinggirkan, dieksploitasi, dan dilupakan kesakralannya. Sebuah pengingat bahwa modernitas yang melaju tanpa empati kerap meninggalkan luka.

Meski demikian, film ini bukan tanpa cela. Beberapa jumpscare terasa familiar, dan alur di paruh awal mungkin terasa lambat bagi penonton yang mengharapkan ketegangan instan. Namun kekurangan tersebut tertutupi oleh kekuatan emosional dan atmosfer yang konsisten.

Pada akhirnya, Alas Roban bukan hanya tentang teror di jalanan sunyi. Ia adalah kisah tentang keberanian seorang ibu, tentang cinta yang membuat seseorang berani melangkah ke dalam gelap, dan tentang batas paling ekstrem yang bisa dilalui demi melindungi anaknya. Sebuah horor lokal yang tak hanya menakutkan, tetapi juga menggetarkan hati. (Ver)