Akhir Riwayat Tiang Monorail Sebagai Simbol Proyek Tanpa Perencanaan Matang

Tiang monorail. (WI/HO-Pemprov DKI Jakarta)

WANITAINDONESIA.CO – Setelah 22 tahun berdiri tanpa kepastian dan menjadi saksi bisu ambisi transportasi massal yang kandas, tiang-tiang beton monorel di sepanjang Jalan HR Rasuna Said akhirnya mulai dipotong. Langkah berani ini diambil oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung guna menata ulang estetika kota dan memperluas kapasitas jalan di salah satu jantung bisnis ibu kota tersebut.

Alasan Penghentian: Dari Sengketa Lahan hingga Masalah Finansial

Proyek monorel Jakarta resmi dianggap “mati” setelah melalui rentetan kegagalan administratif dan finansial selama dua dekade. Ada tiga alasan utama mengapa proyek ini tidak dilanjutkan:

  1. Pelanggaran Tata Ruang: Pengembang (PT Jakarta Monorail) gagal memenuhi syarat pembangunan depo di Tanah Abang dan Waduk Setiabudi karena melanggar aturan tata ruang.
  2. Krisis Kredibilitas Finansial: Sejak 2005 hingga upaya penghidupan kembali di 2013, investor gagal menyetor modal yang dijanjikan, sehingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi memutus kontrak pada 2015 di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.
  3. Masalah Teknis: Tiang yang sudah ada dianggap tidak lagi kompatibel dengan teknologi transportasi modern dan justru menjadi penghambat pembangunan infrastruktur baru seperti LRT Jabodebek yang jalurnya kini berdampingan.
Baca Juga :  Sekolah Lihat Wajah di DKI Jakarta Diawali 30 Agustus 2021, Ini 15 Aturannya

Rekam Jejak: Perjalanan 22 Tahun Proyek Monorel

  • 2004: Groundbreaking pertama oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dan Gubernur Sutiyoso.
  • 2005-2008: Proyek terhenti karena krisis modal investor Singapura.
  • 2011: Gubernur Fauzi Bowo memastikan pembangunan berhenti total.
  • 2013: Gubernur Joko Widodo mencoba menghidupkan kembali proyek, namun gagal di tahap perjanjian kerja sama.
  • 2015: Pemutusan kontrak resmi oleh Pemprov DKI Jakarta.
  • 2026: Gubernur Pramono Anung mengeksekusi pembongkaran total.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, “Minggu ini, monorel yang dibangun sejak 2004 kita bongkar. Saya ingin membereskan persoalan lama agar Jakarta semakin fungsional. Saya sempat bicara dengan Bang Yos (Sutiyoso), beliau merasa ini beban pribadi yang harus diselesaikan. Dengan dibongkar, estetika kota membaik dan lajur jalan bertambah.”

Baca Juga :  DPRD DKI Jakarta Dukung Edukasi Politik bagi Siswa Sekolah

Sekretaris Perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Rozi Sparta mengonfirmasi bahwa tiang-tiang tersebut secara hukum merupakan aset mereka berdasarkan putusan pengadilan tahun 2012.

“Kami terus menjalin komunikasi dengan Pemprov DKI untuk memastikan proses pembongkaran berjalan sesuai tata kelola perusahaan (GCG). Fokus kami adalah mencari solusi terbaik bagi aset tersebut mengingat secara teknis memang sudah tidak dapat digunakan kembali.”

Sedangkan Syafrin Liputo, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, menambahkan bahwa kajian teknis menunjukkan dampak positif bagi lalu lintas.

“Berdasarkan kajian, penataan kembali koridor Rasuna Said pasca-pembongkaran ini berpotensi menurunkan tingkat kemacetan antara 14% hingga 18%. Ruang yang tadinya terbuang untuk tiang akan dikembalikan menjadi lajur kendaraan dan trotoar yang lebih lebar.”

Baca Juga :  Update Banjir Jakarta, Ketinggian Air Ada Yang Capai 1,1 Meter

Apakah Jakarta Bebas Macet Tanpa Tiang Monorel? Pembongkaran ini bukanlah “obat ajaib” untuk menghilangkan macet Jakarta secara total, namun merupakan langkah krusial untuk normalisasi kapasitas jalan.

  • Pelebaran Lajur: Hilangnya tiang di tengah atau sisi jalan memberikan ruang tambahan bagi kendaraan, mengurangi bottleneck.
  • Keselamatan: Menghilangkan risiko kecelakaan akibat kendaraan yang menabrak tiang beton yang posisinya tidak ideal.
  • Estetika & Psikologis: Menghilangkan “sampah visual” yang selama ini memberikan kesan kota yang semrawut.

Meskipun kemacetan di Rasuna Said diprediksi turun signifikan, para ahli mengingatkan bahwa kebebasan Jakarta dari macet tetap bergantung pada integrasi transportasi massal lainnya seperti MRT dan LRT yang kini sedang beroperasi. (Gdi)