Ade Fitrie Kirana Bersuara Lantang Agar Anak Tak Dibesarkan Oleh Layar

Ade Fitrie Kirana menegaskan bahwa kecanduan gadget membuat anak mengalami pergeseran pola tumbuh kembang yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia.

WANITAINDONESIA.CO – Aktivis perempuan dan pemerhati anak Ade Fitrie Kirana menilai anak-anak di era kekinian, tengah mengalami masalah pada masa kecilnya. Teknologi digital sudah menggerus kenangan masa kecil yang tak bisa diulang kembali.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Ade Fitrie Kirana kembali bersuara lantang, bahwa “Anak bukanlah generasi yang harus dibesarkan layar.” Aktivis perlindungan perempuan dan anak itu menegaskan bahwa Indonesia sedang menghadapi situasi darurat yang sering kali diabaikan, yakni kecanduan gadget pada anak usia dini.

Terkait hal ini, data BPS di tahun 2024 menunjukkan angka yang mencengangkan, yakni 33,44% anak usia dini sudah menggunakan gadget, dengan persentase tertinggi pada usia 5–6 tahun. Sementara itu, survei KPAI menegaskan bahwa lebih dari 71,3% anak usia sekolah memiliki gadget, dan 79% di antaranya bebas menggunakannya untuk hiburan.

Buat Ade Fitrie Kirana, hal ini cukup mengkhawatirkan, karena tren ini bukan lagi sekadar pola hidup digital, melainkan alarm keras bagi kesehatan mental dan sosial generasi mendatang. “Anak sekarang kehilangan dua hal sekaligus,” ujar Ade Fitrie Kirana. “Dunianya, dan masa kecilnya.”

Baca Juga :  Wujudkan Pemerataan Fasilitas Pendidikan Melalui Revitalisasi dan Digitalisasi SMK di Kawasan Timur Indonesia

Dampak Berlapis yang Sering tak Disadari

Ade Fitrie Kirana menegaskan bahwa kecanduan gadget membuat anak mengalami pergeseran pola tumbuh kembang yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia. Ia menyebut fenomena ini sebagai “digital overstimulation” dimana anak dipaksa menerima rangsangan visual-emosional yang otaknya belum siap memproses.

Menurut Ade Fitrie Kirana, dampaknya dapat terlihat dalam 5 lapisan besar, antara lain:

1. Kehilangan Kemampuan Mengelola Emosi (Emotional Short-Circuiting)

Anak yang terlalu sering menatap layar cenderung kesulitan menunggu, mengendalikan marah, serta merespons situasi sosial yang tidak sesuai keinginan. Ade Fitrie Kirana menyebutnya sebagai “generasi tombol skip” dimana anak terbiasa mendapat hiburan instan, tetapi tidak terlatih menghadapi kekecewaan dunia nyata.

2. Menurunnya Naluri Sosial dan Empati

Gadget membuat anak tidak lagi membaca ekspresi wajah, bahasa tubuh, atau nada suara. “Interaksi digital itu datar,” kata Ade Fitrie Kirana. Ia menilai hal ini dapat melahirkan anak-anak yang secara sosial hadir, tapi secara emosional absen.

Baca Juga :  WanitaIndonesia.co Gelar pelatihan UMKM Demi Naikkan Kelas Pengusaha Melalui Digitalisasi

3. Kemampuan Belajar Melemah, Bukan Karena Anak Bodoh, Tapi Karena Otaknya Lelah

Ade Fitrie Kirana menekankan bahwa overstimulasi layar mengacaukan daya fokus jangka panjang. Guru sering salah paham dan mengira anak malas, tidak disiplin, atau sulit menangkap pelajaran. Padahal otaknya sudah jenuh oleh ritme cepat konten digital yang jauh berbeda dari ritme proses belajar di sekolah.

4. Keluarga Kehilangan Ikatan Dasar

Ade Fitrie Kirana menyoroti fenomena “silent household” dimana rumah jadi sepi bukan karena tidak ada orang, tapi karena semua memegang gadget masing-masing. Akibatnya, makan bersama hilang, anak kurang sentuhan emosional, serta komunikasi keluarga melemah. Menurut Ade Fitrie Kirana, ini berbahaya. Anak tumbuh, tapi tanpa kelekatan.

5. Anak Kehilangan Rasa Takjub dan Imajinasi

Ade Fitrie Kirana menjelaskan bahwa anak generasi layar cenderung tidak betah bermain di luar, cepat bosan pada permainan tradisional, dan jarang berimajinasi karena semua sudah disediakan oleh layar.
Ia menyebutnya “matinya ruang kosong.” Padahal ruang kosong itulah yang membentuk kreativitas dan karakter anak.

Baca Juga :  Dosen Umar Usman Sebut Digitalisasi Bikin Penjualan UMKM Naik 15 Kali Lebih Cepat

Solusi ala Ade Fitrie Kirana, “Layar Boleh Ada, Tapi Orang Dewasa Harus Lebih Hadir”

“Saya tidak pernah menyalahkan teknologi. Yang saya persoalkan adalah ketidaksiapan lingkungan dalam menghadapi perubahan besar ini,” ujar Ade Fitrie Kirana. Oleh karena itu, Ia terus menggiatkan adanya disiplin terkait pembatasan tegas terhadap durasi penggunaan gadget di kalangan anak.

“Kalau masa kecil mereka hancur, maka masa depan bangsa ikut runtuh. Mari hadir sebelum layer mengambil alih peran kita sebagai orang dewasa.”

Ade Fitrie Kirana menegaskan bahwa teknologi harus dikenali, bukan ditakuti. Namun pendampingan harus nyata, bukan simbolis. Bagi Ade Fitrie Kirana, menyelamatkan generasi dari kecanduan digital bukan sekadar isu orang tua, tapi gerakan sosial. Dan ia siap berada di garis depan perubahan itu. (GIE)