Prof. Ilma Nugrahani “Profesi Peneliti Itu Asyik Popularitasnya Melebihi Selebritis

D-STAR ubah cara pandang generasi muda ihwal dunia peneliti yang memiliki gengsi, populer serta dapat dilakukan dengan cara-cara yang mengasyikan. Prof.Ilma Nugrahani berbagi kiat menjadi peneliti mumpuni yang sebagian dasarnya telah dimiliki oleh calon peneliti muda perempuan di ekosistem D-STAR, (Ki-ka) Prof.Dr.apt.Ilma Nugrahani,S.Farm.,M.Si., Seminariat Ikatan Apoteker Indonesia, dan Guru Besar Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung, dr.Ian Kloer, Presiden Direktur PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, Astry Tri Astuti, Direktur Growth Ventures, PT Darya-Varia Laboratoria TBK, Juri D-STAR. Foto: Wanitaindonesia.co

WANITAINDONESIA.CO – Profesi peneliti di Indonesia masih dianggap pekerjaan yang kurang seksi, walau memiliki background pendidikan sekolah Sains dan Farmasi, generasi muda lebih senang berkarir sebagai influencer, lainnya sebagai aktris.

Hal ini diungkap oleh Prof.Dr.apt. llma Nugrahani, S.Farm,.MSi., Seminariat Ikatan Apoteker Indonesia, dan Guru Besar Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung, di hadapan peserta D-STAR beserta Dosen pembimbing serta petinggi Darya-Varia pada momen Media Gathering, dan Pengumuman Pemenang Peneliti Perempuan Darya-Varia, D-STAR 2026.

D-STAR merupakan program yang ditujukan sebagai salah satu investasi jangka panjang Darya-Varia guna mempersiapkan generasi muda perempuan untuk menjawab kebutuhan di industri kesehatan, sekaligus turut berkontribusi terhadap kemajuan sektor kesehatan di Indonesia.

Acara dikemas menarik dengan menghadirkan para pembicara inspiratif dari pucuk pimpinan PT Darya-Varia seperti dr.Ian Kloer, Presiden Direktur PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, Widya Tobing, Chairman of D-STAR 2026 Legal & Corporate Affairs Division Head, Corporate Secretary PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, dan Astry Tri Astuti, Direktur Growth Ventures PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, dan Juri D-STAR 2026.

Widya Tobing menegaskan, D-STAR merupakan wujud nyata upaya perusahaan dalam ikut mengembangkan talenta perempuan Indonesia, sekaligus turut mendorong agar hasil penelitian yang lahir dari kampus, dapat berkembang menjadi sebuah inovasi yang relevan. Berpotensi untuk diterapkan di industri serta dapat memberikan manfaat yang nyata, bagi masyarakat Indonesia.”

“Para mahasiswi terbaik ini merupakan representasi dari generasi baru perempuan Indonesia yang memiliki kemampuan, keberanian untuk berinovasi, belajar serta memberikan kontribusi bagi bangsa, dan negara, “ujarnya.

“D-STAR bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang sebagai peneliti, inovator maupun pemimpin di masa depan, “terang Widya.

“Lewat kemitraan dengan media massa, semoga akan lebih banyak lagi industri yang akan melaksanakan yang sama, yang seperti kami lakukan.”

“Kami percaya lewat pemberitaan yang positif, dan inspiratif akan semakin banyak generasi muda, khususnya perempuan yang akan terdorong untuk mengembangkan potensinya di bidang riset, dan kesehatan, “cetus Widya.

“Lewat penyelenggaraan musim ketiga D-STAR 2026 yang menghadirkan kolaborasi epik anak negeri tentunya akan memungkinkan kita secara bersama -sama membangun ekosistem talenta riset, yang semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan, “ujarnya.

Salah satu magnet pembicara hadir dari persona Prof. Ilma. Di mata mahasiswa-mahasiswinya merupakan pribadi yang asyik. Walau merupakan maha guru, sukses mencetak prestasi gemilang hingga ke tataran global, juga menjabat di sejumlah posisi bergengsi, beliau adalah seorang ibu yang tak jumawa, justru memiliki kelembutan hati serta menginginkan siswa didiknya maju bahkan lebih baik dari dirinya.

Saat berbicara memberikan saran seputar profesi peneliti di kalangan generasi muda, Prof. Ilma berbicara dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, tak menonjolkan siapa dirinya. Tak kaku terlebih formil agar disegani. Justru lewat kelembutan hati dipadu dengan ketegasan jiwa seorang pendidik, dia mampu memikat ekosistem peneliti D-STAR yang asyik mendengarkan arahan serta saran terbaiknya.

Baca Juga :  Duta Sheila On 7 Dikerubungi Warga Usai Salat Id di Sleman, Tetap Ramah Layani Foto Bersama

Prof.Ilma mengungkapkan beragam aspek ihwal dunia penelitian dari perspektif dirinya sebagai peneliti senior, yang ditujukan kepada anak-anak muda Indonesia.

Prof. Ilma menjelaskan, “Kondisi masyarakat sekarang berbeda dari sebelumnya. Yang mana pemerintah mengamanahkan dunia industri, agar tak lagi tergantung dengan bahan serta produk-produk impor. Tahap awal dilakukan dengan meningkatkan bahan baku obat nasional. Walau masih terkendala, saya berharap tahun depan akan semakin bertambah bahan bakunya di Indonesia, “ujar Prof.Ilma.

Widya Tobing, Chairman of D-STAR 2026, Legal &Corporate Affairs Division Head, Corporate Secretary, PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, “Para mahasiswi terbaik peserta program D-STAR merupakan representasi generasi baru perempuan Indonesia, yang memiliki kemampuan, keberanian untuk berinovasi, belajar, dan berkontribusi bagi bangsa. Foto: Wanitaindonesia.co

Kuasai Teknologi Budayakan Riset

“Untuk itu dibutuhkan riset untuk mendukung keberadaan bahan baku obat nasional yang murah, kompetitif dengan obat luar.”

“Tantangan lainnya, di era digital, dan AI dikenal pula pada pengembangan obat untuk mempercepat desain obat baru. Contohnya telemedicine di farmasi yang menjadi tren serta menembus batas negara. Saat ini pemerintah berharap ada produk yang bisa diproduksi lewat AI karya anak negeri.”

“Dengan kemampuan anak bangsa untuk memproduksi obat sendiri, sudah tentu akan berdampak positif diantaranya data-data penting yang kita miliki tak harus keluar, juga anggarannya bisa dihemat.”

“Sebagai bangsa besar, Indonesia harus mandiri, hal ini terkait dengan ketahanan bangsa di masa depan. Saat ini, jauh di lubuk hati terdalam, saya memandang asa bangsa ini dengan harap-harap cemas.”

“Mereka itu memiliki pemikiran cemerlang, potensi yang mengagumkan, bahkan mampu berkontribusi dengan sangat luar biasa lewat kemampuannya. Tapi di sisi lain ada kondisi yang tak menguntungkan di lingkup nasional serta tataran global, yang terkait dengan geopolitik global, “ujar Prof.Ilma.

Prof.Ilma berharap banyak kepada para generasi muda peserta D-STAR 2026 beserta ekosistemnya, untuk selalu optimis dengan terus berupaya, berjuang serta kerja keras, guna mewujudkan asa sebagai peneliti kebanggaan bangsa, dan negara.

“Menurut hemat saya, bukan hanya yang pintar, dan kuat yang mampu bertahan, melainkan mereka juga harus mampu beradaptasi dengan setiap perubahan zaman.”

“Namun kabar baiknya terapi biologis bio molekul yang sedang tren di masa sekarang seperti stem cell, berkembang sangat pesat. Salah satunya di Universitas Airlangga, Surabaya. Mereka tengah mengembangkan teknologi stem cell, dan kedokteran regeneratif melalui pusat penelitian khusus.”

“Bila hal ini terus dikembangkan secara sempurna, tentunya dapat memberikan pengalaman baru bagi pasien, untuk mendapatkan pengobatan yang dipersonalisasi, yang relevan untuk kondisi masing-masing pasien. Ini terkait erat dengan terapi awet muda, panjang umur.”

“Dalam sebuah pertemuan internasional, saya sempat bertukar pikiran dengan ahli dari Jepang. Ternyata mereka sedang membuat proyek untuk merancang usia hidup seseorang dalam batasan tertentu.Tujuannya untuk regenerasi kehidupan.”

“Selain itu mereka juga tengah merancang pengobatan personal, menyelaraskan dengan kondisi serta permasalahan kesehatan yang dialami pasien. Jadi rencananya tak akan lagi mempraktikkan konsep konvensional, dengan melakukan pengobatan yang sama untuk setiap pasien, “ungkap Prof.Ilma.

Menurut Prof.Ilma wilayah Indonesia yang sangat luas dengan populasi penduduk yang cukup besar, kesenjangan masih kerap terjadi.

Baca Juga :  Profesi ini Rentan Rehilangan Pekerjaan Akibat AI

“Kita wajib mengejar inovasi seperti negara maju lainnya, karena menyangkut harkat, dan martabat bangsa. Kita harus melihat perkembangan riset internasional seperti pemanfaatan AI guna mengatasi kesenjangan tersebut.”

“Saat saya turun ke daerah bencana di Sumatera beberapa waktu lalu, saya terpukul dengan ketiadaan obat. Di sana, di daerah bencana itu dibutuhkan telemedicine, dan telekomunikasi untuk mengatasi permasalahan tersebut.”

“Walau lekat dengan inovasi, bio farmasi harus berkelanjutan, ramah lingkungan yang menyoal aspek produksi dari hilir ke hulu. Di mulai dari produksi serta pengolahan limbah.”

“Saya masih melihat ada industri yang salah kaprah yang beranggapan keliru, yakni apa yang berasal dari alam limbahnya pasti aman tak akan mencemari lingkungan. Yang benar kan semua limbah dari hasil produksi harus ditangani secara profesional, “ujarnya.

“Menyoal keberagaman hayati Indonesia yang lekat dengan tanaman herbal sebagai bahan baku obat, yang mana produk berbasis biodiservitas Indonesia harus bisa kita lakukan.”

“Kita harus mampu membuat standarisasi obat herbal dari penggunaan bahan, pengolahan, komposisi dan lain sebagainya dengan mengacu ke Korea maupun Cina.”

“Untuk mengakomodir kebutuhan tersebut dibutuhkan riset. Riset merupakan keniscayaan. Semakin tajam riset yang dilakukan peneliti, otomatis cara mereka berpikir akan semakin kritis.”

Prof. Ilma menambahkan, “Dasarnya dapat membedakan yang benar, mana yang salah. Salah satu ciri negara yang maju bila individunya sudah menghargai hasil riset.”

Bunga Bangsa persembahan Darya-Varia lewat program D-STAR, untuk kedigdayaan Indonesia lewat kreativitas, inovasi, riset serta eksplorasi bersiap untuk mendukung kesehatan masyarakat Indonesia serta menuju generasi emas. Foto: Dokumentasi Darya-Varia.

Eksplorasi Kemampuan Agar Semakin Kompeten dan Percaya Diri

“Adik-adik calon peneliti masa depan harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mulai dari integritas, pendidikan serta penelitian.”

“Penting untuk diingat bahwa basis kepercayaan diri seorang peneliti adalah kompetensi.
Agar memiliki kepercayaan diri yang tinggi, rajin-rajinlah untuk mengeksplorasi kemampuan Anda, “ungkapnya.

Prof. Ilma menjelaskan, “Bila kalian kompenten, paham dengan apa yang hendak kalian riset, otomatis Anda akan lebih percaya diri. Tapi yang saya alami di lapangan saat membimbing para mahasiswa -mahasiswi, mereka menyerahkan hasil riset yang sangat bagus.”

“Namun apa yang terjadi kemudian, saat sidang sebagian besar anak-anak muda tersebut malah grogi tak percaya diri. Mereka merasa seperti akan ‘dihabisi’, padahal kan semua mereka buat sendiri.”

“Karenanya saya selalu berpesan, dan tak akan pernah bosan untuk berbagi saran. Kalian wajib menguasai kompetensi karena hanya dengan ini Anda tak akan tertekan. Dasar kompetensi itu adalah kebenaran yang sudah menjadi milik mereka yang kompeten, “tegasnya.

“Untuk memulainya kalian harus menguasai ilmu-ilmu dasar, harus berproses tak boleh melompat lewat jalan pintas yang tak terpuji, dikarenakan karir itu butuh upaya, perjuangan serta waktu panjang.”

“Memang kekinian ada yang namanya AI, namun teknologi yang sangat membantu pekerjaan ini tak boleh dijadikan arahan. Andalah yang menggerakkannya, “imbuh Prof. Ilma.

Permasalahan lainnya yang disorot Prof.Ilma adalah konsistensi. “Untuk masuk menjadi profesional butuh waktu panjang. Karir tak serta-merta meroket, harus dibangun lewat tahapan seperti ketekunan, disiplin, kerja keras juga mampu memetakan permasalahan ke depan itu akan seperti apa.”

Baca Juga :  Profesi ini Rentan Rehilangan Pekerjaan Akibat AI

Prof.Ilma mengakui bahwa generasi muda perempuan di Indonesia yang memilih berkarir sebagai peneliti, jumlahnya masih sangat sedikit dibanding kaum pria. Padahal
perempuan lebih banyak berkontribusi di bidang kesehatan. Perempuan dinilai unggul karena lebih teliti, sabar.

“Hal ini dipengaruhi oleh kompleksitas di dalamnya seperti bias gender. Kalian tak boleh terkalahkan oleh dogma gender, dan hal ini harus bisa kalian hapus sendiri. Karenanya untuk menunjukan siapa Anda, buktikan bahwa kalian adalah individu yang profesional, mampu memanage waktu dengan baik. Untuk memanage waktu dibutuhkan mental yang sehat.”

Saat ini banyak lulusan Sains, dan Farmasi yang berkarir di bidang lain tak sesuai dengan disiplin ilmunya. Prof.Ilma tak menampik. Menurutnya untuk menumbuhkan minat generasi muda agar tertarik jadi peneliti, mereka harus memiliki passion, selain itu dapat tumbuh dari lingkungan.

“Selain itu, mereka juga harus bangga terhadap riset, hal ini akan berdampak terhadap tumbuhnya passion. Riset harus dilakukan secara asyik, tak monoton dengan hanya berkutat di laboratorium.”

“Periset harus memiliki gaung untuk menyampaikan hasil risetnya ke masyarakat luas. Salah satu upayanya dengan mempromosikan hasil risetnya melalui media sosial, agar dapat turut berkontribusi terhadap perkembangan bangsa.”

Ekosistem D-STAR seperti industri, kampus, dosen, dewan juri, peserta, dan media saling dukung serta guyub untuk kemajuan Indonesia di bidang riset pada industri kesehatan. Foto: Wanitaindonesia.co

Dari D-STAR Lahir Versi Terbaik Marie Curie

“Bila circle mereka melihat profesi peneliti sebagai status yang ‘wow’, bergengsi, tentunya mereka yang berprofesi sebagai peneliti bisa bersinar melebihi profesi influencer maupun selebritis, “terang Prof.Ilma.

“Masyarakat akan menempatkan kalian di posisi terhormat lewat riset serta karya nyata, yang telah Anda buat yang berdampak pada kemaslahatan hidup masyarakat banyak.”

Pesan sejuk disampaikan pula oleh Prof.Ilma menyoal Gen-Z perempuan yang bercita-cita ingin menjadi peneliti. Peannya jangan pernah berhenti di tahapan manapun.

“Bila hasrat tersebut masih ada, jangan menyerah dengan keadaan, namun kejarlah. Kejarlah mimpi Anda, percaya setiap tantangan pasti ada jalan.”

“Last but not least upaya-upaya berkelanjutan yang dilakukan oleh asa bangsa, oleh perempuan-perempuan hebat ini, harus di support oleh ketersediaan lapangan kerja yang memadai.”

“Selain itu penting adanya pendanaan yang memadai, seperti yang diinisiasi oleh D-STAR untuk riset di institusi pendidikan serta di lembaga-lembaga pendidikan, “cetus Prof.Ilma.

“Lewat program D-STAR yang berkelanjutan, ini akan menjadi magnet buat peneliti muda. Kita butuh kolaborasi yang solid para pemangku kepentingan, pemerintah beserta ekosistemnya.”

“Saya berharap lewat program D-STAR riset farmasi di Indonesia bisa diaplikasikan di industri secara nyata serta berdampak.”

Harapan juga disampaikan kepada para pemenang, agar tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga memiliki keberanian untuk berinovasi serta berkolaborasi.

“Mengapa tidak dari ajang D-STAR kelak akan lahir peneliti muda, yang mampu memperoleh penghargaan tertinggi Nobel, seperti sosok Marie Curie yang mendapat hadiah Nobel Fisika, dan hadiah Nobel Kimia.”pungkas Prof. Ilman. (*)