WANITAINDONESIA.CO – Menjelang keberangkatan kelompok terbang (kloter) pertama pada 22 April 2026, antusiasme calon jemaah haji Indonesia mulai memuncak. Namun, di balik semangat spiritual yang membara, ada tantangan fisik besar yang menanti di Tanah Suci.
Kepala Pusat Haji Kementerian Kesehatan, Liliek Marhaendro Susilo, memberikan peringatan dini, terutama bagi jemaah yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
Mengingat kuota tahun ini mencapai 221.000 orang, manajemen kesehatan mandiri menjadi kunci agar ibadah tetap khusyuk tanpa kendala medis.
Pentingnya pemanasan fisik agar tubuh tidak kaget. Liliek menyarankan jemaah mulai membiasakan olahraga ringan minimal 30 menit setiap pagi. Jalan santai atau lari kecil sangat efektif untuk membangun stamina.
Aktivitas fisik di Tanah Suci (seperti Tawaf dan Sa’i) bisa setara dengan berjalan kaki sejauh 5-10 kilometer dalam sehari di bawah cuaca ekstrim. Tanpa latihan beban jantung (kardio) sejak di tanah air, jemaah berisiko mengalami kelelahan hebat (heat exhaustion) atau sesak napas.
Hal lain yang perlu diperhatikan disiplin mengonsumsi obat. Bagi pemilik komorbid, obat adalah “senjata” utama. Liliek menekankan pentingnya minum obat tepat waktu sesuai jadwal dokter.
Gunakan fitur pengingat (alarm) di ponsel atau mintalah bantuan pendamping untuk memonitor jadwal minum obat.
Kemudian hal yang lebih penting lagi nutrisi dan pola hidup bersih.
Selain obat, pola makan tepat waktu dan sesuai rekomendasi medis sangat krusial. Jemaah dilarang abai terhadap asupan nutrisi hanya karena padatnya kegiatan.
Menurut para ahli kesehatan hulu (preventif), ada tiga alasan mengapa persiapan ini tidak boleh disepelekan:
- Fluktuasi Tekanan Darah & Gula Darah: Perubahan suhu yang drastis antara siang dan malam di Arab Saudi dapat memicu ketidakstabilan tekanan darah bagi penderita hipertensi dan kadar gula bagi penderita diabetes.
- Risiko Dehidrasi: Seringkali jemaah tidak merasa haus karena udara kering, padahal tubuh kehilangan cairan dengan cepat. Hal ini bisa memperburuk kinerja ginjal bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan fungsi ginjal.
- Kelelahan Fisik (Fatigue): Tubuh yang kelelahan menurunkan sistem imun secara drastis, membuat jemaah rentan terkena virus pernapasan atau infeksi lainnya.
Ibadah haji adalah ibadah fisik. Mempersiapkan kesehatan sejak hari ini adalah bagian dari ikhtiar untuk meraih haji yang mabrur. Mari mulai hidup bersih, sehat, dan disiplin medis dari sekarang! (Gdi)





