Lawan ‘Blank Spot’, Mendes PDT Gelar Karpet Merah Digitalisasi untuk 606 Desa di Sulteng

Ilustrasi instalasi air bersih di desa. WI/Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Era digital tidak boleh hanya menjadi milik masyarakat kota. Menyadari hal tersebut, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, tancap gas untuk menghapus titik buta sinyal atau blank spot yang masih membelenggu 606 desa di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Langkah strategis ini terungkap usai audiensi antara Mendes Yandri dengan Gubernur Sulteng, Anwar Hafid, di Jakarta (20/1).

Fokus utamanya jelas untuk mengubah kendala infrastruktur menjadi peluang ekonomi raksasa melalui digitalisasi.

“Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kita harus membangun ekosistem digital yang terhubung agar desa-desa kita tidak tertinggal,” tegas Mendes Yandri.

Baca Juga :  Ade Fitrie Kirana Bersuara Lantang Agar Anak Tak Dibesarkan Oleh Layar

Jembatan Produk Desa Menembus Pasar Global

Rencana besar ini tidak hanya soal sinyal ponsel, melainkan tentang penguatan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Dengan koneksi internet yang stabil, produk unggulan pertanian dan kerajinan lokal Sulteng tidak lagi hanya berputar di pasar tradisional, melainkan siap “mejeng” di platform e-commerce nasional hingga internasional.

Gubernur Anwar Hafid menyambut optimis komitmen ini. Baginya, kepastian akses digital adalah kunci nasib warga di pelosok Sulteng yang selama ini terisolasi dari arus informasi dan ekonomi modern.

Baca Juga :  Wujudkan Pemerataan Fasilitas Pendidikan Melalui Revitalisasi dan Digitalisasi SMK di Kawasan Timur Indonesia

Dampak Besar Bagi Ekonomi Nasional

Digitalisasi 606 desa di Sulteng bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang yang akan memberikan efek domino bagi ekonomi nasional:

Digitalisasi memungkinkan UMKM desa dan BUMDes masuk ke ekosistem ekonomi digital. Hal ini akan meningkatkan volume transaksi perdagangan nasional secara signifikan.

Efisiensi Rantai Pasok Pertanian: Dengan internet, petani dapat memantau harga pasar secara real-time dan memutus rantai tengkulak yang terlalu panjang. Dampaknya, inflasi pangan lebih terkendali dan kesejahteraan petani meningkat.

Baca Juga :  Dosen Umar Usman Sebut Digitalisasi Bikin Penjualan UMKM Naik 15 Kali Lebih Cepat

Pemerataan

Selama ini pertumbuhan ekonomi sering terpusat di Jawa. Digitalisasi desa di Sulteng akan mendorong desentralisasi ekonomi, menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Pulau Jawa.

Akses internet membuka jalan bagi layanan perbankan digital ke pelosok. Semakin banyak warga desa yang memiliki akses kredit dan tabungan, semakin kuat ketahanan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

“Jika desa maju, Indonesia kuat. Menghubungkan 606 desa ini ke dunia digital adalah langkah nyata menuju kedaulatan ekonomi bangsa,” pungkas Mendes Yandri. (Gdi)