WANITAINDONESIA.CO – Bagi para perempuan penggerak ekonomi dan investor, awal tahun 2026 memberikan sinyal positif sekaligus pengingat untuk tetap waspada. Ekonomi Indonesia memulai tahun ini dengan fondasi yang sangat kokoh, mencatatkan pertumbuhan tercepat sejak akhir 2022. Namun, di balik angka-angka yang menggembirakan tersebut, terdapat tantangan berupa kerentanan (volatility) global yang diprediksi akan meningkat pada semester kedua. Hal ini menuntut para pelaku usaha untuk lebih cerdas dalam membaca arah kebijakan dan dinamika pasar.
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 persen pada kuartal pertama didukung oleh investasi yang tetap solid di angka 6 persen serta belanja negara yang meningkat. Meski demikian, DBS Group Research melihat adanya kebutuhan untuk menyesuaikan proyeksi pertumbuhan sepanjang tahun akibat faktor eksternal. Eskalasi geopolitik (ketegangan politik antarnegara) dan fluktuasi harga energi menjadi dua variabel utama yang dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan beban operasional dunia usaha.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, memberikan catatan penting bagi para pemangku kepentingan mengenai pentingnya disiplin keuangan. “Menjaga stabilitas makro ekonomi tetap menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan nasional, terutama melalui pengendalian inflasi dan disiplin fiskal (kepatuhan anggaran) yang konsisten,” ungkap Radhika Rao. Menurutnya, kepastian regulasi melalui implementasi Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi aturan antara pusat dan daerah menjadi sangat krusial untuk menjaga daya tarik investasi di mata para penanam modal.
Radhika juga menyarankan agar para pelaku usaha mulai mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi dunia yang mungkin terjadi di penghujung tahun. Pemerintah diperkirakan akan tetap menjaga defisit fiskal (kekurangan anggaran) di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (pendapatan nasional bruto) sebagai bentuk komitmen menjaga stabilitas pasar. Komunikasi kebijakan yang dapat diprediksi akan menjadi jangkar bagi sentimen pasar agar tetap positif di tengah badai ekonomi global.
Keberhasilan melewati tahun 2026 akan sangat bergantung pada seberapa cepat kita beradaptasi dengan perubahan yang ada. Bagi para perempuan mandiri yang tengah membangun impian bisnisnya, situasi ini adalah ujian sekaligus peluang untuk menunjukkan resiliensi (ketangguhan). Dengan perencanaan yang matang dan pemahaman terhadap kebijakan pemerintah yang berkelanjutan, setiap tantangan global dapat diubah menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi demi kemandirian ekonomi yang lebih kuat. (Gdi)





