
WANITAINDONESIA.CO – Kabar penting bagi para Bunda yang teliti menjaga kesehatan keluarga! Badan Pengawas Obat dan Makan (BPOM) kini tengah menggodok aturan baru bertajuk Nutri-Level. Label ini nantinya akan muncul di bagian depan kemasan pangan (FOPNL) untuk memudahkan kita mengenali kadar gula, garam, dan lemak (GGL) secara instan.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan: sebanyak 73 persen penduduk Indonesia meninggal dunia akibat penyakit tidak menular (PTM) atau non-infeksi. Lebih spesifik lagi, hampir 11 persen penduduk kita kini berjuang melawan diabetes.
Seringkali kita terkecoh dengan label “sehat” di kemasan, namun ternyata kandungan gulanya selangit. Nutri-Level hadir sebagai kompas agar Bunda bisa memilih produk yang lebih aman.
“Target utamanya adalah mengedukasi masyarakat untuk hidup sehat,” ujar Taruna Ikrar di Jakarta, Rabu.
Saat ini, terdapat sekitar 31 juta penduduk Indonesia yang berada di fase pre-diabetik hingga diabetes tipe 1. Sebagai tahap awal, label tingkatan gizi ini akan mulai diterapkan pada produk minuman kemasan sebelum merambah ke produk pangan lainnya.
Bunda perlu tahu bahwa tren PTM di Indonesia menunjukkan grafik yang cukup serius dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data riset kesehatan dan laporan tahunan Kementerian Kesehatan, berikut adalah gambarannya: Diabetes Melitus prevalensi naik dari sekitar 10,8% (2021) menuju angka yang lebih tinggi di 2024.
Kemudian hipertensi juga masih mendominasi padahal penyakit ini menjadi pintu masuk bagi penyakit jantung dan stroke di usia produktif. Selanjutnya obesitas yang mulai menghinggapi anak dan remaja yang diduga akibat terlalu sering mengonsumsi makanan olahan dan minuman manis atau dikenal dengan istilah GGL tinggi.
Kapan berlaku?
Saat ini, BPOM tengah melakukan harmonisasi dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Hukum dan HAM. Meskipun pada tahap awal penerapannya masih bersifat sukarela bagi produsen, langkah ini dipuji oleh banyak pihak termasuk WHO.
Direktur PTM Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyebutkan bahwa edukasi melalui label kemasan ini merupakan strategi jangka panjang.
“Dampaknya baru akan terlihat secara signifikan dalam 3-5 tahun ke depan. Negara lain seperti Singapura, Brazil, dan Prancis sudah membuktikan bahwa label di depan kemasan efektif menurunkan angka hipertensi dan stroke,” jelas Nadia.
Dengan adanya Nutri-Level, diharapkan Bunda tidak lagi bingung membaca tabel informasi nilai gizi yang rumit di belakang kemasan. Cukup lirik label di depan, Bunda bisa langsung tahu apakah produk tersebut aman untuk si kecil dan anggota keluarga lainnya.
Yuk, mulai lebih bijak memilih apa yang masuk ke meja makan kita! (Gdi)




