
WANITAINDONESIA.CO – Menjaga kesehatan di tengah bayang-bayang penyakit kronis sering kali membuat seseorang hanya fokus pada satu angka, seperti kadar gula darah bagi penderita diabetes melitus tipe dua. Padahal, ada ancaman lain yang tidak kalah mematikan dan sering kali terabaikan, yaitu lonjakan kolesterol jahat.
Fakta mengejutkan mengungkap bahwa di Indonesia, dari seratus pasien diabetes dengan risiko penyakit jantung yang tinggi, hanya sekitar lima orang yang berhasil mencapai target kadar kolesterol aman. Angka yang sangat minim ini menjadi alarm keras bagi dunia kesehatan tanah air untuk menaruh perhatian lebih pada pengelolaan lemak darah.
Kenyataan pahit mengenai penanganan dislipidemia (gangguan kadar lemak dalam darah) tersebut mencuat dalam simposium ilmiah bertajuk Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes. Acara berskala besar ini diselenggarakan oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong) dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PIT PERKENI) 2026 ke-14 yang berlangsung di Hotel Aryaduta Bandung. Pertemuan medis terkemuka ini berhasil mempertemukan sekitar 500 tenaga medis dari seluruh penjuru negeri, termasuk para dokter spesialis endokrinologi, dokter penyakit dalam, residen, hingga peneliti, guna merumuskan strategi penanganan yang lebih efektif.
Keterkaitan antara diabetes dan melonjaknya risiko penyakit jantung memang bukan isapan jempol belaka. Berdasarkan data dari Federasi Jantung Dunia (World Heart Federation), penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) telah merenggut ratusan ribu jiwa di Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh temuan klinis lokal yang menunjukkan bahwa sebagian besar pasien diabetes melitus tipe dua juga mengidap gangguan kolesterol. Bahkan pada pasien yang sudah mengalami komplikasi berupa penyakit arteri koroner (penyumbatan pembuluh darah jantung), angka kejadian gangguan kolesterol ini melonjak hingga mendekati sembilan puluh persen.
Melihat situasi yang cukup mengkhawatirkan ini, para pakar medis dalam simposium tersebut mulai mengenalkan pendekatan baru, terutama bagi pasien yang sudah tidak mempan lagi menggunakan terapi tunggal (monoterapi). Salah satu strategi utama yang diperkenalkan adalah penggunaan terapi kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin. Pengobatan ganda ini dinilai jauh lebih efektif karena bekerja secara simultan, yakni dengan menekan pembentukan kolesterol baru di dalam organ hati sekaligus menghambat penyerapan kolesterol dari makanan di dalam usus.
Urgensi penanganan dini ini juga ditegaskan oleh Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, dari Eka Hospital BSD dan SS Diabetic Care. Beliau menjelaskan bahwa dalam praktik klinis sehari-hari di Indonesia, pasien diabetes melitus tipe dua memang kerap kali datang dengan berbagai faktor risiko penyakit jantung secara bersamaan. Menurutnya, upaya menurunkan kadar kolesterol jahat secara aktif harus menjadi prioritas terapi yang penting bagi dokter dan pasien.
“Untuk meningkatkan rendahnya angka pencapaian target kadar kolesterol pada pasien berisiko tinggi, strategi pengobatan perlu disesuaikan dan dioptimalkan berdasarkan profil risiko masing-masing pasien. Pedoman internasional saat ini juga secara konsisten merekomendasikan dimulainya terapi penurun lemak darah berbasis bukti sedini mungkin serta pencapaian target kolesterol secara cepat,” ujar Prof. Sidartawan.
Langkah komprehensif ini didukung penuh oleh pakar internasional yang hadir dalam kesempatan yang sama, yakni Prof. Da-Hye Seo dari Divisi Endokrinologi Inha University Hospital, Korea Selatan. Ia memaparkan bahwa ketika pasien mulai kesulitan mencapai target kesehatan mereka hanya dengan satu jenis obat, maka terapi kombinasi yang menargetkan dua jalur metabolisme kolesterol sekaligus dapat menjadi solusi terbaik yang menyelamatkan nyawa.
Komitmen untuk terus mengawal kesehatan masyarakat Indonesia juga disampaikan oleh Seong-soo Park selaku Kepala Eksekutif Tertinggi (Chief Executive Officer) Daewoong Pharmaceutical. Beliau menegaskan bahwa selama lebih dari dua dekade, pihaknya telah membangun kepercayaan yang kokoh dengan komunitas medis di Indonesia. Daewoong tidak hanya berkomitmen menyediakan obat-obatan berkualitas, tetapi juga bertekad menghadirkan solusi terapi nyata yang dibutuhkan oleh para pasien penyakit kronis di dalam negeri. Ke depannya, kolaborasi riset klinis berbasis data lokal Asia akan terus digalakkan demi mendongkrak kualitas layanan kesehatan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.
Mengetahui bahwa ancaman komplikasi diabetes tidak berdiri sendiri, kini saatnya kita semua untuk lebih peduli dan jeli dalam memeriksa profil kesehatan secara menyeluruh. Jangan tunggu sampai tubuh mengirimkan sinyal bahaya; mulailah berdiskusi dengan dokter mengenai pengelolaan kolesterol Anda demi masa depan yang lebih bugar dan bebas dari cemas. (Gdi)




