Waspada Bunda, Kenali Tanda Si Kecil Mulai Kecanduan Gawai

Ilustrasi anak dengan gawai.

WANITAINDONESIA.CO – Kehadiran teknologi di tengah keluarga modern memang bak pisau bermata dua. Di satu sisi memberikan kemudahan, namun di sisi lain menyimpan risiko yang mengintai tumbuh kembang buah hati. Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., mengingatkan para orang tua untuk lebih jeli memerhatikan perubahan perilaku anak saat berinteraksi dengan layar digital.

Menurutnya, perkembangan otak balita yang berkaitan dengan bahasa, emosi, dan relasi sosial sangat bergantung pada interaksi langsung, sehingga paparan gawai tanpa batasan akan membawa dampak yang sangat signifikan bagi masa depan mereka.

Gejala awal yang patut diwaspadai adalah munculnya keterikatan yang tidak wajar, di mana anak menolak keras untuk melepaskan gawai dari genggamannya.

Perilaku ini biasanya diikuti dengan ledakan amarah yang menggebu-gebu saat orang tua mencoba mengambil perangkat tersebut atau sekadar menjelaskan aturan penggunaannya.

Baca Juga :  Ciri-ciri Wanita Kecanduan Seks

Anak seolah kehilangan minat terhadap berbagai aktivitas alternatif yang ditawarkan, bahkan pada tahap yang lebih mengkhawatirkan, fungsi keseharian mereka seperti makan, mandi, hingga urusan kebersihan diri mulai terbengkalai.

Bagi anak usia sekolah, kondisi ini bahkan berisiko meluas hingga mengganggu prestasi akademik mereka di kelas.

Seluruh perilaku tersebut merupakan sinyal kuat adanya risiko adiksi gawai yang harus segera ditangani.

Paparan layar yang berlebihan, terutama pada usia balita, membuat anak lebih terbiasa menerima stimulasi satu arah yang pasif. Hal ini menghambat kemampuan mereka dalam belajar berkomunikasi dua arah, membaca ekspresi wajah, hingga memahami nada suara dan emosi orang lain. Padahal, kemampuan-kemampuan tersebut merupakan fondasi utama dalam membentuk empati dan keterampilan sosial.

Baca Juga :  Mudik Pertama Bareng Si Kecil? Ini Panduan Lengkap Anti-Drama di Perjalanan!

Dampaknya pun nyata, anak menjadi sulit mempertahankan kontak mata, susah fokus, hingga mudah merasa frustrasi jika tidak mendapatkan stimulasi dari layar. Kendati demikian, orang tua tidak perlu menjadikan teknologi sebagai musuh utama karena anak-anak masa kini sejatinya adalah warga digital asli.

Kuncinya terletak pada pendampingan dan pengawasan yang ketat saat anak berselancar di dunia maya. Orang tua disarankan untuk membangun aturan penggunaan gawai yang terbatas dan mengedepankan sisi interaktif sebagai media belajar. Alih-alih membiarkan anak menonton tayangan secara bebas, ajaklah mereka berdialog untuk meminimalkan dampak buruk dari durasi layar yang ada. Jangan sampai kehangatan interaksi dan kualitas waktu bersama keluarga justru kalah oleh layar yang dingin.

Baca Juga :  Anak Kecanduan Kental Manis? Begini Tips Mengatasinya

Harapan baru bagi perlindungan anak di dunia digital kini semakin menguat dengan hadirnya kebijakan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas yang mulai berlaku efektif sejak 28 Maret 2026. Regulasi ini menjadi angin segar bagi para ibu di Indonesia untuk melindungi anak dari platform digital berisiko tinggi. Dengan penegakan hukum yang tegas dan kerja sama harmonis antara orang tua serta penyedia layanan, jalan menuju pembentukan generasi bangsa yang unggul dan berkualitas kini semakin terbuka lebar. Kini, saatnya Bunda kembali mengambil kendali demi tumbuh kembang Si Kecil yang lebih optimal. (Gdi)