
WANITAINDONESIA.CO – Pernahkah Anda atau orang terdekat mengeluhkan rasa sesak dan nyeri di dada, lalu buru-buru mengatasinya dengan ritual kerokan karena menganggapnya hanya masuk angin biasa? Di tengah masyarakat kita, istilah “angin duduk” sudah sangat akrab di telinga. Namun, di balik namanya yang terdengar sederhana, kondisi ini menyimpan ancaman fatal yang bisa berujung pada henti jantung mendadak jika terus disepelekan.
Mengubah cara pandang masyarakat terhadap alarm tubuh menjadi langkah krusial untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Rasa tidak nyaman di area dada sejatinya bukanlah tanda kelelahan biasa, melainkan sebuah pesan darurat dari organ pemompa darah yang membutuhkan pertolongan medis secepatnya.
Menyambut Hari Jantung Sedunia (World Heart Day), Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggelar sesi edukasi media di Jakarta. Kolaborasi ini bertujuan untuk meluruskan salah kaprah yang selama ini mengakar, sekaligus membuka mata publik mengenai bahaya laten di balik fenomena angin duduk.
Kekhawatiran para pakar kesehatan ini bukan tanpa alasan. Data studi One ACS Registry yang memantau 14 rumah sakit di Indonesia menunjukkan fakta memprihatinkan. Dari total pasien infark miokard akut (serangan jantung) periode Juli 2018 hingga Juni 2019, sebanyak 34,8 persen tidak mendapatkan terapi reperfusi (tindakan membuka pembuluh darah yang tersumbat). Lebih miris lagi, hanya 21,8 persen pasien yang berhasil mendapatkan penanganan medis dalam periode emas, yaitu kurang dari tiga jam sejak gejala pertama kali muncul.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah yang berafiliasi dengan PERKI, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, FESC dalam keterangannya, Jumat, mengingatkan dengan tegas agar masyarakat tidak lagi menunda pemeriksaan ke rumah sakit dengan memilih pengobatan tradisional saat gejala menyerang.
“Angin Duduk yang sering dianggap ringan dan coba diatasi dengan kerokan sebenarnya merupakan gejala khas angina pektoris, yaitu kondisi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup. Terutama bila nyeri terasa seperti ditekan di bagian tengah dada, menjalar ke rahang atau lengan, atau muncul bahkan saat beristirahat, kondisi tersebut dapat menjadi tanda peringatan angina tidak stabil atau infark miokard akut,” ujar dr. Febtusia memperingatkan.
Selain mengenali gejala, kunci utama dalam mencegah penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) adalah dengan mengontrol faktor risikonya, terutama kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C). Idealnya, angka kolesterol jahat ini harus dijaga ketat agar tetap berada di bawah 55 miligram per desiliter (mg/dL).
Mengenai hal tersebut, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, menjelaskan bahwa bagi pasien yang kesulitan mencapai target tersebut lewat pengobatan konvensional tunggal, kini sudah ada inovasi medis baru yang lebih efektif.
“Pendekatan jalur ganda (dual-pathway) berbasis kombinasi statin dan ezetimibe dapat menjadi pilihan yang efektif. Pendekatan ini bekerja dengan menghambat sintesis kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapan kolesterol di usus,” kata dr. Wicak. Ia menambahkan bahwa Daewoong kini menghadirkan terapi kombinasi dua zat aktif dalam satu tablet demi meningkatkan kepatuhan pasien dalam meminum obat.
Komitmen untuk terus mendampingi kesehatan masyarakat Indonesia juga ditegaskan oleh Head of Indonesia Business Division Daewoong Pharmaceutical (Kepala Divisi Bisnis Daewoong Pharmaceutical Indonesia), Baik In Hyun. Selama lebih dari dua dekade, pihaknya berkomitmen untuk terus bermitra dengan tenaga medis dalam menyebarkan edukasi yang berbasis sains demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Tubuh kita adalah mesin yang cerdas, ia selalu memberikan tanda ketika ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Mulai hari ini, mari lebih peka terhadap setiap jengkal ruang di dada kita dan jangan lagi menukar waktu emas penyelamatan jantung dengan sebatang koin kerokan. Karena pada akhirnya, mendengarkan sinyal tubuh dengan tepat adalah wujud tertinggi dari rasa cinta kita terhadap kehidupan. Sayangi jantung Anda, karena setiap detaknya begitu berharga. (Gdi)




