Penurunan Kolesterol Jahat Secara Berkelanjutan Bisa Cegah Serangan Jantung dan Stroke

Konsumsi buah dan sayur dapat mencegah kolesterol jahat. WI/Dokumen Pribadi

4WANITAINDONESIA.CO – Dengan menjaga kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) serendah mungkin dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

LDL-C disebut “kolesterol jahat” karena dapat menumpuk di dinding pembuluh darah, memicu peradangan dan penyempitan, serta menjadi faktor utama penyakit kardiovaskular.

Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Stroke, penyakit jantung iskemik, dan penyakit jantung hipertensi termasuk dalam 10 penyebab kematian utama di tanah air.

Menurut Kementerian Kesehatan (2025), sekitar 800.000 orang di Indonesia meninggal akibat penyakit kardiovaskular setiap tahunnya. WHO (2021) juga melaporkan bahwa tiga dari sepuluh penyebab kematian terbanyak di Indonesia merupakan kardiovaskular: stroke (140,8 per 100.000; peringkat 2), penyakit jantung iskemik (90,4; peringkat 3), dan penyakit jantung hipertensi (20,9; peringkat 8). Dengan populasi Indonesia sekitar 286 juta orang, pengendalian dini serta manajemen berkelanjutan terhadap faktor risiko seperti dislipidemia menjadi sangat penting.

Baca Juga :  Nutrisi Yang Bagus Untuk Menjaga Kesehatan Jantung

Dokter spesialis kardiovaskular, Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD, KKV, dari Rumah Sakit Medistra, dalam keterangannya, Rabu, mengungkapkan masih banyak pasien dislipidemia belum mencapai target LDL-C <70 mg/dL, dan pada kelompok pasien berisiko sangat tinggi, kurang dari 10 persen yang mencapai target 55 mg/dL.

Baca Juga :  Gaya Hidup Sehat & Medical Check-up Bestie Klop Buat Anak Muda Berkelit dari Kolesterol

Ia menekankan pentingnya kepatuhan berobat jangka panjang.

“Penyebab utama kegagalan terapi antara lain dosis statin yang tidak memadai, efek samping terkait otot dari statin intensitas tinggi, dan penghentian obat oleh pasien. Pada akhirnya, kepatuhan terapi yang berkelanjutan adalah fondasi strategi ‘The Lower, The Better,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya pengobatan dislipidemia dimulai dengan monoterapi statin, seperti rosuvastatin atau atorvastatin. Terapi kombinasi dengan ezetimibe dapat ditambahkan jika penurunan LDL-C belum tercapai.

Baca Juga :  Gigi Kaget Rafathar Memiliki Kolesterol Tinggi, Sedangkan Cipung?

Terkait perlunya terapi kombinasi dari perspektif pasien, ia menjelaskan, kombinasi ezetimibe–rosuvastatin menekan sintesis dan penyerapan kolesterol secara bersamaan, memberikan penurunan LDL-C yang lebih kuat sekaligus meningkatkan kepatuhan karena dua obat digabungkan menjadi satu tablet.

Ia menambahkan, dengan tingkat keberlanjutan pengobatan yang rendah di Indonesia, kenyamanan satu tablet per hari dapat sangat meningkatkan kualitas hidup sekaligus hasil terapi. (Gdi)