
WANITAINDONESIA.CO – Pengelolaan irigasi pertanian di SMKN 1 Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, kini memasuki babak baru yang serba otomatis dan ramah lingkungan. Langkah transformatif ini terwujud setelah tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) resmi menerapkan sistem irigasi cerdas (Smart Irrigation System) berbasis internet untuk segala (Internet of Things/IoT) dan energi surya di lahan praktik sekolah tersebut.
Sebelum teknologi ini hadir, pengelolaan lahan pabrik pembelajaran (Teaching Factory) seluas 1 hektare di sekolah tersebut masih mengandalkan cara konvensional. Penyiraman lahan membutuhkan waktu hingga 10 jam dalam satu sesi dengan menghabiskan sekitar 10 liter bahan bakar solar untuk menggerakkan pompa diesel. Selain boros biaya dan energi, penyiraman manual tanpa pengukur kelembapan tanah yang presisi sering kali membuat tanaman mengalami kelebihan atau kekurangan air.
Menjawab tantangan tersebut, tim UPNVJ merancang inovasi yang mengintegrasikan sensor kelembapan tanah, mikrokontroler ESP32, relay, katup selenoida, hingga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sistem mandiri (off-grid). Perangkat sensor membaca kondisi aktual tanah secara otomatis, lalu mengirimkan data ke mikrokontroler untuk mengaktifkan pompa air dan katup penyiraman sesuai kebutuhan riil tanaman. Seluruh aktivitas ini bahkan dapat dipantau secara langsung melalui papan pantau digital (dashboard).
Ketua Tim Pelaksana UPNVJ, Mohammad Rachman Waluyo, menjelaskan bahwa program yang mendapat pembiayaan BIMA Kemendiktisaintek Tahun 2026 ini dirancang tidak sekadar sebagai alat bantu irigasi, melainkan media edukasi nyata bagi para siswa vokasi. Pihaknya sengaja menghadirkan teknologi yang terukur agar para siswa bisa merasakan langsung pengalaman mengoperasikan serta merawat perangkat smart farming modern.
“Melalui program Smart Irrigation System ini, kami ingin menghadirkan sebuah teknologi yang tidak hanya dapat membantu proses pengelolaan irigasi menjadi lebih terukur, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran nyata bagi siswa. Mereka tidak hanya mempelajari konsep Internet of Things dan energi terbarukan secara teori, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam pengoperasian dan pemeliharaan teknologi tersebut,” ujar Mohammad Rachman Waluyo.
Pengembangan teknologi ini turut melibatkan dosen UPNVJ lainnya, yakni Yulizar Widiatama, Henry Binsar Hamongan Sitorus, dan Donny Montreano, serta dibantu oleh tiga mahasiswa yaitu Raulbie Kevinanda Raco, Hilmi Fairuz Faturrohman, dan Aydin Rafal Rachmuji. Kolaborasi lintas generasi ini mendampingi pihak sekolah mulai dari survei kelayakan, instalasi jaringan perpipaan, pelatihan operasional, hingga penyusunan modul serta Prosedur Operasional Standar (SOP).
Pemanfaatan energi bersih juga menjadi nilai tambah utama dari inovasi ini. Menurut Mohammad Rachman Waluyo, integrasi otomasi dan pemanfaatan energi terbarukan memberikan gambaran utuh bagi generasi muda tentang masa depan sektor agrikultur yang efisien dan ramah lingkungan.
“Penerapan teknologi ini tidak hanya mengintegrasikan otomasi dan sistem sensor, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan dalam kegiatan pertanian,” kata Mohammad Rachman Waluyo.
Ke depan, UPNVJ bersama SMKN 1 Ciasem akan terus melakukan pendampingan dan pemantauan berkala terhadap seluruh komponen sistem irigasi cerdas ini. Langkah berkelanjutan ini diharapkan mampu mencetak SDM muda yang siap memimpin transformasi pertanian digital nasional.
Inovasi irigasi cerdas berbasis energi terbarukan ini menjadi bukti nyata bahwa modernisasi pertanian tak lagi sebatas teori di ruang kelas, melainkan langkah konkret menuju ketahanan pangan berbasis teknologi tinggi. Bagaimanakah pendapat Anda tentang kesiapan generasi muda kita dalam mengadopsi teknologi smart farming di daerah Anda? (Gdi)




