Tya Subiakto Buka Jalan Baru, Jadikan Kreativitas sebagai Aset Bisnis Berkelanjutan

Perempuan kelahiran 2 Maret 1979 ingin usahanya menjadi wadah bagi para talenta muda untuk tumbuh tanpa kehilangan idealisme.

WANITAINDONESIA.CO – Sosok Tya Subiakto dikenal publik lewat karya musiknya yang melekat di sejumlah film legendaris Indonesia. Ia tampil sebagai figur yang berbeda — bukan sekadar penata musik, tapi pengusaha kreatif yang menjadikan pengalaman hidupnya sebagai modal membangun bisnis yang berdaya saing.

Episode bertema “Rebel Woman: Breaking Rules, Building Futures” yang menampilkan Tya Subiakto, menghadirkan potret seorang perempuan yang berani menabrak batas dan menciptakan peluang dari dunia seni.

Dalam perbincangan hangat, Tya Subiakto berbagi kisah personal tentang konflik dengan sang ayah yang justru memicu tekadnya untuk mandiri. Dari situ, ia belajar bahwa kekuatan perempuan bukan hanya di panggung atau studio rekaman, melainkan juga di meja perundingan bisnis.

Baca Juga :  Produk Baru Kreativitas Baru Cara Baru 'Makan' Susu

“Kemandirian adalah modal utama bagi seniman agar tetap punya suara dalam menentukan arah hidupnya,” kata Tya Subiakto melalui sesi bincang-bincang di episode ke-10 Podcast BisnisArtis.com.

Pengalaman panjang Tya Subiakto di dunia perfilman membuat ia memahami pentingnya sistem yang berkelanjutan dalam industri kreatif. Ia kini mengarahkan visinya untuk membangun ekosistem bisnis musik yang inklusif — di mana seniman, produser, dan pelaku usaha dapat bekerja sama tanpa batas hierarki.

Baca Juga :  Goresan Cantik Jemari Anak Disabilitas Buktikan Kreativitas Tanpa Batas

Penata musik film Ayat-Ayat Cinta dan Kata Maaf Terakhir membeberkan sejumlah hal yang menurutnya menjadi jawaban bagi banyak kreator yang selama ini terjebak dalam pola eksploitatif industri hiburan.

Dalam kesempatan itu, Tya Subiakto juga memperkenalkan beberapa proyek bisnis yang tengah ia rancang, mulai dari layanan scoring film berbasis teknologi digital hingga pelatihan kewirausahaan kreatif bagi anak muda.

Semua inisiatif itu, menurutnya, lahir dari rasa tanggung jawab untuk menciptakan ruang kerja yang lebih sehat bagi generasi penerus di industri hiburan. Lebih menarik lagi, Tya Subiakto menyebut bahwa bisnis baginya bukan sekadar cara mencari keuntungan, tetapi sarana membangun warisan.

Baca Juga :  Ayam Goreng Almaz Dukung Kreativitas Anak dalam Lomba Space Poster & Mewarnai di TMII

Perempuan kelahiran 2 Maret 1979 ingin usahanya menjadi wadah bagi para talenta muda untuk tumbuh tanpa kehilangan idealisme. “Saya ingin bisnis ini punya jiwa, sama seperti karya musik yang saya ciptakan,” ujarnya dengan penuh emosi.

Kisah Tya Subiakto menjadi bukti bahwa kreativitas bukan sekadar ekspresi seni, melainkan fondasi ekonomi baru yang berdaya tahan tinggi. Dari ruang studio hingga dunia bisnis, ia terus menulis nada-nada perubahan bagi industri hiburan Indonesia. (GIE)