Theresia Mareta “Saya Berharap Alumni PINTU Tangguh, Terus Bertumbuh

Para Kolaborator PINTU Incubator, (ki-ka) : Carol Meyer, Atase Kebudayaan IFI-Kedubes Prancis, Theresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator, Advisor JF3, Soegianto Nagari, Co-Initiator PINTU Incubator & Chairman JF3 Fashion Festival, mumpuni merawat kolaborasi sembari membuat beragam terobosan bagi industri mode Indonesia-Prancis. Foto: Wanitaindonesia.co

WANITAINDONESIA.CO – Saya jarang melihat brand Indonesia terus berkembang, walau ada yang terkenal tapi seperti jalan di tempat (Theresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator, Founder LAKON Indonesia).

“Oleh karenanya lewat sejumlah program kreatif dari PINTU Incubator, saya berpengharapan besar agar alumni PINTU dapat terus berprogres menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, dengan ilmu yang telah dipelajari serta dipraktikkan dari para mentor ternama dunia.”

Asa, obsesi tersebut meluncur dari buah pemikiran kreatif Theresia Mareta, ihwal perjalanan PINTU Incubator yang telah memasuki tahun ke -5 penyelenggaraan.

“PINTU Incubator hadir untuk memberi pengetahuan yang baru, dikarenakan wawasan itu akan selalu terus bertumbuh, lebih luas. Ilmu menjadi lebih luas, dan kita perlu memandu talent kita agar dapat terus bereksplorasi. Dengan cara ini kreativitas mereka akan semakin berkembang.”

“Tujuannya agar tercipta produk-produk yang sangat kuat, brand juga bisa berkembang dari strategi bisnisnya. Penting, fondasinya harus kuat demikian pula halnya dengan eksekusi. Dan yang tak boleh dilupakan aspek bisnisnya. Mereka memiliki planning ke mana lagi ke depannya, “tambah Thres.

“Pintu berkembang lewat program kreatif Incubator, Accelerator, dan Residency. Ketiga yang mana ketiga program ini saling melengkapi, terhubung serta membangun perjalanan seorang talenta, dan brand.”

“Ketiganya saling terkait dengan goals yang semakin luas. Tidak menutup kemungkinan peserta PINTU Residency bisa terhubung ke PINTU Incubator, atau sebaliknya.”

Thres berkata, “Bicara koneksi PINTU Incubator ke Accelerator, ini merupakan suatu kebutuhan nyata. Setelah 4 tahun program PINTU berjalan, kami melihat Incubator saja belum cukup untuk membuat brand agar dapat berkembang dengan stabil.”

“Ke depan masih banyak tantangan, karena para peserta masih butuh pendampingan seperti bagaimana cara mengatasi kesulitan mereka. Berkaca pada masukan mentor, para peserta program harus mengikuti tahap berikutnya.”

“Bila ditanya keterkaitan dengan PINTU Residency, fokusnya bagaimana kita melihat secara general, agar kita bisa mendorong para kreator untuk mau mengolah apa saja yang kita punya. Tentunya kita harus memiliki pilot project yang bisa berhasil.”

Baca Juga :  Theresia Mareta Advisor JF3 Tentang Urgenitas Pendidikan

“Oleh karenanya, kita ciptakan program PINTU Residency. Tujuannya ada banyak lho, tak hanya untuk mengolah hasil karya tangan kita, tapi juga membuka kesempatan bagi 2 talent dengan 2 back ground yang berbeda, dan memberi pandangan yang berbeda pula, “ucap Thres.

“Dari sesuatu yang mungkin kita nilai biasa, seperti kalau tadinya menciptakan fesyen di Indonesia mungkin hasilnya akan seperti ini, lalu di Prancis seperti ini. Dan ketika digabungkan akan muncul pandangan yang berbeda.”

“Kian menarik bila kita juga bicara dari sisi pengrajin. Pengrajin mendapat tantangan baru, namun di tangan talenta kreatif peluang ini bisa dikembangkan, agar berkelanjutan. Sisi baik lainnya, produk pengrajin mudah dikenal serta bertumbuh menjadi lebih besar.
Yang pasti, program ini ujung-ujungnya akan berdampak nyata bagi para desainer.”

Thres melanjutkan, “Yang menarik, mereka bisa memproduksi koleksi mereka dengan kain hasil karya tangan, yang menjadi buah manis dari eksperimen dalam proyek ini.
Saya sangat berharap program ini bisa berkelanjutan.”

“Hai kreator muda Indonesia, kreativitas, karya terbaik tak cukup, brand Anda harus bisa maju, berkembang serta berkelanjutan. Foto: Wanitaindonesia.co

Kreativitas & Penetrasi Pasar

“Pada dasarnya program PINTU Incubator sangat membantu para peserta, untuk menyeimbangkan kreativitas yang bisa diterima pasar. Program PINTU penekanannya bukan hanya pada kreasi, melainkan bagaimana kreativitas tersebut bisa diterima oleh pasar.”

“Utamanya bisnis harus jalan, keseimbangannya juga tetap harus ada di setiap titiknya. Nah inilah ilmu yang ditransfer oleh para mentor ahli, yang telah kami berikan tanggung jawab, “cetus Thres.

“Kami menyadari di bidang apapun seperti seni, nilai-nilai komersilnya harus selalu ada. Kreator tak bisa lagi idealis. Sangat disayangkan bisa menciptakan karya, tapi tak bisa dijual. Bagaimana ini bisa berkelanjutan?.

“Oleh karenanya kita selalu mengarahkan mereka, agar nilai komersial itu selalu dijaga. Salah satu kiatnya bagaimana mereka menemukan hal ini, dari aspek kreasi serta sisi bisnisnya.”

Baca Juga :  Kiat Lakon Indonesia Muliakan Pengrajin

“Pada program ada banyak hal yang perlu dimentoring, tujuannya agar peserta memahami bahwa setiap sisi itu memiliki pertimbangan tersendiri, namun semuanya harus terhubung, “tambah Thres.

“Kita memahami bahwa brand yang baru harus mampu mengerjakan semua sisi secara mandiri. Tapi jangan keliru, fokus utama PINTU bukan berarti nantinya mereka harus mumpuni pada semua bidang, kemudian mengambil keputusan sendiri. Tentu saja tidak.”

“Intinya agar kelak mereka mampu membangun satu fondasi yang kuat, di semua sisi tersebut. Ketika mereka sudah mengerti, mereka dapat dengan bijak mengambil keputusan, terlebih nanti bila bisnisnya sudah berkembang, tentu saja eksekutornya bukan hanya dia sendiri, melainkan ada tim work yang handal, “ujar Thres.

Bicara kreativitas Thres memiliki pandangan sendiri. Kreativitas bisa berjalan karena yang lain sudah bisa berjalan dengan baik. Bila tidak, tak mungkin mereka bisa berpikir kreatif, dikarenakan semuanya dikerjakan sendiri. Sudah pasti pikirannya tak bisa fokus.

“Ketika memilih peserta program yang hendak tanpil mempresentasikan karyanya di runway JF3 Fashion Festival 2026, kami menilai dari awal perkembangan mereka ketika terpilih saat mengikuti program, hingga sampai kepada titik krusial yakni kurasi.”

“Tak cukup hanya dengan kreativitas, mereka harus membuat kreasi yang bagus, selain potensi brand yang bisa kami kembangkan.”

Menurut saya yang paling menantang dari keseluruhan challenge tersebut adalah eksekusi. Mental peserta diuji. “Bagaimana mereka harus mendengar, menelaah, memilah hingga memilih masukan dari seluruh mentor, dengan waktu yang sangat pendek, “terang Thres.

“Namun demikian saya sangat mengapresiasi kerja-kerja kreatif mereka, dikarenakan para kreator yang terpilih, mampu mengeksekusi karyanya dengan sangat baik, dari peserta lainnya, “tegas Thres.

“Dari sini jelas terlihat bahwa mereka sudah paham, masalah-masalah apa saja yang harus dihadapi serta memahami langkah-langkah apa saja yang harus dipersiapkan.”

Baca Juga :  Spesial 5 Tahun "PINTU Incubator" Kiat Merawat Kolaborasi
Lil Public salah satu alumni program PINTU Inkubasi yang bersinar di industri mode global. Foto: Wanitaindonesia.co

Asa Baru Harus Terus Bertumbuh

“Dengan bangga kami perkenalkan 2 brand terpilih Saul Studio , dan Tejo House serta 3 Desainer yakni Aldrie, Andrean NR, dan Dacia untuk melakukan presentasi di runway JF3. Mereka merupakan peserta yang paling siap. Selain pada program mentoring, mereka mampu menyerap serta mengeksekusi apa-apa yang diberikan, “papar Thres.

“Tapi perlu diingat lho, bukan berarti peserta yang belum lolos kurasi, mereka tak berpotensi untuk dikembangkan. Menurut saya ini soal waktu yang belum sampai. Mereka butuh waktu yang lebih banyak untuk membangun itu.”

Thres juga berpesan kepada alumni PINTU untuk terus bertumbuh. Menurut Penulis Buku “Ode to Indonesian Culture” terkenal itu bagus, tapi jangan lupa, kita harus terus berjalan, berbuat sesuatu.

“Saya berharap kreator mau mengulik lagi, lebih kreatif dalam mengeksplorasi sehingga ketika nanti mendapat banyak tantangan, mereka mampu menyelesaikannya dengan baik.”

“Tentu saja semua brand PINTU dapat membangun fondasi yang kuat untuk brand mereka, agar ke depan bisa terus berkembang. Bukannya membanggakan bila dicintai pasar lokal juga dikenal masyarakat dunia, imbuh Thres.”

“Untuk menembus pasar global menurut hemat saya, brand lokal belum terlalu mengerti pasar luar negeri. Waktu kita mengikuti Paris Trunk Show, nyata pasar luar sangat luas cakupannya.”

“Buyers berdatangan dari berbagai penjuru dunia, yang mana negara mereka terkenal akan ekosistem modenya yang sudah sangat kuat, diantaranya Jepang, China, Korea, Belanda, Swiss, Amerika.”

“Pasar di sana sudah pasti berbeda-beda. Nah siapkah kita untuk menembus pasar yang memiliki perbedaan tersebut?, “ujar Thres.

“Di PINTU, hal ini menjadi red alert, bagaimana ke depan kami dapat melakukan perbaikan, mereview kembali agar kelak bila berpartisipasi, kita sudah siap dengan membawa produk yang lebih baik, menyelaraskan dengan sekmen pasarnya, “pungkas Thres. (*)