
WANITAINDONESIA.CO – EVOLUSI menjadi tema yang related dengan perkembangan zaman, khususnya bila terkait dengan perhiasan.
Kawan Nusantara kembali mengajak masyarakat untuk melihat, bagaimana warisan budaya tidak pernah berhenti berevolusi. Tradisi terus hidup karena mampu beradaptasi, dan menemukan bentuk baru di setiap zaman, tanpa kehilangan akar nilai. Perayaan Kawan Nusantara “Evolusi: Heritage and Craft as a Vessel of Light and Wisdom” diselenggarakan di Nusantara Ballroom, The Dharmawangsa, Jakarta (23-24 Juli 2025).
“Kami percaya tradisi selalu hidup, karena manusia terus memaknainya kembali. EVOLUSI adalah pameran tentang bagaimana tradisi, keterampilan, dan nilai-nilai leluhur terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan jiwanya.
Melalui Kawan Nusantara, kami ingin mengajak masyarakat melihat bagaimana warisan budaya terus bertumbuh mengikuti zaman, “ujar Happy Salma, Founder & Creative Conceptor TULOLA.
Tema EVOLUSI diterjemahkan ke dalam instalasi artistik dengan menelusuri perjalanan subeng, salah satu ornamen telinga tradisional Bali yang ada selama berabad-abad.
Melihat instalasi ini, pengunjung bisa memahami bagaimana sebuah artefak budaya berevolusi melalui perubahan fungsi, bentuk, material, hingga pendekatan desainnya.
Turut berbagi pendapat Sri Luce Rusna, Founder & Creative Designer TULOLA, “Proses kreatif tahun ini adalah hasil riset tentang perjalanan sebuah produk kebudayaan yang terus berubah mengikuti kehidupan masyarakat.”

Mengenal Mencintai Subeng Bali
“Perhiasan selalu menjadi penanda zaman. Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi tidak berhenti pada bentuk aslinya. la berkembang bersama manusia yang menciptakan, mengenakan, dan mewariskannya. Kami memilih subeng sebagai representasi tradisi, dan budaya, lalu kami terjemahkan perjalanannya ke dalam desain yang berevolusi. Mulai dari konteks spiritual, sampai yang kontemporer.”
Pengunjung dapat menikmati 4 instalasi yang merepresentasikan tahapan perjalanan subeng. Tahap pertama persembahan, tahap kedua ekspresi, tahap ketiga nilai, dan tahap keempat transformasi.
Pada tahap Persembahan, motif subeng menggunakan pola arsitektur padma, terinspirasi oleh bentuk bangunan tradisional Bali yang digunakan sebagai tempat persembahan.
Pada tahap Ekspresi, bentuk subeng diwujudkan dalam motif bunga lotus, dipadukan dengan tanaman rambat. Bentuk tangkai yang menjulur ke segala arah merupakan representasi, dari seni ukir subeng yang semakin ekspresif, dan bernilai estetik.
Pada tahap Nilai, subeng sudah memasuki ruang sosial, dan ekonomi yang lebih luas, sehingga dilihat sebagai produk kriya Subeng memiliki nilai ekonomi.
Motif keranjang yang dipadukan dengan motif bunga lili dipilih, karena menjadi simbol aktivitas ekonomi, sekaligus simbol terjalinnya hubungan sosial.
Pada tahap Transformasi, bentuk subeng mengadopsi elemen tipografi bertuliskan “Evolusi”, yang menjadi penanda bahwa tradisi tidak pernah berhenti bergerak.

Atraksi Seni
Selain karya instalasi, TULOLA juga meluncurkan koleksi Artwear “EVOLUSI”, terdiri dari 48 items berupa anting, subeng, brooch, sirkam, kalung, dan gelang, yang memadukan kepiawaian pekerjaan tangan dengan teknik seni perhiasan adiluhung Nusantara.
Koleksi menggunakan motif-motif yang diberi nama: Canang, Macan, Sinar, Bunga & Kupu-kupu, yang merupakan simbol dari proses evolusi.
Kawan Nusantara 2026 juga menghadirkan kolaborasi dengan sembilan jenama kreatif Indonesia, yang memiliki semangat serupa dalam merayakan karya lokal, dan inovasi, yaitu Camani, Ella & Glo, Glashka, dan Jeffry Tan.
Selain itu, ada pula produk kreatif di bawah payung Bakti BCA seperti Marista Santividya, Perajin Perak Desa Wisata Taro, Koperasi Konsumen Uma Tinung Kambata, Linette Bags, Nail Art by MUA Tuli Bakti BCA, dan Wastraloka serta mitra binaan Pertamina yaitu Roemah Kebaya Vielga.
Kehadiran para kolaborator ini memperlihatkan bagaimana kreativitas lintas disiplin mampu memperkaya narasi budaya Indonesia yang relevan bagi generasi masa kini.
Pengunjung dapat pula menikmati pameran HEROES OF HERITAGE yakni koleksi karya hasil kolaborasi BCA melalui payung Bakti BCA, dengan TULOLA, dan dua perajin perak dari Desa Wisata Taro, Bali, yakni I Made Suama dan Ketut Daging.
Karya-karya mereka memperlihatkan kedalaman nilai budaya, khususnya dalam membuat pratima atau benda suci. Hadir pula Keris Pusaka “Keris Wibawa Gunung Raung” dari Desa Taro karya I Komang Sudena, perajin perak yang meneruskan tradisi pembuatan keris Bali. (*)




