
WANITAINDONESIA.CO – Momen pembagian rapor sekolah yang biasanya dipenuhi kebahagiaan berubah menjadi kisah mengharukan bagi putra mendiang Mpok Alpa, Alfatih.
Di saat anak-anak lain pulang sambil memamerkan hasil belajar kepada kedua orang tuanya, bocah berusia sembilan tahun itu justru memilih berjalan ke tempat yang paling ia rindukan—makam sang ibu.
Usai menerima rapor kenaikan kelas pada Juni 2026, Alfatih tidak meminta diajak makan atau merayakan pencapaiannya. Dengan polos, ia meminta sang ayah, Aji Darmaji, untuk mengantarkannya ke pemakaman Mpok Alpa di kawasan Wakaf Kujaran, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Bagi Alfatih, ada satu orang yang paling ingin mengetahui hasil belajarnya, meski kini hanya bisa ia temui melalui doa.
“Setelah dari sekolahan nggak langsung mau pulang, langsung minta mampir ke makam maminya. ‘Bah, kasih kabar Mami, biar Mami senang,'” tutur Aji Darmaji saat menceritakan momen tersebut kepada awak media.
Sesampainya di makam, Alfatih melakukan sesuatu yang membuat hati sang ayah ikut terenyuh. Dengan penuh hati-hati, ia meletakkan rapor di atas pusara Mpok Alpa, seolah ingin memperlihatkan hasil usahanya selama satu semester kepada perempuan yang selalu mendampinginya semasa hidup.

Tak ada pesta kecil atau hadiah yang diminta. Yang diinginkan Alfatih hanyalah keyakinan bahwa sang ibu tetap mengetahui setiap pencapaiannya.
“Rapornya itu langsung ditaruh di makam, katanya biar Mami lihat. Ya namanya anak kecil, kita ngimbangin saja,” ujar Aji dengan suara yang tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
Bagi Aji, tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda. Untuk pertama kalinya, ia menjalani momen pengambilan rapor tanpa kehadiran sang istri yang selama ini selalu ikut mendampingi tumbuh kembang anak-anak mereka.
Kesedihan itu ternyata sudah lebih dulu terlihat saat Alfatih berada di sekolah. Di tengah ramainya para orang tua yang datang mendampingi anak-anak mereka, Alfatih diam-diam memperhatikan teman-temannya yang masih bisa menggenggam tangan ayah dan ibu secara bersamaan.
Air matanya pun tak kuasa dibendung. “Dia air matanya langsung ngebak ke saya, ‘Papa, mama dia ada ya.’ Namanya anak kecil ya begitu ngomong. Saya ngimbangin saja, ini anak matanya sudah ngembang lihat kebersamaan momen keluarga yang lengkap,” ungkap Aji.
Ucapan sederhana itu menggambarkan kerinduan yang belum mampu dipahami sepenuhnya oleh seorang anak. Kehilangan sosok ibu bukan hanya terasa saat hari-hari besar datang, tetapi juga pada momen sederhana seperti pembagian rapor sekolah.
Meski Mpok Alpa telah tiada, kasih sayang dan kenangan tentang dirinya tetap hidup di hati putranya. Lewat rapor yang diletakkan di atas pusara, Alfatih seakan ingin berkata bahwa ia terus berusaha menjadi anak yang membanggakan, seperti yang selalu diharapkan sang ibu. (GIE)




