Suntikan Jiwa Budaya dalam Nadi Pembangunan Kota

Ketua Dewan Pengurus APEKSI yang juga Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi memberikan sambutan pada Rembuk Kebudayaan Kota Kita pada 16 Oktober 2026 di Kota Singkawang. APEKSI

WANITAINDONESIA.CO — Pembangunan kawasan perkotaan yang melesat kencang kerap kali berisiko menggerus akar tradisi dan keunikan lokal. Menjawab tantangan tersebut, Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) bersama Pemerintah Kota Singkawang menggelar Rembuk Kebudayaan Kota Kita pada 16 Oktober 2026 di Kota Singkawang.

Mengusung semangat “Menolak Lupa, Menolak Runtuh, Menolak Punah”, perhelatan yang berlangsung pada 15-17 Oktober 2026 ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, dengan merangkul delegasi dari Kota Banda Aceh hingga Kota Jayapura, serta Kota Tarakan hingga Kota Bima.

Langkah strategis ini menegaskan pentingnya menempatkan warisan sejarah, pengetahuan lokal, dan ruang budaya sebagai modal utama pembangunan perkotaan. Kebudayaan diposisikan bukan sebatas peninggalan masa lalu, melainkan fondasi ketangguhan masyarakat sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif (ekraf) yang berkelanjutan. Dalam dinamika perkotaan yang semakin kompleks, termasuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap, kepedulian pada lingkungan dan kebudayaan harus berjalan bersisian secara solid.

Ketua Dewan Pengurus APEKSI yang juga Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menguraikan peran krusial budaya sebagai perekat sosial dan penopang ekonomi daerah.

“Budaya merupakan pemersatu dan penggerak ekonomi. Budaya juga dapat menjadi kekuatan kota, di mana kota yang kuat tidak akan melupakan budaya dan sejarahnya,” ujarnya.

Baca Juga :  RUPSLB PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk 2025: Pelaksanaan Reklamasi dan Perubahan Susunan Pengurus Perseroan

Dia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap pelibatan generasi muda dalam merancang arah perkotaan, sembari menegaskan, “Kota sadar, ia butuh orang muda. Saya bangga APEKSI tidak pernah melupakan orang muda.”

Pentingnya langkah nyata dalam menjaga akar tradisi turut digarisbawahi oleh Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie. Menurutnya, pemajuan budaya tidak boleh berhenti sebatas slogan ornamental semata.

“Ini bukan sekadar jargon atau pemanis, tapi panggilan jiwa, panggilan bertindak ( call to action ). Kalau warisan kebudayaan kota hilang, kota itu mati!” tegasnya. Beliau menambahkan bahwa nilai-nilai tradisi harus diinternalisasikan dalam pembentukan karakter sejak dini. “Budaya merupakan tuntunan, ia hadir di kelas, bukan sekadar di panggung,” ucapnya lagi.

Dari sudut pandang pemanfaatan potensi, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang hadir secara daring, menyebut identitas lokal sebagai aset bernilai paling tinggi bagi sebuah wilayah.

“Warisan kota bukan sekadar artefak masa lalu. Warisan budaya adalah sumber termahal kita. Tantangan kita adalah mengubah identitas budaya ini menjadi nilai tambah ekonomi tanpa menghilangkan kekhasan dan keahliannya,” tutur Irene.

Ia mendorong agar hak kekayaan intelektual dan manfaat ekonomi dari karya kreatif senantiasa kembali secara adil kepada komunitas penjaga tradisi.

Dukungan selaras disampaikan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang juga hadir secara daring. Dia menekankan bahwa ketika tumpuan pada sektor industri manufaktur dan sumber daya alam mengalami keterbatasan, sektor kebudayaan mampu hadir sebagai tumpuan baru perekonomian. Kebudayaan dapat dikembangkan sebagai sumber daya berkelanjutan yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus memperkokoh kepribadian bangsa.

Baca Juga :  33 Tahun Dompet Dhuafa, Tunjang Pembangunan Masjid Al Muttaqin sebagai Islamic Culture Center di Chiba, Jepang

Kehadiran perwakilan pemerintah daerah seperti Makassar, Yogyakarta, Semarang, Kediri, hingga Bima dalam forum ini semakin memperkaya perjumpaan ide. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bima, pak Sukarno, mengutarakan apresiasinya, “Saya apresiasi upaya APEKSI lewat Forum Koordinasi ini. Praktik kebudayaan itu ada di seluruh kota, kadang apa adanya. Kami berharap APEKSI bantu koordinir komitmen kita bersama.”

Suasana keakraban dan keterbukaan antarwilayah dirasakan langsung oleh seluruh peserta selama perhelatan berlangsung. Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam mengungkapkan dinamika positif yang terbangun di lapangan.

“Delegasi kota-kota anggota APEKSI sangat antusias di acara ini. Termasuk di Forum Kebudayaan. Suasana santai tapi serius saat memetakan ekosistem kebudayaan kota. Semuanya akrab, leluasa berbagi pengalaman, cerita upaya dan tantangan yang dihadapi. Ada juga yang curhat. Bukan mengeluh, tapi semangat untuk saling belajar dan mencari jalan keluar bersama,” ungkapnya.

Rangkaian acara ini kian bermakna dengan keterlibatan generasi muda melalui penuturan kisah kota secara partisipatif ( Participatory Urban Storytelling ) serta penjelajahan wilayah jalan kaki generasi muda ( Warga Muda Walking Tour ). Menyusuri ikon sejarah seperti Masjid Raya, vihara, dan Rumah Marga Tjia memberikan impresi mendalam bagi anak-anak muda.

Baca Juga :  RUPSLB PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk 2025: Pelaksanaan Reklamasi dan Perubahan Susunan Pengurus Perseroan

“Kita mendapatkan wawasan antarkota ( insight inter-city ), jalan, saling bertukar pikiran, belajar tentang konsep kota yang profesional dengan cara dan pembawaan yang gaya generasi Z ( gen-Z ) banget. Hal yang berat diolah jadi hal yang enak dibicarakan dengan gaya orang muda,” tutur salah satu peserta.

Peserta lain dari kalangan muda juga menambahkan, “Sebagai orang muda kota Singkawang, kegiatan ini sangat membuka mata saya tentang kota saya sendiri.”

Inisiatif ini turut dilengkapi dengan Pameran Foto Kebudayaan Kota Kita serta penyusunan citra kota ( city branding ) yang berbasis pada karakter asli masyarakat. Kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan aspek penataan, regulasi, dan keberpihakan anggaran diharapkan menjadi pijakan utama bagi setiap daerah untuk terus bertumbuh secara tangguh tanpa kehilangan jati dirinya.

Mampukah kota tempat tinggal Anda menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi yang kian kencang? Mari bersama kita jaga identitas, rawat tradisi, dan jadikan kebudayaan sebagai napas kehidupan menuju masa depan kota yang lebih berdaya! (Gdi)